Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 28 Rombongan



Rumah makan pun dibuka seperti biasa. Melihat orang lalu lalang tanpa peduli dengan rumah makannya, membuat Ratu Rushi menghela nafas.


Pangeran Rodigero yang selalu memandangi Ratu Rushi setiap saat, sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, hanya tersenyum. ‘’Yang Mulia, tidak baik mengeluh saat membuka rumah makan.’’


‘’Tapi ini sudah hampir siang, dan belum ada pelanggan satu pun yang masuk,’’ kata Ratu Rushi meletakkan kepalanya di meja.


‘’Kalau begitu aku akan menjadi pelanggan dan membayar makanannya,’’ kata Pangeran Rodigero.


‘’Tidak, tidak. Kau tidak perlu menjadi pelanggan dan memberiku uang 1000 koin emas lagi. Ya, meskipun aku memang mau seperti itu,’’ kata Ratu Rushi yang berbisik di akhir kalimat.


‘’Mm? Yang Mulia mengatakan sesuatu?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Rodigero, aku tahu niatmu sangat baik, tapi alasan aku membuka rumah makan, karena ingin menghasilkan uang sendiri. Jika kau memberiku uang dengan mudah, itu sama saja aku mengemis kepada orang lain,’’ kata Ratu Rushi.


Ratu Rushi kembali menghela nafas dan memejamkan mata. Pangeran Rodigero yang melihat wanita di depannya itu memasang wajah sedih, membuatnya merasa tidak suka.


Pangeran Rodigero berdiri, membuat Ratu Rushi menatapnya.


‘’Kau mau ke mana?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Aku lupa akan sesuatu dan harus segera pergi. Maaf, aku tidak bisa tinggal sedikit lama. Aku pergi dulu Yang Mulia,’’ kata Pangeran Rodigero bergegas.


Ratu Rushi mengerutkan dahi melihat tingkah pria tadi. Yagyu dan Shika muncul dengan raut wajah yang sama.


‘’Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba ingin pergi?’’ tanya Shika.


‘’Apakah Yang Mulia mengusirnya?’’ tanya Yagyu.


‘’Kau sampai berpikir segitunya tentang diriku?’’ tanya Ratu Rushi dengan wajah bodohnya.


Yagyu tersenyum semanis mungkin dan mundur sedikit demi sedikit. ‘’Aa! Aku lupa memotong rumputnya.’’


Ratu Rushi menghela nafas disertai senyuman.


‘’Yang Mulia!’’ teriak Usagi.


Mata Ratu Rushi membulat melihat rombongan warga berlari masuk dan sekarang memenuhi lantai satu. ‘’Apa yang terjadi?!’’


‘’Saya habis mengambil air dari sungai belakang, lalu tidak sengaja melihat rombongan warga seperti akan menyerbu rumah makan kita. Jadi, saya bergegas menghampiri Anda, tapi mereka sudah tiba secepat ini,’’ kata Usagi.


Melihat hal itu membuat Ratu Rushi langsung bergegas ke dapur. ‘’Usagi! Suruh mereka mengantri secara teratur! Shika, bawa mereka menuju ke meja masing-masing, dan Yagyu … Segeralah bersiap untuk menunggu makanan dan bawakan mereka ke meja.’’


‘’Kami mengerti Yang Mulia!’’ kata ketiga pria tadi bersamaan.


Ratu Rushi merasa ada yang aneh dengan kedatangan rombongan tersebut, tapi ia merasa senang karena akhirnya ada pelanggan yang memasuki rumah makannya.


Setelah Usagi membereskan antrian dan Shika yang menuntun pelanggan ke meja, keduanya membantu Yagyu membawa pesanan makanan. Saking banyaknya orang, dua lantai rumah makan sampai penuh, membuat suasana begitu pengap.


Beruntung, ada begitu banyak jendela di setiap lantai, membuat angin bisa masuk dan kondisi dalam ruangan terasa sejuk.


‘’Um, apakah kita harus memakannya?’’


‘’Entahlah. Aku bahkan tidak sudi untuk masuk ke tempat ini, jika saja bukan menyangkut uang.’’


‘’Ergh! Berada di dalam satu atap dengan Ratu yang diasingkan ini, aku benar-benar muak.’’


‘’Ush, kecilkan suara kalian. Kita sudah diberitahu untuk bersikap baik dan melakukan semuanya sesuai perintah orang itu.’’


‘’Tapi aku bisa jujur, pakaian yang dikenakan Ratu Rushi sangat lucu. Astaga! Apa yang aku katakan?’’