Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 134 Serangan 3 Detik



Beberapa hari kemudian…


Seperti yang diceritakan Kamereon, penjara tersebut memiliki halaman penghancur batu, kafetaria dan sel penjara. Banyak kegiatan yang dilakukan seperti menghancurkan batu, mengangkat beban, membuat kawat gantungan baju, dll.


Ratu Rushi menatap tahanan lainnya yang juga sedang memecahkan batu dan mengangkat beban. Ternyata hanya ia satu-satunya tahanan wanita di tempat tersebut. Semua tahanan bahkan menatapnya dengan sorot mata tajam.


‘’Ini pertama kalinya mereka melihat tahanan wanita, jadi tidak usah pedulikan mereka,’’ kata Kamereon.


Wanita itu hendak mengumpulkan batu yang sudah dihancurkan, tapi tiba-tiba seseorang menendangnya.


‘’Apa yang kau lakukan?! Beraninya menendang Yang Mulia!’’ tegur Kamereon.


Pria berambut cokelat yang menendang Ratu Rushi tadi hanya tersenyum remeh. ‘’Yang Mulia? Di tempat ini semua orang rata, jadi kenapa kami harus menganggapnya sebagai Ratu?’’


Wani yang cepat emosi berniat menghajar pria tadi, namun dihentikan oleh Ratu Rushi. Ia menatap wanita itu berdiri sambil membersihkan pakaiannya.


‘’Kalian ada masalah denganku?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Wow, lihat wanita ini? Dia bertanya seolah-olah bisa melawan kita. Ya, untuk seorang Ratu yang bermanja-manja di istana, tentu saja pasti akan sombong seperti ini,’’ kata pria berambut cokelat.


Ratu Rushi menatap pria itu yang lebih berani dibandingkan yang lainnya. Sikap semena-mena dan cara bicaranya yang belagu, membuatnya mengerti kalau pria tersebut pasti pemimpin para tahanan. Ia juga mengingat ucapan Kamereon yang mengingatkannya untuk tidak mencari masalah dengan pria bertubuh tinggi berambut cokelat.


Jadi pria ini yang dimaksud Kamereon? Beberapa hari ini aku sudah memantaunya, ucapnya dalam hati.


Ia menatap pria berambut cokelat yang saat ini menghinanya habis-habisan. ‘’Kau tidak bisa diam, ya?’’


‘’Ha?! Kau bilang apa? Aku tidak dengar,’’ kata pria berambut cokelat.


Ratu Rushi mundur 7 langkah dari pria tadi. Ia melompat-lompat dengan irama sedang sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Orang-orang yang melihatnya hanya bingung.


Sebelah alis pria berambut cokelat terangkat sambil tersenyum remeh. ‘’Kau ingin menyerangku dari jarak sejauh itu? Puff, jangan membuatku tertawa!’’


Kamereon berdecih begitu melihat pria tadi menghampiri Ratu Rushi sambil melayangkan tinjunya. ‘’Dia benar-benar tidak memandang bulu.’’


Wani berontak sekuat tenaga sampai akhirnya terlepas dari Kamereon. Ia pun segera berlari menghampiri Ratu Rushi.


‘’Dwi Chagi,’’ kata Ratu Rusi.


Kakinya langsung terhenti saat melihat wanita itu berputar membentuk sudut 90 derajat ke arah belakang. Lalu mengangkat lutut kemudian menyentakkan kaki ke ulu hati pria berambut cokelat.


‘’Ap Chagi,’’ kata Ratu Rushi.


Ia mengangkat lutut dan kaki kanannya ke pinggang, lalu mengerahkan kekuatan penuh dan menendang lurus ke depan sehingga mengenai dagu pria berambut cokelat.


Ratu Rushi memutar badan 360 derajat layaknya tornado yang melayangkan tendangan ke arah kepala di bagian akhir menggunakan punggung kaki. ‘’Huu … Dolke Chagi.’’


Semua orang menganga terutama Kamereon dan Wani. Mereka menatap pria berambut cokelat tadi yang sudah K.O di tanah, lalu beralih ke Ratu Rushi sambil menelan saliva.


Wani kembali mengingat semua ucapan buruknya kepada Ratu Rushi. Bahkan tidak tanggung-tanggung memperlakukan wanita itu dengan kasar. Melihat pria tadi yang hanya mendorong Ratu Rushi dan sudah mendapatkan serangan mematikan, bagaimana dengan dirinya yang memperlakukan wanita itu dengan kasar saat di pulau.


Sangat bersyukur karena tubuhku masih utuh sampai saat ini, ucapnya dalam hati.