
Keesokan harinya, Hana dan keenam pria lainnya saling memandang satu sama lain. Masing-masing dari mereka menatap lembaran kertas yang diserahkan Ratu Rushi setelah sarapan pagi tadi.
‘’Yang Mulia bilang kalau nyawanya sedang dipertaruhkan oleh hidangan ini yang akan menentukan masa depannya. Itu berarti kita harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuatnya. Jika kita sampai gagal, maka tamatlah riwayat Yang Mulia,’’ kata Hana.
‘’Masing-masing dari kita disuruh untuk membuat hidangan,’’ kata Kitsune.
‘’Selain itu, ini hidangan yang baru. Bagaimana kita akan tahu bentuknya seperti apa?’’ tanya Usagi.
‘’Bukan hanya itu. Makanan yang akan kita buat akan dihidangkan langsung kepada Ratu Agung,’’ kata Mozaru.
‘’Yang Mulia sedang memberikan solusi atau membukakan jalan kematian untuk kita?’’ tanya Shika.
‘’Kita mungkin bisa membuat hidangan ini jika mengikuti resepnya. Tapi masalahnya adalah, apakah dia juga bisa memasak?’’ tanya Yagyu.
Hana dan yang lainnya mengikuti arah pandang Yagyu yang menatap Kujaku. Mereka memasang wajah masam dipenuhi keraguan.
......................
Kediaman Ratu Agung
Putri Rukaia sedikit senang karena ia bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik. Ia membawa camilan seperti biasa dan Ratu Agung akan mencicipinya. Namun, tidak seperti sebelumnya, Ratu Agung terlihat tidak nafsu karena hanya mencicipi sebagian kecil dari camilan tersebut.
‘’Apakah camilan yang saya bawa tidak enak Ratu Agung?’’ tanya Putri Rukaia cemas.
‘’Tidak Putri Rukaia. Camilannya enak seperti biasa,’’ senyum Ratu Agung.
‘’Tapi, Ratu Agung terlihat tidak nafsu. Bagaimana kalau saya menyuruh Kepala Pelayan Eris untuk membuatkan camilan yang baru?’’ tanya Putri Rukaia.
Ratu Agung menggeleng dan menyuruh wanita itu untuk tidak cemas. Meskipun memang benar ia tidak nafsu mencicipi camilan yang dibawa Putri Rukaia. Semenjak memakan hidangan buatan Ratu Rushi, tidak ada rasa baru yang membuatnya menikmati makanan. Harga dirinya juga bisa jatuh kalau ia meminta Ratu Rushi membuatkannya hidangan, apalagi wanita itu sedang dikurung dalam kamar.
......................
Licy yang membantu keluarga Kitsune menjalankan rumah makan, tidak henti-hentinya menunggu pria itu pulang. Semenjak sebelum hari ulang tahun Ratu Agung tiba sampai sekarang, pria itu selalu berada di istana karena dipanggil oleh Ratu Rushi.
Apakah Kitsune tidak memberitahu Yang Mulia kalau saya ada di sini, ya? Ah, saya tidak boleh berpikiran yang buruk. Mungkin dia sudah memberitau Yang Mulia, tapi karena sangat sibuk, Yang Mulia tidak bisa datang kemari. Iya, saya akan tetap menunggu, ucapnya dalam hati.
‘’Licy? Kenapa kau diam saja? Piring dan gelas hampir habis, tapi masih ada pelanggan yang belum mendapatkan pesanan,’’ kata Ayah Kitsune.
‘’Ba-Baiklah. Saya akan segera menyelesaikannya,’’ kata Licy kembali mencuci piring.
......................
Dapur Istana
Sebelumnya, Hana dan yang lainnya sudah menduga kalau mereka akan dipersulit oleh Eris, dan kedua wanita bawahan setianya. Apalagi, Nero dan Aruse ada bersama dengan ketiga wanita itu.
‘’Yang Mulia sedang dihukum, jadi kau tidak punya hak atas dapur ini. Beberapa hari yang lalu, kau sedikit lancang kepadaku. Kebetulan, wanita itu tidak ada di sini sebagai pendukung. Kau harus menerima pelajaran diriku,’’ kata Eris.
Kepala pelayan itu hendak menghampiri Hana, tapi Mozaru langsung mendorongnya, membuat Nero menangkap Eris, lalu menarik kerah leher baju Mozaru.
‘’Kau cari mati, ya? Dengan mendorong Nona Eris seperti itu,’’ kata Nero tajam.
Mozaru membalas dan menarik kerah leher pria itu. ‘’Kau yang cari mati karena menentang perintah Yang Mulia. Sampai sekarang aku selalu menahan diri, tapi kalau seseorang berusaha menghalangi keinginan Yang Mulia, aku tidak akan segan bahkan jika kau adalah Kepala Pasukan Divisi 1.’’
Aruse hendak menghampiri Nero, tapi Yagyu langsung menghadangnya. Begitu juga dengan Shika, Usagi dan Kitsune yang menghadang Eris dan Riaz serta Zena.
‘’Kalian pikir Yang Mulia tidak tahu? Kau masih memiliki hutang kepada Yang Mulia setelah berniat mempermalukannya di acara ulang tahun Ratu Agung. Apa kau ingin kami melaporkan hal ini kepada Yang Mulia Raja?’’ tanya Yagyu.
‘’Cih! Kau hanya sampah rendah yang dipungut, beraninya mengancam kami seperti itu. Lagi pula, kenapa Yang Mulia Raja akan mendengarkan kalian?’’ tanya Aruse.
‘’Yang Mulia Raja sampai rela meninggalkan singgasana demi Yang Mulia Ratu Rushi. Kenapa dia tidak akan mendengarkan kami?’’ tanya Shika.