
Ruang Kenegaraan
Bugh!
Raja Raion duduk di singgasana dan menatap Ratu Rushi yang diseret secara ke depannya. Ratu Agung, Siruverash, para petinggi, semua orang telah berkumpul untuk menghakimi wanita itu yang telah melakukan kejahatan.
Ratu Rushi dalam keadaan yang dipenuhi noda darah hanya menatap semua orang itu dengan wajah tertahan.
‘’Wanita ini masih bisa memperlihatkan wajah angkuhnya, bahkan setelah dirinya melakukan kejahatan besar,’’ kata Siruverash.
Tidak lama kemudian, datang salah satu pelayan melapor. Sang pelayan mengatakan kalau semua pengikut Ratu Rushi telah melarikan diri, membuat mereka semakin yakin kalau sang Ratu memang merencanakan hal ini.
‘’Wah, apa ini? Sepertinya para pengikut setiamu itu sudah tahu hal ini akan terjadi. Daripada berurusan dengan istana, mereka memilih meninggalkan sang Ratu yang telah dicap sebagai penghianat. Tapi, mereka akan tetap ditangkap dan diberi hukuman karena menjadi bagian darimu,’’ kata Siruverash.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Ratu Agung langsung menjatuhkan hukuman mati kepada Ratu Rushi. Namun, hal itu dihentikan oleh Raja Raion, membuat semua orang mendesak agar sang Ratu dijatuhkan hukuman mati.
‘’Yang Mulia? Kejahatannya sudah tidak bisa diampuni lagi. Bahkan jika wanita ini membersihkan dirinya di tujuh sungai, dosanya tidak akan terhapus. Setelah membunuh Pangeran Rodigero, dia tidak pantas untuk hidup!’’ kata salah satu petinggi.
‘’Disini akulah Raja-nya! Orang yang bisa menjatuhkannya hukuman hanya diriku seorang!’’ seru Raja Raion.
Siruverash memasang wajah kusut begitu juga dengan Putri Rukaia. Sepertinya sang Raja tidak akan memberikan hukuman mati kepada Ratu Rushi.
Dengan wajah tertahan dan merah padam, Raja Raion menatap wanita yang sebelumnya adalah istrinya. Urat-urat di lehernya menegang hanya karena menarik nafas. ‘’Kejahatannya memang tidak bisa diampuni lagi. Tapi, jika kita memberinya hukuman mati, maka wanita ini hanya merasakan penderitaan satu kali.’’
Putri Rukaia mengernyitkan alis melihat Raja Raion dan Ratu Rushi malah saling bertatapan satu sama lain.
‘’Aku sudah bilang kalau kami berdua dijebak. Tapi kalian semua meragukanku. Dengan mendorong Pangeran Rodigero ke sungai, aku hanya melakukan apa yang kalian pikirkan terhadap diriku. Meski aku tidak sudi melakukannya,’’ kata Ratu Rushi.
Raja Raion langsung memasang wajah kusut. ‘’Gara-gara Ansa, kami semua tidak bisa menghormati pemakaman Pangeran Rodigero dengan layak.’’
Ia pun mengepalkan tangan sambil memicingkan mata. ‘’Asingkan wanita ini. Pastikan dia tidak terlihat di Negeri Aslan. Jika ada yang melihatnya di negeri ini … Maka habisi mereka berdua saat itu juga!’’
‘’Tapi Yang Mulia?’’ protes Ratu Agung.
‘’Sebagai Ratu Agung yang bijak, tugas Anda adalah mendukung keputusan Raja, bukan membantahnya,’’ kata Raja Raion membungkam ibunya.
Sebelah alis Siruverash terangkat. Meski Ratu Rushi tidak menerima hukuman mati, tapi pengasingan wanita itu yang mengharuskan dirinya meninggalkan Negeri Aslan tidaklah buruk juga, melainkan itu semakin bagus untuk dirinya.
Ratu Rushi yang bersujud di lantai langsung mengepalkan tangan. ‘’Aku menerima hukuman pengasingan. Tapi bisa kupastikan, kau akan menyesal karena mengambil keputusan ini dengan mempercayai penghianat yang sebenarnya.’’
‘’Wanita ini sudah melakukan kejahatan tapi masih menuduh orang lain!’’ tegur para petinggi.
Dengan berat, Raja Raion memerintahkan para prajurit untuk menyeret Ratu Rushi pergi. Ia juga memerintahkan mereka untuk mencari para pengikut wanita itu ke pelosok negeri.
Sebelum pintu ruangan ditutup, Ratu Rushi sempat menoleh ke arah Raja dengan wajah kecewa. Dilihatnya Raja Raion memasang wajah sendu.
Yang Mulia, ucap keduanya kompak dalam hati.