
‘’Dasar pria penipu! Manusia kepala tulang! Hm~ di mana aku pernah mendengarnya, ya?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Yagyu dan Shika hanya tersenyum kaku dengan wajah tegang.
‘’Ahaha! Aku juga pernah mendengarnya, tapi di mana? Orang yang mengatakan hal kasar seperti itu benar-benar tidak berotak,’’ kekeh Shika.
‘’Kau benar! Stt, sangat tidak sopan mengatakan hal buruk kepada Pangeran Rodigero kita,’’ kata Yagyu.
Pangeran Rodigero menghela nafas berat. ‘’Menyeretku keluar, menyuruhku pergi dan melarangku datang, bahkan mengataiku dengan kasar. Aa~ perasaanku benar-benar terluka. Sepertinya aku harus memberikan kalian hukuman mati.’’
‘’Hii! Hiks, Yang Mulia?’’ panggil Yagyu dan Shika dengan tampang ingin menangis.
Ratu Rushi menghela nafas. ‘’Rodigero, berhentilah menggoda mereka. Lihat, kulit mereka sampai sepucat itu.’’
‘’Hihi, baiklah. Aku hanya bercanda. Bangunlah,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Eh? Pangeran Rodigero sungguh tidak marah?’’ tanya Shika.
‘’Tapi kami melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan,’’ kata Yagyu.
‘’Kalau begitu, kalian ingin aku memberi hukuman mati?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Yagyu dan Shika dengan cepat menggeleng dan meminta maaf. ‘’Kami akan menghormati Anda seumur hidup. Pangeran Rodigero! Banzai!’’
Pangeran Rodigero dengan percaya diri, berdiri di atas meja sambil kedua pria tadi memujanya dari bawah. Ratu Rushi yang melihat pemandangan itu hanya memasang wajah bodoh.
‘’Apakah harus sedramatis itu?’’ tanya Ratu Rushi.
Tidak lama kemudian, Yagyu dan Shika langsung melayani Pangeran Rodigero. Memberinya buah sambil mengipas untuknya.
‘’Sekarang aku mengerti saat Pangeran Rodigero memberi 1000 koin emas kepada kita hari itu,’’ kata Shika.
‘’Tapi Pangeran Rodigero tidak perlu menghamburkan uang sebanyak itu untuk kami,’’ kata Yagyu.
‘’Apa maksud kalian? Itu belum seberapa bagiku,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Be-Belum seberapa? 1000 koin emas itu setara kebutuhan makan selama satu tahun,’’ kata Shika.
Yagyu, Shika dan Usagi menela saliva dengan wajah yang tidak bisa digambarkan. ‘’U-Uang jajan kecil? Heh, ehe….’’
Ratu Rushi yang juga mendengarnya hanya tersenyum dengan wajah bodohnya. ‘’I know what u mean guys.’’
......................
Matahari terbenam dengan langit yang akan menjadi gelap sebentar lagi. Ratu Rushi menyuruh Pangeran Rodigero untuk kembali ke istana, serta menegur pria itu agar tidak meninggalkan istana tanpa izin.
‘’Kali ini aku tidak diusir, ya?’’ tanya Pangeran Rodigero.
‘’Pangeran Rodigero, berhentilah membuat kami malu,’’ kata Shika.
‘’Apakah Pangeran Rodigero tidak membawa pengawal?’’ tanya Yagyu.
‘’Kalau begitu, kalian harus mengawal Pangeran Rodigero ke is—‘’
‘’Itu tidak perlu Yang Mulia. Terima kasih sudah mencemaskanku. Aku bisa kembali seorang diri,’’ kata Pangeran Rodigero memotong ucapan.
Ratu Rushi hanya mengangguk, hingga akhirnya Pangeran Rodigero berjalan pergi.
‘’Segeralah kalian menutup rumah makan ini!’’ perintah Ratu Rushi membuat ketiga pria itu mengangguk.
Tidak lama kemudian, ia berjalan menuju ke hutan sekitar.
‘’Aku tahu kau ada di sini, jadi keluarlah Kitsune!” perintah Ratu Rushi.
Saat itu juga, muncul seekor rubah yang kemudian berubah wujud menjadi manusia. ‘’Hamba memberi salam kepada Yang Mulia.’’
‘’Apakah kau menyukai makanannya?’’ tanya Ratu Rushi.
Kitsune mengangguk. Ia tidak mengira wanita itu mengutus salah satu pekerjanya untuk memberinya makanan, meskipun pekerja yang disuruh tidak tahu untuk siapa makanan itu dibawa.
‘’Hamba sangat berterima kasih. Yang Mulia sungguh murah hati,’’ kata Kitsune.
‘’Aku senang kau menyukainya. Tapi bisakah aku meminta bantuan kepadamu?’’ tanya Ratu Rushi.