
Ratu Agung terpaku melihat pakaian tersebut, lalu menatap Raja Raion dengan tatapan tidak percaya. Tanpa mengucapkan apa pun, ia hanya membengkap mulut dengan tangan gemetar.
‘’Saya tidak bisa menemukan mayat Ratu Rushi, dan hanya menemukan ini mengambang di laut,’’ kata Raja Raion.
Putri Rukaia langsung jatuh terduduk sambil membengkap mulut disertai tangisan. ‘’Kakak benar-benar telah tiada. Tidak, tidak, ini tidak mungkin. Kenapa ini harus terjadi? Padahal aku memiliki keyakinan kalau kakak masih hidup, hiks….’’
Bagus sekali. Melihat pakaian itu dipenuhi darah, maka sudah dipastikan kakak telah tiada. Buaya itu memakannya hidup-hidup. Humphehe, hahaha! Haa, sebentar lagi aku akan menjadi ratu yang sah, ucapnya dalam hati.
‘’Hiks, Paman … Kakak telah tiada. Bagaimana saya bisa hidup tanpa dirinya?’’ tangis Putri Rukaia.
Siruverash mengelus bahu keponakannya itu agar tabah. Ia sama sedihnya dan terpukul. Ratu Agung dan yang lainnya merasa iba kepada kedua orang itu. Raja Raion hanya memejamkan mata sambil mengepalkan tangan, begitu juga Pangeran Rodigero yang sama menyesalnya. Sedangkan Tora hanya bisa menunduk sedih.
Tanpa mereka sadari, senyuman miring terukir di bibir Siruverash.
Untuk mencapai tujuan yang besar harus dilakukan dengan usaha yang besar juga. Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang saya terima karena kalian. Setelah pondasi dasar(Raja sebelumnya) dan tiangnya(Ratu Rushi) disingkirkan, maka yang menanti di depan hanyalah sebuah kehancuran, ucapnya dalam hati.
......................
Bugh
Tongkat yang dipegang Licy terjatuh bersamaan dirinya. Rasanya sangat mustahil mempercayai cerita Kitsune dan yang lainnya mengenai Ratu Rushi. Ia menggeleng dan membantah pernyataan itu dengan sangat yakin bahwa Ratu Rushi tidak mungkin meninggal.
‘’Raja menemukan pakaian Yang Mulia terombang-ambing di atas laut yang dipenuhi darah. Saat itulah, kami yakin kalau Yang Mulia memang sudah benar-benar tiada,’’ sedih Mozaru.
‘’Tidak. Yang Mulia berjanji kepada saya kalau setelah kembali dari liburan, Yang Mulia akan pulang. Saya pasti sedang bermimpi buruk. Siapapun, tolong bangunkan saya,’’ kata Licy terisak.
Licy menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil mencium tanah. Padahal, baru beberapa hari ia bertemu dengan Ratu Rushi, tapi sekarang malah mengalami hal ini. ‘’Yang Mulia … Yang Mulia … Yang Mulia!’’
......................
Ratu Rushi yang baring langsung bangkit dan menatap ke arah luar goa. Wani yang menambahkan kayu bakar ke api unggun hanya mengerutkan dahi. Begitu juga dengan Taka yang baring sambil memainkan tangannya di atas.
"Ada apa?" tanya Wani.
"Aku hanya merasa ada yang seperti memanggilku," jawab Ratu Rushi.
Taka yang mendengarnya langsung menoleh. "Memangnya kau memiliki pendengaran yang tajam sampai bisa mendengar sesuatu dari jarak seperti ini? Hhah? Jangan-jangan kau manusia setengah kelelawar yang menyamar menjadi makhluk berkaki dua."
"Ha? Bukan manusia saja yang berkaki dua, tapi semua makhluk," kata Ratu Rushi.
"Tapi dia memiliki empat kaki," kata Taka menunjuk manusia setengah buaya di sampingnya.
Ratu Rushi menghela nafas panjang sambil memasang wajah bodoh. "Di dalam kepalamu itu memang isinya apa sampai berpikir seperti itu?"
"Tentu saja otak, apa lagi?" tanya Taka dengan wajah polos.
"Heh, sungguh ... Dia benar-benar 11 12 dengan Shika," kata Ratu Rushi kembali baring.
"11 12? Kenapa bukan 10 11 atau 12 13?" tanya Taka.
"Whatever," kata Ratu Rushi.