
Matahari mulai terbenam, membuat semua orang di dalam kamar Ratu Rushi tidak henti-hentinya menatap ke arah balkon, menunggu datangnya Taka. Tabib juga tidak berhenti meramu obat sebagai ramuan cadangan sampai menunggu daun kari tiba.
Bahkan hari sudah mulai gelap, tapi masih belum ada tanda-tanda dari elang peregrine yang datang. Raja Raion tidak pernah sekalipun berhenti menggosok telapak tangan Ratu Rushi dibantu oleh ibunya yang mengurus tangan sebelah wanita itu.
Malam semakin larut membuat semuanya merasa mengantuk. Bahkan sebagian dari pengikut Ratu Rushi sudah tertidur dalam posisi duduk. Tapi mereka kembali bangun saat tersadar ketiduran. Semuanya kembali menatap ke arah kaca pintu balkon yang sudah ditutup tapi tidak memperlihatkan kedatangan sosok Taka.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa tidur dengan tenang, sampai-sampai tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Terlihat jelas kantong mata dari semua orang.
Bugh!
Mereka langsung tersentak dan menoleh setelah mendengar suara tabrakan tadi. Spontan semua orang membulatkan mata melihat punggung manusia membentur pintu yang tidak lain adalah Taka. Para pengikut Ratu Rushi langsung berdiri dan menghampirinya. Setelah membuka pintu, mereka membantu Taka berdiri.
Taka dengan nafas terengah-engah menyerahkan daun kari. ‘’Cepat buat ramuannya!’’
Tanpa membuang waktu, tabib kerajaan mengambil daun kari dan merebusnya di dalam susu yang sempat ia suruhkan kepada Hana. Tidak lama kemudian, ia meminta izin sebelum mengoleskan air rebusan itu ke luka gigitan ular di kaki Ratu Rushi. Tidak lupa, ia juga meminumkan air tadi ke dalam mulut sang Ratu.
‘’Uhuk!’’
Semua orang langsung melotot saat Ratu Rushi memuntahkan darah. Anehnya wanita itu tetap tidak sadar membuat Raja Raion semakin gusar.
‘’Kenapa dia memuntahkan darah? Dia juga terbatuk … Ada apa ini?!’’ seru Raja Raion.
‘’I-Itu mungkin karena ramuan ini mendorong racunnya keluar Yang Mulia,’’ jawab Tabib.
‘’Tapi yang keluar bukan racun melainkan darah!’’ seru sang Raja sekali lagi.
Tabib kerajaan hanya meminta maaf membuat Ratu Agung menyuruh Raja Raion untuk tenang.
Namun, sang Raja tidak bisa tenang dan melupakan kekesalannya. Ratu Rushi telah diracuni, dan daun karinya baru datang, apalagi sudah hampir pagi, lalu sekarang sang Ratu memuntahkan darah. Bagaimana mungkin itu tidak membuatnya gila karena semua hal tersebut.
‘’Kalau begitu bersiaplah untuk tiada besok pagi begitu matahari terbit,’’ kata Raja Raion dengan wajah kusut.
......................
Matahari dengan warnanya yang kemerahan muncul di atas horizon di sebelah timur, membuat semua orang yang ada di dalam kamar Ratu Rushi terbangun karena merasakan kehangatannya.
Raja Raion yang tidak pernah melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Ratu Rushi, menatap wanita itu masih memejamkan mata. ‘’Tubuhnya sudah tidak panas. Tapi kenapa sekarang menjadi dingin?’’
Sang tabib yang mendengarnya langsung memeriksa denyut nadi Ratu Rushi.
‘’Kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya Raja Raion.
Namun, melihat tabib itu hanya diam dengan wajah yang tidak bisa dibaca membuat sang Raja membentaknya. Saat itu juga tabib kerajaan bersujud dan mencium lantai sambil terisak meminta pengampunan.
Ratu Agung membengkap mulutnya sedangkan para pengikut Ratu Rushi hanya menunduk. Pangeran Rodigero menatap Ratu Rushi sambil menggertak gigi yang disertai butiran air mata. Tanpa bertanya pun, mereka sudah mengetahui maksud tabib itu.
Raja Raion memejam mata sambil menengadahkan kepalanya. ‘’Tora….’’
‘’Hamba menunggu perintah Yang Mulia,’’ kata Tora.
‘’Segera ambilkan pedangku dan suruh mereka untuk menyeret tabib ini ke aula kerajaan sekarang!’’ perintah Raja Raion.
Sang tabib langsung mendongakkan kepala dan langsung mencium tanah berulang kali. ‘’Hiks! Hamba mohon ampun Yang Mulia! Hiks! Hiks! Tolong ampuni hamba!’’
Raja Raion berjalan keluar meninggalkan kamar dengan langkah kaki berat dan hembusan nafas berulang kali.
Beberapa pengikut Ratu Rushi pun membawa tabib kerajaan yang berusaha meminta pengampunan.