Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 162 Bidikan



Pavilion


Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero bertemu di pavilion sekitar muara sungai. Pertemuan mendadak di malam hari seperti ini, membuat keduanya sudah menduga kalau hal itu pasti ulah Siruverash lagi. Mereka tidak mengerti, mengapa harus bertemu di waktu jam tidur saat ini.


‘’Beberapa jam yang lalu, Yang Mulia disuruh menghadap ke Ratu Agung. Apa kau tidak dipanggil?’’ tanya Ratu Rushi.


Pangeran Rodigero menggeleng. ‘’Saya tidak tahu kalau kakak disuruh menghadap. Saya hanya ada di kamar terus setelah makan malam selesai.’’


‘’Lalu kenapa paman mempertemukan kita berdua di sini?’’ bingung Ratu Rushi meletakkan tangannya di dagu.


Saat itu juga beberapa panah langsung mengenai Pangeran Rodigero. Ratu Rushi tersentak dan menatap ke sekeliling untuk menemukan pemanah tersebut. Namun, ia tidak bisa melihat di tengah kegelapan. Dahinya berkerut karena semua penerang dari istana tiba-tiba mati.


Bugh!


‘’Pangeran Rodigero!’’ pekik Ratu Rushi menghampiri tubuh pria yang terjatuh tadi.


Matanya membulat besar melihat salah satu panah menancap di jantung Pangeran Rodigero. ‘’Tidak!!’’


Ia pun langsung mencabut panah di bagian jantung pria itu. Kedua tangannya bahkan sudah dipenuhi darah, membuatnya segera menyelamatkan Pangeran Rodigero.


Brack!


Pangeran Rodigero memuntahkan darah sambil memegang kedua tangan Ratu Rushi. ‘’Ya-Yang Mulia … Uhuk! Anda ha-rus sege-ra pergi d-ari sini! Yang Mu-lia te-lah dije-bak, uhuk!’’


Ratu Rushi menggeleng dengan tangan gemetar sambil. Kedua matanya bahkan sudah berair sambil menghentikan darah yang mengalir dari jantung Pangeran Rodigero. Tapi sepertinya ia harus memanggil bala bantuan membuatnya berdiri dan berjanji akan menyelamatkan pria itu. ‘’Bertahanlah! Aku segera kembali!’’


Deg!


Langkahnya langsung terhenti begitu melihat semua orang sudah ada di depan pavilion. Padahal sejak tadi tidak ada satu pun orang di sana. Mengapa mereka semua tiba-tiba ada di depannya.


Putri Rukaia membengkap mulut dengan mata melotot. ‘’Pangeran Rodigero telah dihabisi.’’


Ratu Agung menganga karena terkejut bukan main. Ia pun langsung menatap Ratu Rushi penuh amarah. ‘’Yang Mulia! Kenapa Anda menghabisi Pangeran Rodigero?!’’


‘’Eh? Ti-Tidak, itu tidak benar. Aku tidak menghabisinya,’’ kata Ratu Rushi.


Ratu Rushi mengepalkan tangan sambil berdecih. Dengan wajah tertahan, ia menatap pamannya dengan sorot mata tajam. ‘’Aku tidak menghabisi Pangeran Rodigero atau berniat melarikan diri. Kami berdua dijebak!’’


‘’Dijebak? Yang Mulia sangat pintar memutarbalikkan fakta, ya?’’ tanya Siruverash.


‘’Memangnya Paman memiliki bukti kalau aku memutabalikkan fakta?’’ tanya Ratu Rushi.


Siruverash tersenyum. Ia pun menoleh sedikit dan memerintahkan seseorang untuk muncul.


Ratu Rushi manatap sosok pria yang menampakkan diri dari belakang rombongan orang tadi. Saat itu juga matanya membulat besar. ‘’Eh? Kenapa Washi ada di sini?’’


Ratu Agung memperlihatkan gulungan kertas yang sering dikirim oleh Ratu Rushi kepada Pangeran Rodigero. ‘’Ini adalah bukti kuat yang dibawa oleh Washi kepada kami. Awalnya semua orang tidak percaya. Yang Mulia Raja bahkan menganggap Anda sedang dijebak. Tapi, melihat Anda menghabisi Pangeran Rodigero, membuat kami percaya. Ratu Rushi … Ternyata Anda sudah merencanakan ini diam-diam di belakang kami.’’


‘’Yang Mulia ingin merebut semua hati orang agar bisa menghancurkan Kerajaan Aslan dan mengambil alih takhta Raja. Kakak benar-benar orang yang sangat rakus akan kekuasaan,‘’ kata Putri Rukaia.


Kenapa hanya ada surat yang mengatasnamakan diriku? Bukankah kami berdua dikirimi dua gulungan? Di mana surat yang mengatasnamakan Pangeran Rodigero? Cih, kata Ratu Rushi dalam hati.


Ia pun menatap Raja Raion yang juga memandanginya dengan wajah sendu. Tangannya mengepal karena pria itu juga memperlihatkan keraguan di wajahnya. ‘’Percayalah, aku tidak membunuh adikmu.’’


Dengan wajah tertahan, Raja Raion memerintahkan para prajurit untuk menyeret Ratu Rushi. Namun, wanita itu langsung berbalik dan menarik tubuh Pangeran Rodigero agar sedikit berdiri.


‘’Tidak peduli sekeras apa aku menjelaskan kebenarannya, tapi tidak ada yang mempercayaiku. Kalian menuduhku sebagai pembunuh, kan? Baiklah. Aku akan mengikuti alur kalian semua,’’ kata Ratu Rushi.


Semua orang melotot saat melihat wanita itu mendorong tubuh Pangeran Rodigero ke bawah.


Byur!


‘’Ratu Rushi!!’’ seru Raja Raion melihat tubuh adiknya terbawa arus sungai yang deras.


Ratu Rushi tersenyum remeh. ‘’Barulah aku sekarang menjadi pembunuh seperti yang kalian katakan.’’


‘’Seret wanita ini sekarang juga!’’ marah Ratu Agung.