
Keesokan harinya…
Putri Rukaia yang selalu datang berkunjung untuk merebut hati Ratu Agung, kini memandangi wanita itu yang sibuk sejak tadi memandangi patung phoenix dari balkon. Biasanya Ratu Agung akan duduk bersamanya dan berbincang, tapi kali ini wanita itu mengabaikannya sejak datang ke ruangan.
‘’Mohon maaf Ratu Agung, tehnya akan dingin jika tidak segera mencicipinya,’’ kata Putri Rukaia.
Namun, sudah kesekian kalinya Ratu Agung tidak mendengar, membuat Putri Rukaia mengepalkan tangan.
Apakah wanita tua bodoh ini tuli?! Sejak tadi aku mengajaknya bicara tapi dia sama sekali tidak mendengar. Selain itu, apakah dia tidak bosan memandangi patung itu selama 4 jam? Ini sudah hampir siang, gerutunya dalam hati.
Tidak lama kemudian, Hana datang atas suruhan Ratu Rushi membuat Ratu Agung menoleh, sedangkan Putri Rukaia tersenyum remeh.
Hanya dalam sekali bicara, wanita tua tuli ini langsung mendengar, terlebih lagi itu karena kakak, kata Putri Rukaia dalam hati.
‘’Hamba memberi salam. Saat ini Yang Mulia menunggu Ratu Agung di aula. Yang Mulia juga ingin Putri Rukaia datang ke sana,’’ kata Hana.
Ratu Agung dan Putri Rukaia saling memandang satu sama lain dengan wajah bingung.
......................
Aula
Ratu Agung menatap sekelompok merak yang sudah berada di tengah aula. Ia menatap Ratu Rushi dan meminta penjelasan. Wanita itu mengatakan akan menyuruh sekelompok merak tersebut menampilkan tarian sekali lagi.
‘’Tapi Yang Mulia, bukankah kita sudah melihat pertunjukan mereka kemarin malam?’’ tanya Ratu Agung.
Ratu Rushi tersenyum. ‘’Itu benar Ratu Agung. Namun masih ada satu orang yang sangat ingin mengucapkan selamat kepada Anda, tapi dia tidak bisa melakukannya kemarin, jadi saya mengadakan ini untuknya. Selain itu, saya juga menyiapkan hidangan untuk Ratu Agung dan Putri Rukaia.’’
Ratu Rushi pun mempersilahkan Ratu Agung duduk sambil menyuruh para pelayan untuk membawa hidangan. Tentu saja, pelayan yang diutus tidak lain adalah Eris, Riaz dan Zena. Dan bisa ditebak bagaimana raut wajah ketiga pelayan itu yang terpaksa menerima perintah Ratu Rushi untuk melayani Ratu Agung.
‘’Sebelum mereka menampilkan tarian, bawa orang itu kemari!’’ perintah Ratu Rushi.
Begitu pintu terbuka, semua orang menoleh melihat seekor merak putih masuk. Sekelompok merak tadi langsung merasa tidak suka melihat kedatangannya. Ratu Agung sedikit terkejut melihat seluruh tubuh merak itu berwarna putih.
‘’Dia akan ikut bersama yang lainnya untuk menari. Tapi sebelum itu, saya ingin Ratu Agung memilih siapa di antara mereka yang terbaik dan tercantik,’’ kata Ratu Rushi.
Kakak ini terlalu bodoh, ya? Sudah jelas Ratu Agung akan memilih sekelompok merak yang berwarna warni itu dibandingkan yang putih kusut ini, kata Putri Rukaia dalam hati.
Meski pun sekelompok merak tadi tidak sudi menerima merak putih itu, mereka terpaksa menari bersama. Berbeda dengan kemarin malam, pola lantai mereka baru terlihat sempurna setelah semua jumlah anggota lengkap.
Tibalah waktu yang telah ditunggu-tunggu dimana sekelompok merak itu melebarkan sayap mereka menyerupai kipas.
Mereka mendorong Kujaku ke belakang agar tidak membiarkannya melebarkan ekor. Sayang sekali, karena itu sangat pas untuk jantan yang memiliki ekor panjang seperti dirinya, kata Ratu Rushi dalam hati.
Merak putih yang berada di paling belakang pun melebarkan ekornya dari sisi ke sisi sehingga membentuk kipas. Sekelompok merak yang ada di depan menoleh karena merasa ada kilauan. Mereka terdiam melihat merak putih itu mengibaskan ekornya.
Dengan percaya diri, sang merak putih berjalan ke depan dan menarik perhatian semua orang. Ekor dari sang merak putih sangat indah dan mengagumkan sehingga membuatnya menjadi paling indah.
Ratu Agung dan Putri Rukaia tercengang melihat merak putih itu mengibaskan ekornya di siang hari ini. Ekor yang tampak berkilauan karena terdapat kristal-kristal kecil pada bulu sehingga mampu memberikan keindahan yang lebih cantik, dan itulah puncak dari keindahan Kujaku.
Hewan albino tidak mampu terkena sinar matahari, karena akan mengalami kanker kulit. Begitu juga dengan manusia yang mengalami albinisme, mereka cenderung berdiam diri dirumah untuk menghindari radiasi dari sinar matahari. Tapi saat ini musim dingin, dan ini adalah kesempatan yang paling pas menggunakan sinar matahari di waktu siang ini kepadanya, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Warna putih selalu dikenal sebagai lambang kesucian. Inilah kebenaran dari keindahan dirinya,’’ senyum Ratu Rushi.