
Sosok itu tersenyum. ‘’Long time no see … Minna wa gokigen wa ikaga desuka(Bagaimana kabar semuanya)?’’
Layaknya sebuah patung, semua orang masih terpaku dan diam membisu di tempat saat melihat sosok wanita tadi berjalan menghampiri.
‘’Hhah! Hantu!’’ pekik salah satu petinggi membuat langkah wanita tadi berhenti di depannya.
Wanita itu mengerutkan dahi tanda kesal sambil menoleh ke arahnya secara perlahan. Saat itu juga ia menampar pria itu membuat semuat orang terkejut. ‘’Aku belum mati, seenaknya saja memanggilku hantu.’’
‘’Ratu Rushi? Tidak mungkin,’’ kata Ratu Agung.
Wanita yang tidak lain adalah Ratu Rushi itu menoleh ke arah Siruverash sambil tersenyum. ‘’Ara? Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul? Apakah ada sebuah perayaan?’’
Raja Raion langsung menjatuhkan mahkota di tangannya dengan tampang tidak percaya. Hal itu membuat Ratu Rushi langsung memukul lengan pria itu.
‘’Eish ... Yak?! Beraninya kau menjatuhkan mahkota-ku di pertemuan pertama kita,’’ kesal Ratu Rushi.
Saat itu juga Raja Raion tersadar dan mengingat kemampuan bela diri Ratu Rushi. Dengan cepat ia mengambil mahkota tadi lalu meletakkannya di atas nampan beralaskan kain. Semua yang melihatnya hanya melongo. Setelah memukul sang Raja lalu membuatnya memungut benda yang jatuh ke tanah.
Raja Raion menatap Ratu Rushi dengan mata memerah. ‘’Apakah ini nyata?’’
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. Ia pun mengulurkan kedua tangannya lalu mencubit kedua pipi pria itu membuat semua orang sekali lagi terkejut bukan main.
Melihat sikap berani dari wanita itu membuat Raja Raion yakin kalau sosok di hadapannya itu benar-benar Ratu Rushi. Ia pun langsung memeluk erat wanita itu, membuat Ratu Rushi terbelalak. Pangeran Rodigero yang melihatnya hanya menggigit bibir bawah sambil memasang wajah sendu.
Ia pun mendorong sang Raja dan berdehem. Di saat bersamaan Ratu Agung juga menghampirinya.
‘’Ini bukan mimpi, kan? Saya tidak berhalusinasi, kan? Anda benar-benar Yang Mulia, kan?’’ tanya Ratu Agung memegang tangan Ratu Rushi.
‘’Tentu saja ini bukan mimpi. Buktinya Ratu Agung bisa menyentuh tangan saya secara langsung,’’ senyum Ratu Rushi.
Ratu Agung langsung menangis terharu. ‘’Tapi bagaimana mungkin? Kami semua melihat Anda diterkam binatang buas itu.’’
Ratu Rushi tersenyum dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Ia memberitahu semua orang kalau reptil itu tidak menerkamnya, melainkan melindunginya dari meriam api. Dan karena hal itu juga ia harus membayar harga yang mahal. Sang buaya yang menyelamatkannya telah tiada karena menerima luka serius dari meriam api. Ratu Agung yang mendengarnya merasa berduka.
‘’Kalau selama ini Yang Mulia masih hidup, kenapa Anda tidak menampakkan diri?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Ratu Rushi sedikit menoleh dengan sebelah alis terangkat. ‘’Itu karena memberi kejutan tanpa terduga jauh lebih menarik, daripada melenyapkan seseorang secara diam-diam.’’
Berbeda dengan semua orang yang tidak mengerti dengan maksud ucapan wanita itu, Pangeran Rodigero menatap Siruverash karena mengerti sindiran tadi ditujukan kepadanya.
Siruverash yang mendengarnya langsung mengepalkan tangan dengan wajah kusut. Di saat bersamaan, wajahnya berubah dengan terukir senyuman. ‘’Syukurlah Yang Mulai masih hidup sampai saat ini. Kebetulan sekali karena Putri Rukaia baru saja bertunangan dengan Yang Mulia Raja. Saya harap Anda bisa memberkati pertunangan adik Yang Mulia sendiri.’’
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Mereka hanya bertunangan dan belum menikah. Kenapa aku harus memberkatinya?’’