Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 174 Victory



Sang Ratu meminta pamannya untuk menyerah karena pasukannya telah kalah telak. Siruverash menatap ke sekeliling melihat pasukan wanita itu memang telah mengepungnya dari segala sisi.


‘’Kenapa hati Paman begitu dipenuhi dendam? Kenapa Paman begitu berambisi untuk menghancurkan Kerajaan Aslan?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Karena aku ingin membuat mereka menderita,’’ kata Siruverash.


‘’Setiap manusia memiliki cinta di dalam hatinya, dan salah satunya juga adalah Paman. Tapi, selama ini aku tidak melihat hal itu dari Anda. Kenapa Paman membuang perasaan seperti itu?’’ tanya Ratu Rushi.


Siruverash mendongakkan kepala menatap langit malam. ‘’Saya tidak membuangnya, tapi mereka yang sudah merebutnya dariku. Sama seperti malam dingin ini, hatiku merasakan kebekuan yang sepadan.’’


Dalam sejarah, tidak dicantumkan alasan Siruverash ingin membalas dendam kepada Kerajaan Aslan. Aku sudah menamatkan buku itu tanpa melewatkan satu pun bagian sejarahnya. Yang aku tahu, setelah Siruverash memenangkan perang dan mengambil alih Kerajaan Aslan, dia dijuluki sebagai Raja Terkejam selama pemerintahannya. Mungkin kekejamannya berkaitan dengan yang dia ungkapkan barusan, kata Rau Rushi dalam hati.


‘’Aku tidak tahu apa yang sudah menimpa Paman sehingga seperti ini. Tapi, jika Paman bisa lebih terbuka, mungkin aku akan mengisinya dengan kasih sayang.’’


Siruverash menghela nafas panjang dengan kepala menengadah, dan kembali menatap keponakannya dengan wajah kusut. ‘’Saya tidak menerima hal ini … Tidak terima! Arghhh!’’


Ratu Rushi terbelalak saat Siruverash berlari menghampirinya. Kejadian ini sama seperti saat ia melawan Kika Legenda Amerika di babak final ronde terakhir. Ia pun memejamkan mata sambil menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. Ia menghitung langkah kaki pamannya yang semakin mendekat.


‘’Yang Mulia!’’


Begitu timingnya didapat, Ratu Rushi membuka matanya dan langsung menendang pedang tadi dan melakukan tendangan memutar ke arah belakang dengan kaki yang mengait ke arah kepala menghantam kepala Siruverash secara bergantian.


Bugh! Bugh!


Ratu Rushi yang mendarat di tanah menghela nafas kasar. ‘’Spinning Double Hook Kick … Game Over.’’


Semua orang yang melihatnya hanya terbelalak dengan mulut terbuka. Mereka menatap Ratu Rushi dengan wajah tegang lalu menelan saliva. Melihat hal itu, pasukan Siruverash mundur dan mengakui kekalahan.


Pangeran Rodigero dan para pengikut sang Ratu menghampiri wanita itu dan langsung memeluknya. ‘’Yang Mulia memenangkan perang ini!!’’


‘’Heh, bukan aku yang menang, tapi kita semua yang menang,’’ senyum Ratu Rushi.


Shika yang melihat Ratu Rushi terluka langsung merengek. ‘’Uwa~ beraninya dia melukai Yang Mulia! Saat Uma datang untuk mengabari kami, aku jadi langsung ingin menghampiri Yang Mulia. Kenapa aku tidak memakai batu yang lebih besar untuk mengenai kepa—’’


Manusia setengah rusa itu meronta-ronta membuat manusia setengah banteng yang menahannya kewalahan. Melihat hal itu membuat mereka semua terkekeh. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat melihat sang Ratu berjalan sedikit ke depan.


Ratu Rushi memasang wajah sayu dan sedih melihat semua tubuh yang tergeletak di tanah. Noda darah yang mewarnai tanah bersalju telah memenuhi medan perang. Butiran air matanya terjatuh sambil mengepalkan tangan.


Pangeran Rodigero yang berjalan menghampirinya juga memasang wajah sedih melihat semua itu, begitu juga dengan para pengikut sang Ratu.


‘’Mereka semua seharusnya tidak mati seperti ini hanya gara-gara keegoisan Paman. Keluarga mereka pasti sangat terpukul jika mengetahui berita ini nanti,’’ sedih Ratu Rushi.


‘’Mau bagaimana lagi. Setidaknya mereka mati demi menyelamatkan Negeri Aslan dari kehancuran. Dan itu akan membuat mereka dikenang sepanjang masa. Tugas kita adalah tidak membiarkan pengorbanan mereka sia-sia,’’ sedih Pangeran Rodigero.


Ratu Rushi hanya menunduk lalu menyeka air matanya. Ia pun memerintahkan semua orang untuk kembali ke kamp.


‘’Perang ini belum berakhir. Kita berdua masih imbang, dan sebentar lagi Yang Mulia akan kalah,’’ kata Siruverash.


‘’Diamlah! Pasukanmu sudah dikalahkan, kenapa Yang Mulia akan kalah?’’ tanya Yagyu.


Ratu Rushi terdiam untuk sesaat hingga akhirnya tersadar. Ia pun langsung menatap ke sekeliling dengan wajah gusar. ‘’Jangan-jangan pasukan pema—‘’


Deg!


Saat itu juga Siruverash tersenyum melihat tubuh Ratu Rushi terjatuh. ‘’Bukan pasukan pemanah. Tapi ... Serangan kejutan.‘’


Taka yang menyadari keanehan tadi langsung berubah menjadi elang.


Tanpa membuang waktu, Pangeran Rodigero dan yang lainnya menghampiri Ratu Rushi. ‘’Yang Mulia!’’


‘’Apa yang terjadi?!’’ cemas Yagyu.


‘’Kenapa Yang Mulia tiba-tiba terjatuh?’’ bingung Kujaku.


‘’Taka juga langsung berubah wujud,’’ kata Wani.