Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 110 Luka di Malam Hari



Rawa


Predator yang menelan Ratu Rushi langsung mengeluarkan wanita itu dari dalam mulutnya, bersamaan salah satu predator yang menyusul dari belakang berubah menjadi manusia.


‘’Adik! Apa yang kau lakukan? Kau sudah tahu kalau meriam itu akan mengenai wanita ini. Kenapa kau masih menghampirinya?’’ tanya Wani.


‘’Kakak tidak perlu khawatir. Ini hanya luka kecil, dan akan sembuh beberapa hari lagi,’’ kata sang adik yang masih dalam wujud binatang.


Namun, karena merasa kesal dengan perbuatan adiknya, membuat Wani berdecih dan keluar untuk mencarikan obat.


......................


Perkemahan


Ratu Agung mengerutkan dahi dan membuka matanya perlahan. Begitu melihat ibu Raja tadi siuman, membuat semua orang langsung mengepung.


‘’Ibunda! Bagaimana kondisi Anda?’’ tanya Raja Raion.


‘’Ibunda minum dulu,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ia membantu ibunya bangkit untuk minum. Ratu Agung meneguk segelas air itu dan kembali menghela nafas. Dahinya berkerut melihat langit sudah menjadi gelap.


‘’Aku tidak melihat para pelayan Ratu Rushi,’’ kata Ratu Agung menatap ke sekeliling.


‘’Karena belum menerima kematian Yang Mulia, mereka masih berada di tebing bebatuan untuk menunggu Yang Mulia kembali,’’ jawab Pangeran Rodigero sedih.


Ratu Agung kembali memasang wajah sedih dan menatap Siruverash dan Putri Rukaia yang juga sama sedihnya. Ia tahu kedua orang itu sangat terpukul, karena telah kehilangan Ratu Rushi, satu-satunya keluarga mereka yang tersisa.


Raja Raion memerintahkan semua orang berkemas untuk bersiap pulang ke istana besok. Ia akan menemani Ratu Agung beristirahat terlebih dahulu.


Pangeran Rodigero menatap ketujuh pengikut Ratu Rushi yang masih berada di atas tebing bebatuan. Ia pun menghampiri mereka dan naik ke atas. Begitu tiba, wajahnya kembali sedih melihat ketujuh orang itu menangis sambil berharap Ratu Rushi akan muncul dan menghampiri mereka.


‘’Baru saja, Yang Mulia mengajak kita liburan untuk bersenang-senang. Tapi betapa teganya Yang Mulia memberikan duka dan meninggalkan kita seperti ini,’’ tangis Hana.


‘’Padahal saya masih belum membalas budi setelah Yang Mulia menolong saya,’’ tangis Kujaku.


‘’Bagaimana mungkin binatang itu tanpa belas kasih menerkam Yang Mulia,’’ tangis Kitsune.


‘’Apanya yang mengabdikan diri? Apanya janji untuk melindungi? Di depan mataku Yang Mulia dihabisi tapi aku tidak melakukan apa pun untuknya! Argh! Hiks! Hiks!’’ marah Yagyu yang melampiaskannya dengan tangisan.


‘’Selama ini Yang Mulia selalu membantu kita. Tapi apa yang kita lakukan?’’ tangis Mozaru.


‘’Untuk pertama kalinya, kita gagal sebagai pengikut Yang Mulia,’’ tangis Usagi.


Shika menyeka air matanya lalu berdiri dan menggertak gigi. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil mengepalkan tangan. ‘’Uwaaa! Yang Mulia sudah berjanji akan mengabulkan semua permintaan orang! Permintaanku adalah Yang Mulia harus datang sekarang juga! Jangan pergi karena tidak diundang, tapi Yang Mulia harus datang meskipun tidak diantar!’’


‘’Yang benar itu datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Itulah yang pernah diceritakan Yang Mulia,’’ tegur semuanya dengan ekspresi sedih.


‘’Argh! Yang Mulia jahat sekali!’’ teriak Shika sekali lagi.


Putri Rukaia menatap orang-orang itu berteriak dan berdecih. ‘’Para sampah yang dipungut itu sangat berisik.’’