Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 103 Provokasi



Untuk sekian kalinya Pangeran Rodigero menghela nafas kasar. Padahal ini adalah kesempatan untuk mendekati Ratu Rushi disaat semua orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Namun ia tidak sadar karena wanita itu sudah ada di belakangnya. Begitu menoleh dan melihat Ratu Rushi, ia langsung jongkok dan menyembunyikan wajahnya.


Ratu Rushi menghela nafas panjang. Ia pun mengulurkan bbq kepada Pangeran Rodigero. ‘’Hanya kau yang belum mendapatkan bagian.’’


Dengan pelan Pangeran Rodigero mendongakkan kepala sambil mengaktifkan mode cute. Ratu Rushi yang melihat hal itu merasa jantungnya seperti terkena panah.


Kawaii, kata Ratu Rushi dalam hati.


Tangan Pangeran Rodigero terulur mengambil bbq tadi sambil membuang wajah. Ragu-ragu ia menggigit bagian pertama, membuatnya langsung berdiri dengan wajah girang. ‘’Ini sangat enak!’’


Namun, ia kembali lesu dan jongkok dengan wajah kasihan. Ratu Rushi mengerutkan dahi melihat tingkah pria itu.


‘’Bukankah kau seharusnya mengatakan sesuatu kepadaku?’’ tanya Ratu Rushi.


Pangeran Rodigero berdiri dan langsung menarik wanita itu pergi. Tindakan secara tiba-tiba itu membuat Ratu Rushi sedikit terkejut dan meminta penjelasan.


Akan tetapi, Pangeran Rodigero tidak mendengar dan tetap menarik Ratu Rushi membuat wanita itu menepis tangannya.


‘’Kau mau membawaku ke ma—‘’ ucapan Ratu Rushi terhenti saat melihat pemandangan di depannya.


Terlihat 16 danau bertingkat yang membentang berwarna zamrud dan turquoise. Air jernih yang mengalir di atas batu dan kapur menciptakan panorama alam yang menakjubkan. Bahkan terdengar jelas deru gemuruh air terjun yang jatuh menghantam batu.


Air terjun terbesar, tertinggi dan terindah yang juga diselimuti kabut. Tentu saja air terjun bak dongeng tersebut sangat memanjakan mata, dengan butiran salju yang turun sebagai pelengkap. Apalagi sinar rembulan menyinarinya membuat Ratu Rushi terdiam membisu.


‘’Pangeran Rodigero, ini….’’


‘’Saya berani mengusulkan lokasi liburan, karena salah satu tempat di dekat pantai tadi terdapat air terjun ini. Keindahan yang sama dimiliki oleh Yang Mulia, saya sangat ingin memperlihatkan pemandangan ini kepada Anda,’’ kata Pangeran Rodigero.


Pangeran Rodigero menunduk dan meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat waktu itu. Terlihat jelas penyesalan dari wajahnya membuat Ratu Rushi menghela nafas.


‘’Hem! Karena sudah memperlihatkan hal menakjubkan seperti ini, aku akan memaafkan kesalahanmu,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Sungguh?! Saya sangat senang Yang Mulia,’’ girang Pangeran Rodigero langsung melahap bbq di tangannya.


‘’Kau belum memakannya sejak tadi? Heh,’’ habis pikir Ratu Rushi.


......................


Pantai


Raja Raion tidak henti-henti menatap ke dalam hutan dengan wajah risau. Ia sempat melihat Pangeran Rodigero langsung menarik Ratu Rushi entah kemana. Putri Rukaia yang juga sempat melihatnya, menggunakan kesempatan baik ini. Kebetulan hanya ada mereka berdua yang duduk di depan api unggun.


‘’Maaf jika hamba lancang Yang Mulia Raja. Tapi, menurut pengamatan saya, sepertinya kakak dan Pangeran Rodigero sangat dekat. Saat kakak di pengasingan, hanya Pangeran Rodigero yang selalu bersamanya,’’ kata Putri Rukaia.


Raja Raion langsung menoleh dengan wajah terkejut. ‘’Bagaimana Anda bisa tahu?’’


Putri Rukaia yang menyadari kecerobohannya hanya tersenyum kaku. ‘’Se-Semua membicarakannya. Orang-orang di desa tahu betul bagaimana kedekatan mereka berdua. Jika Yang Mulia tidak percaya, silahkan tanyakan kepada warga. Selain itu, semenjak kakak kembali ke istana, dia selalu saja memperlakukan Yang Mulia Raja begitu kasar.’’


Di saat bersamaan, Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero datang sambil tertawa.


‘’Maaf jika saya mengatakan hal ini, sepertinya kakak membenci Yang Mulia dan lebih menyukai Pangeran Rodigero. Buktinya, kakak tidak pernah sesenang itu jika bersama dengan orang la—‘’ ucapan Putri Rukaia terpotong saat Raja Raion berdiri lalu bergegas pergi.


Ia tersenyum remeh sambil menatap api di depannya. ‘’Sedikit percikan saja sudah cukup bisa membakar satu wilayah. Aku hanya perlu memberi percikan terus sampai api kemarahan Yang Mulia melahap kakak hingga tidak ada satu pun orang yang bisa memadamkan apinya.’’