
Yagyu, Shika dan Usagi langsung tepar di kursi, begitu selesai melayani pelanggan.
‘’Apa-apaan itu tadi? Aku tidak tahu harus melayani yang mana dulu,’’ kata Usagi.
‘’Hm! Aku juga kewalahan membawa makanan ke meja dan kadang salah alamat!’’ kata Yagyu heboh.
‘’Aku baru pertama kali berlari begitu tergesa-gesa karena melayani banyak orang. Kalian semua tahu kalau rumah makan yang lainnya tidak seperti ini!’’ kata Shika bersemangat.
Ratu Rushi hanya tersenyum melihat ketiga pria itu berbincang dengan heboh. Ia pun menghampiri mereka dan ikut bergabung.
‘’Yang Mulia! Semua orang menyukai makanan Yang Mulia,’’ senang Shika.
‘’Humph! Tentu saja, siapa dulu yang membuatnya,’’ kata Ratu Rushi mengibas rambutnya ke belakang.
‘’Tapi, bagaimana Yang Mulia seorang diri bisa membuat makanan itu dengan cepat?’’ tanya Yagyu.
‘’Di dalam dunia kuliner. Ada begitu banya metode masak dari seluruh dunia. Salah satu Negara dari bagian dunia, menggunakan metode cepat untuk membuat 5 hidangan sekaligus. Dan metode seperti itu adalah masakan dari Prancis,’’ jawab Ratu Rushi.
‘’Panci buncis?’’ tanya Shika.
‘’Prancis! Bukan panci buncis,’’ kata Ratu Rushi membenarkan.
‘’Aku tidak tahu apa arti prancis, tapi Yang Mulia sangat hebat, karena bisa membuat semua makanan itu secara bersamaan hanya seorang diri,’’ kata Shika.
‘’Tapi kalau menggunakan metode itu, pasti membuat Yang Mulia sangat lelah,’’ kata Yagyu.
‘’Heh, kau benar. Aku sangat lelah sampai tidak bisa berdiri lagi,’’ kata Ratu Rushi.
Usagi yang melihat daftar list dan penghasilan merasa sangat senang. ‘’Kita mendapatkan 500 koin emas dari 25 pelanggan hari ini.’’
‘’Benarkah? Untuk awal seperti ini, kita mendapatkan hasil yang cukup baik,’’ kata Ratu Rushi melihat nama-nama pelanggan.
‘’Yosh! Kalau kita seperti ini seterusnya, maka dalam waktu singkat, we’re gonna be a rich man!’’ senang Ratu Rushi.
Ketiga pria tadi langsung bertatapan dengan penuh tanda tanya, membuat Ratu Rushi tersadar.
‘’Aa, maksudku … Maka dalam waktu singkat, kita akan menjadi kaya raya bung!’’ ulang Ratu Rushi dengan wajah kaku.
‘’Oh kaya raya? Hahaha! Kita akan kaya!’’ kata Shika.
‘’Uang! Banyak uang!’’ kata Usagi.
Ratu Rushi tersenyum kaku melihat ketiga pria itu baru konek dan heboh seperti ini. ‘’Momentnya sudah lewat, dan mereka baru heboh. Apakah aku harus mengajari mereka bahasa asing?’’
......................
Istana
Sebelah alis Siruverash terangkat sambil ia melirik sekilas ke belakang. ‘’Rumah makan Yang Mulia ramai dimasuki oleh warga?’’
‘’Benar Tuan. Melihat situasi di dalam rumah makan, sepertinya Yang Mulia mendapatkan banyak pelanggan,’’ jawab Washi.
Wajah Siruverash menjadi kusut. ‘’Untuk saat ini tetap pantau pergerakan Yang Mulia Ratu Rushi. Kau boleh pergi.’’
Ia melangkah ke depan sebuah lukisan yang tertutup sebagian. ‘’Tidak mengenal rasa menyerah, dia benar-benar seperti dirimu. Tapi sampai kapanpun, aku tidak akan bisa memaafkannya atas semua yang terjadi kepadamu.’’
Tangan Siruverash mengepal. ‘’Bagaimana bisa dalam dua hari Yang Mulia mendapatkan banyak pelanggan? Bukankah tidak ada yang menyukainya?’’
Wajahnya langsung berubah seketika, sambil matanya memicing. ‘’Pangeran Rodigero….’’
......................
Desa
Pangeran Rodigero datang sambil membawa bag paper. ‘’Aku kembali!’’
Semua menoleh saat melihat kedatangan pria itu.
‘’Kau dari mana saja?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Tada! Aku habis membeli ini untuk semuanya,’’ jawab Pangeran Rodigero.
Yagyu dan Shika kembali memasang wajah cemberut. Keduanya seolah-olah berkata dalam hati, agar Pangeran Rodigero tidak kembali.
‘’Untuk apa kain sebanyak ini?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Musim dingin hampir tiba, jadi harus mengenakan pakaian hangat sambil menjalankan rumah makan ini nanti. Tapi, sejak tadi aku pergi, rumah makannya masih saja kosong,’’ kata Pangeran Rodigero.