
‘’Hatchi!’’
Pangeran Rodigero mengusap hidungnya setelah bersin tadi.
‘’Kau baik-baik saja?’’ tanya Ratu Rushi yang sedang memasak.
‘’Aku baik-baik saja. Aku hanya bingung, tidak biasanya aku bersin seperti ini. Hm, mungkin karena musim dingin hampir tiba,’’ kata Pangeran Rodigero.
Aku meragukan hal itu. Aku bertaruh ada seseorang yang menjelekkan dirimu, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.
Beberapa puluhan menit kemudian…
‘’Yagyu! Shika! Usagi! Waktunya sarapan!’’ kata Ratu Rushi.
Entah dari mana, Yagyu dan Shika sudah datang secara tiba-tiba, sedangkan Usagi hanya tersenyum ikut bergabung.
Pangeran Rodigero dengan wajah polos, menatap kedua pria yang meliriknya dengan tatapan tajam. ‘’Meminta tanda tanganku?’’
Yagyu dan Shika serentak membuang wajah dengan perasaan kesal.
‘’Siapa yang mau minta tanda tangan dari penipu sepertimu!’’ kata kedua pria itu kompak.
‘’Jangan membohongi diri sendiri. Semua orang dari penjuru negeri bersusah payah untuk melihat diriku. Sangat jarang aku ingin memberikan tanda tanganku secara langsung kepada kalian,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Kau! ja—‘’
Bugh!
Ucapan Yagyu dan Shika terhenti saat Ratu Rushi meletakkan piring berisi hidangan, dengan begitu kasar di meja.
Ratu Rushi mengernyitkan alis sambil tersenyum. ‘’Kalian tidak berniat ribut, kan?’’
Kedua pria tadi tersenyum kaku dan mengangguk. Dengan tenang dan tidak bersuara, Yagyu dan Shika mengambil hidangan yang dimasak oleh Ratu Rushi.
‘’Maaf, karena kami belum membeli piring untuk khusus bangsawan,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan. Kalau bisa, aku dan Yang Mulia makan dalam satu piring saja,’’ kata Pangeran Rodigero tersenyum polos.
Krek!
‘’Mohon maaf Yang Mulia, tangan hamba licin sampai membuat sendoknya patah,’’ kata Yagyu.
‘’Ti-Tidak apa-apa. Kau bisa ambil yang baru di dapur,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Kemarin, aku tidak sempat memasak makanan ini untuk kalian. Jadi jangan ragu untuk menikmatinya,’’ kata Ratu Rushi.
Keempat pria itu menatap semua makanan di atas meja. Lalu menatap Ratu Rushi yang mengatupkan kedua tangan, sebelum akhirnya menyatap hidangan.
‘’Itadakimasu,’’ kata Ratu Rushi.
Pangeran Rodigero juga mengikuti hal yang dilakukan wanita tadi. Ia pun mengatupkan kedua tangan. Yagyu dan Shika juga melakukannya karena tidak ingin kalah, sedangkan Usagi hanya ikut-ikutan.
‘’Ikan daging emas,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Ikat tenda lepas,’’ kata Yagyu dan Shika.
‘’Telur dadar gas,’’ kata Usagi.
Ratu Rushi hampir tersedak karena ulah keempat pria itu. ‘’Apa yang kalian lakukan?’’
‘’Kami hanya mengikuti Yang Mulia,’’ jawab Yagyu.
‘’Yang tadi itu apa Yang Mulia? Apakah ritual sebelum makan?’’ tanya Shika.
Ri-Ritual? Kau pikir kita sedang melakukan upacara sakral? Yang benar saja, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.
‘’Itu hanya ucapan wajib di Jepang sebelum makan. Aku adalah seorang Otaku, karena menyukai hal-hal ya—"
‘’Otak Yang Mulia sakit?!’’ pekik Yagyu khawatir memotong.
‘’Aku baru pertama kali mendengar seseorang memiliki penyakit otak,’’ kata Usagi.
‘’Kita harus menyelamatkan Yang Mulia sekarang juga! Aku akan memberikan otakku kepada Yang Mulia sebagai bayarannya,’’ kata Shika.
Aku tidak akan menerimanya, jawab Ratu Rushi dalam hati.
‘’Aku akan mengerahkan seluruh prajurit untuk menyebar mencari obatnya,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Hentikan! Kalian salah paham. Abaikan yang aku katakan, dan lanjutkan sarapan kalian,’’ kata Ratu Rushi.
Keempat pria tadi terbelalak dan kembali duduk manis.
Tidak bisakah mereka diam untuk satu menit saja? Haa, kata Ratu Rushi dalam hati.