
Saat Edward tengah fokus pada pekerjaan nya dia melihat ponsel nya berdering,tapi aneh nya itu nomor baru .
Tanpa berpikir lagi Edward langsung mengangkat panggilan nya .
" Abang " Edward menaikan alisnya ,dari suaranya dia sudah menebaknya tapi ponsel siapa yang dia pakai .
Karena memang Edward belum membelikan ponsel lebih tepatnya untuk sekarang belum karena Takut nya ada berita yang akan membuatnya drop .
" Punya siapa " Tanya Edward .
" Bibi pelayan " Jawabnya terbata .
" Kenapa " Tanya Edward menyimpan Ponsel nya di atas mejanya menghidupkan pengeras suara nya .
" Boleh ke kantor ,antarkan makan siang " Tanya Nova takut .
" Katakan saja apa yang kamu inginkan " Tanya Edward datar .
" Mau ketemu Laras sama Arya boleh ,sudah lama ...."
" Siap² sopir akan mengantarmu " Ucap Edward memotong ucapan Nova .
" Boleh "
" Hebm ,sudah aku tutup kerjaan ku banyak " Edward langsung menutup panggilan nya .
Lalu dia mengambil telepon kantor menghubungi seseorang .
" Minta Laras dan Arya dari devisi pemasaran ke ruangan ku " Ucap Edward
" Baik tuan muda " Edward menutup nya, lalu mengirimkan pesan pada pengawal untuk mengikuti Nova hingga ke perusahaan .
Setelah itu dia kembali fokus pada pekerjaan nya, di ruangan lain Arya dan Laras yang tengah fokus berkeja di buat kaget saat di minta ke ruangan Edward .
" Apa kita buat salah " Tanya Laras menatap Arya mereka masih berada di ruangan karena masih bingung .
" Apa ini tentang persentase kemarin " Tanya balik Arya .
"Bukannya tuan Edward sudah menyetujui nya " Jawab Laras .
" Apa kalian ingin tuan Edward sendiri yang memanggil kalian ke sini ' Ucap Salah satu teman mereka .
" Kamu membuat ku kaget Rio " Pekik Laras kesal .
" Lagian bukannya langsung ke sana malah gosip berdua " Timpal Caca teman ruangan mereka .
" Kami tidak bergosip hanya memikirkan kesalahan kami ' Jawab Arya .
" Jika tidak berbuat kesalahan untuk apa kalian masih di sini " Ucap Darma kepala devisi mereka .
" Galak amat Pak,makanya Bu Erika takut " Ucap Laras Tersenyum.
" Mau saya Aduin ke tuan muda " Laras menggeleng cepat " Jangan pak, nanti saya bantuin makan malam sama Bu Erika " Ucap Laras tersenyum manis.
" Sudah sana " Usir Darma lalu masuk dalam ruangannya .
" Gayanya malu² padahal sudah umuran " Ucap Caca membuat mereka tertawa .
Arya dan Laras ke luar dari ruangan mereka menuju ruangan Edward .
Sedangkan di rumah utama Nova sedang mencari penghuni rumah besar ,hingga dia bertanya pada pelayan .
" Tuan ada di belakang Non ,di kolam renang sedang main biliar " Ucap pelayan .
" Makasih Bibi " Ucap Nova lalu berjalan ke arah kolam renang .
Sesampainya di pintu Nova hanya terdiam bingung hingga akhirnya suara Alan membuatnya sadar .
" Kenapa " Tanya Henry menatap Nova .
" Itu tuan, mau ke kantor " Jawab Nova gugup .
" Edward yang memintamu " Nova menggeleng " Tidak tuan ,saya hanya ingin mengantar kan makan siang " Jawabnya cepat .
" Kamu sudah minta izin padanya " Nova mengagukan kepalanya cepat .
" Tunggu di depan aku akan menemanimu " Ucap Henry memberikan stik nya pada Jeje.
" Ayo Mommy bantu siap kan makan siang nya " Nova mengagguk Tersenyum .
" makasih nyonya " Adara hanya mengaguk Tersenyum .
Sesampainya mereka di dapur semua pelayan langsung meninggalkan kan dapur hanya bagian yang memasak saja di sana .
" Bibi sudah masak " Tanya Adara lembut .
" Sudah Nyonya " Jawab chef .
" Tolong siapkan makanan Edward seperti biasanya iya " Adara menatap Nova " Kamu mau makan apa " Tanya nya lembut sambil menarik kursi meminta Nova untuk duduk .
" Di samakan saja nyonya " Jawab Nova gugup .
" Samakan Chef " Ucap Adara .
" Baik Nyonya " Jawab chef .
" Tunggu iya ,mommy siap kan buah dulu " Adara meninggalkan Nova duduk di kursi makan .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya mereka di perusahaan besar itu Henry langsung meminta sopir untuk ke arah parkiran khusus petinggi perusahaan karena di sana langsung ada lift menuju Edward agar tidak membuat para karyawan heboh.
Sedangkan di lantai teratas Raymond di buat panik karena ulah anaknya saat menerima laporan dari Reza .
Ceklek
" Kenapa tidak bilang Daddy dulu " Tanya Raymond tanpa dia sadari jika di ruangan itu ada orang .
" Dia bosan Dad " Raymond menghela napas panjang " Keluarlah Opamu bersama nya " Edward langsung menatap Raymond dengan mata membola .
" Apa Abang kira Opa akan membiarkan dia keluar hanya dengan pengawal " Tanpa menjawab lagi dia langsung ke luar .
" tetap di dalam "Ucap edward di ambang pintu .
