Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 90 Pelajaran



Kujaku dalam wujud merak putih tadi menurunkan ekornya membuat dirinya semakin lebih gagah. Ia pun menundukkan kepala dan meminta ampun sebelumnya karena terlambat mengucapkan selamat kepada Ratu Agung.


‘’Semoga Yang Mulia Ratu Agung diberkahi panjang umur, keselamatan, dan kejayaan. Hamba mengucapakan selamat ulang tahun kepada Yang Mulia Ratu Agung,’’ kata sang merak putih dengan kepala munuduk.


Ratu Agung tersenyum dan berterima kasih. Tidak lupa kepada Ratu Rushi yang semakin bijak sampai memberikan kesempatan kepada satu orang untuk tampil dan memberinya ucapan. Putri Rukaia memutar bola matanya malas karena adegan yang terlalu membosankan itu.


‘’Kalau begitu, Ratu Agung pasti sudah memilih siapa di antara mereka yang paling terindah dan terbaik,’’ senyum Ratu Rushi.


‘’Tentu saja. Melihat ketulusan hatinya, saya sangat menyukai merak putih itu di antara semuanya. Dia pantas diberikan hadiah,’’ kata Ratu Agung.


Ia pun melepaskan cincin berlian ditangannya, dan menyuruh salah satu prajurit menyerahkannya.


Sang prajurit meletakkan cincin tersebut di depan merak putih itu.


‘’Berlian memiliki sifat istimewa terutama kekerasaannya dan kemampuannya menguraikan cahaya. Sama seperti berlian putih yang tidak memiliki warna ini, kau tidak merasa malu untuk tampil dan menggunakan kekurangan itu sebagai kelebihan yang membuatmu bersinar,’’ kata Ratu Agung.


Kujaku sangat berterima kasih karena beruntung menerima hadiah yang diberikan langsung kepada Ratu Agung.


‘’Udara semakin dingin, tidak baik berada di luar ruangan terlalu lama. Kepala Pelayan Eris dan yang lainnya akan mengantar Ratu Agung kembali ke kediaman sambil hidangan ini,’’ kata Ratu Rushi.


Lalu kenapa memanggil kami berdua untuk mencicipi hidangan itu kalau akan dibawa kembali ke kediaman Ratu Agung?! Kakak ini sengaja membuatku kesal, gerutu Putri Rukaia dalam hati.


Menyuruh kami membawanya ke kediaman Ratu Agung, lalu kenapa menyuruh kami membawanya ke aula ini? Ratu Rushi sengaja merepotkan kami semua, ya? Wanita ini, kata Eris dalam hati.


Sedangkan Ratu Rushi yang tahu wanita-wanita itu sedang menggerutu dalam hati, hanya tersenyum puas sambil memberi hormat kepada Ratu Agung.


Melihat orang-orang bubar, membuat sekelompok merak tadi juga hendak meninggalkan aula.


‘’Oho! Kalian mau ke mana? Aku belum menyuruh kalian pergi dari sini!’’ kata Ratu Rushi membuat sekelompok merak tadi diam di tempat.


‘’Aku bisa mencium aroma hidangan ini Yang Mulia. Tapi apa yang akan kita lakukan di sini? Ratu Agung sudah pergi,’’ bingung Hana.


‘’Tentu saja makan santai di tempat terbuka. Aku juga ada urusan dengan mereka,’’ kata Ratu Rushi.


Ia pun memanggil Kujaku. Tidak lama kemudian, merak putih itu berubah menjadi manusia dengan bagian tubuh yang dibaluti perban, dan berjalan menghampiri Ratu Rushi.


‘’Apa kau sudah merasa lebih baik?’’ tanya Ratu Rushi.


Kujaku mengangguk tanpa mengatakan apa pun, membuat Yagyu menegurnya sehingga pria itu langsung bersujud ke tanah karena ketakutan. Ratu Rushi menegur Yagyu untuk tidak membuat Kujaku merasa takut, lalu menyuruh pria setengah merak tadi berdiri.


‘’Kalian dari ras merak yang sama, kan? Apakah mereka adalah teman-temanmu?’’ tanya Ratu Rushi.


Yang Mulia membawaku dan mengobatiku secara langsung. Selama ini tidak ada satu pun yang menerima keberadaanku. Aku juga dijauhi karena memiliki penyakit kelainan. Orang-orang hanya diam saat aku dirundung. Tapi, untuk pertama kalinya ada seseorang yang menolongku, dan itu adalah Ratu Rushi, kata Kujaku dalam hati.


Untuk sesaat, Kujaku terdiam hingga akhirnya buka mulut. ‘’Tidak Yang Mulia. Kami sama sekali tidak memiliki hubungan sedekat itu.’’


Terukir senyuman di bibir Ratu Rushi setelah mendengar ucapan pria tadi. ‘’Benar juga. Tidak mungkin kalian memiliki hubungan dekat seperti itu sampai mereka memukulimu habis-habisan.’’


Sekelompok merak tadi langsung berubah menjadi manusia. Dengan wajah tegang, mereka bersikap baik untuk memberi penjelasan. Kujaku merasa jijik melihat mereka bertingkah seperti penjilat.


Ratu Rushi mulai merasa bosan, membuat sekelompok orang itu berubah menjadi merak. Sebelah alisnya terangkat. ‘’Aku belum memberi perintah. Kalian segitunya ingin menghiburku, ya? Baiklah.’’


Ia terdiam untuk sesaat. ‘’Cabut bulu-bulu merak itu sampai tidak tersisa satu pun! Jika mereka melakukan perlawanan, langsung habisi saja.’’


Deg!


Semua orang terkejut terutama Kujaku. Tanpa membuang waktu, Yagyu dan yang lainnya menghampiri sekelompok merak tadi.