Raymond ,Reza ,Radhi ,Edward dan Rangga berdiri di depan lift menunggu Henry dan Nova .
" Kenapa orang tua itu ke sini sih,apa dia kurang kerjaan ?? Karenanya aku harus menunda pekerjaan ku " Omel Radhi kesal sendang kan yang lainnya hanya diam saja .
" Apa kakak punya salah hingga membuat Daddy ke sini " Tanya Radhi karena memang dia belum tahu kalau Henry hanya mengantar Nova.
" Diamlah ,sebelum aku mendorong mu di tangga darurat " Radhi mendengus kesal lalu menutup mulut nya rapat .
Beberapa menit kemudian pintu lift mulai terbuka membuat mereka berdiri dengan tegap .
Edward langsung masuk dalam lift saat sudah terbuka lebar .
" Daddy kenapa bisa ke sini bersama Nova , Daddy tidak sedang main api kan ' Henry menatap sengit kearah Radhi .
" Ambil ini berat sekali " Henry memberikan kotak makan siang Edward dan Nova " Apa Adara mengisi kan batu di dalam nya '" Lanjutnya dengan kesal.
" Untuk Aku Dad ,tumben Kakak ipar membuat kan ....."
" Itu punya Abang sama Nova " Ucap Edward membuat Radhi terdiam .
" Ah kirain untuk Uncle ,padahal tadi Uncle sudah gugup Lo " Jawabnya sambil menatap Raymond yang hanya terdiam " Benar kata Daddy seperti nya ada batu di dalamnya "Lanjutnya sambil mengangkat kotak bekal itu menatap setiap sudutnya .
" bawa Nova ke ruangan Bang, Daddy tidak ingin dia lahiran depan lift " Lidah Edward berdecak .
" Belum waktunya Dad " Jawabnya ketus .
Radhi memberikan kotak bekal pada Edward .
" Nanti makan siang sama² " Ucap Henry .
" Iya Dad " Jawab Radhi masuk ke ruangan nya bersama Rangga .
" Jangan aneh-aneh ,tahan sampai kamu menikah " Ucap Henry pada sang Cucu saat mereka sudah di depan ruangan Edward .
" Iya Opa " Jawab Edward lalu membuka pintu ruangannya .
Ceklek .
" Abang banyak pekerjaan " Tanya Nova dia belum sadar jika di ruangan itu ada Arya dan Laras .
sedangkan kedua manusia itu langsung menatap ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka kedua mata mereka membola saat melihat siapa yang di bawah tuan muda mereka ke dalam ruangan,belum lagi perut besar itu membuat mereka semakin kaget .
" Lumayan ,mau langsung makanan " Nova menggeleng " Tadi makan buah di mobil " Edward mengaguk paham .
" Duduklah di sofa ,mereka sudah menunggumu sejak tadi " Nova menatap ke arah sofa .
" Arya ...Laras " Gumam Nova kaget menutup kedua mulutnya menggunakan tangannya .
Dengan pelan Edward membawa Nova ke sofa berhadapan dengan kedua sahabtnya .
" Aku kerja dulu iya " Nova mengagguk pelan , sedangkan kedua orang itu masih menatapnya nya dengan wajah syok dan kaget .
CUP
Tanpa rasa malu Edward mencium bibir Nova sekilas membuat kedua orang itu langsung memalingkan wajahnya ke samping .
" Abang ehz " Edward meninggalkan mereka begitu saja .
"Kenapa diam " Tanya Nova canggung .
" itu bantal " Tanya Laras polos sambil menunjuk perut Nova .
Arya langsung menginjak kaki Laras dengan pelan.
" Maaf " Laras memukul mulutnya pelan " Aku tidak bermaksud ...."
" Dia hamil anakku ,kami sudah menikah setelah berhenti jadi sekertaris ku ' Jawab Edward dari meja kerjanya saat mendengar ucapan Laras .
" Maafkan saya Tuan " Laras menundukkan kepalanya takut .
" Kebiasaan mulutnya " Ucap Arya pelan tapi penuh penekanan ' Maaf ' Jawab Laras lirih .
" Sudah tidak papa, aku juga paham koh pasti kalian kaget karena aku menghilang tanpa kabar " Ucap Nova lembut .
" Gimana kabar kalian "Lanjut nya lagi .
" Iya seperti yang kamu lihat ,kami baik² saja " Jawab Arya .
" Kenapa menghilang, bahkan nomor mu tidak aktif lagi " Tanya Laras cemberut .
" Ceritanya panjang nanti kalau sudah waktunya aku akan cerita " Arya dan Laras mengaguk .
" Abang ,mereka bolehkan datang kan " Tanya Nova menatap ke arah meja Edward .
" Hebm "
" Pinjam Hp Abang boleh,minta nomor mereka " Edward langsung berdiri menuju sofa memberikan ponselnya pada Nova lalu kembali ke meja kerjanya .
Melihat sikap atasan mereka Arya dan Laras di buat susah napas, bahkan dia tidak menolak atau membantah ucapan Nova sedikit pun .
' Ini tulis nomor kalian " Arya dan Laras sambil menatap canggung .
" Lewat Email saja iya " Ucap Arya kikuk
" Iya Nov !! Ponselnya mikik sultan Nov takut tangan ku gemetar memegang nya jatuh aku mau ganti kaya mana ' Nova hanya tersenyum .
" Iya sudah tidak papa ,tapi langsung kirim iya " Keduanya mengaguk lalu mengirim pesan Email pada Edward .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung terus Edward menjadi novel favorit kalian 🥰🥰🥰🥰
Like
Koment
vote
jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 5 😘😘😘😘😘