One Night with CEO 2

One Night with CEO 2
Pergi



Pagi ini Edward dan Rangga sudah siap menuju new York semua keluarga sudah berkumpul bahkan Henry dan Elvi baru sampai tadi malam .


Adara dan Raine sejak semalam tidak berhenti menangis membuat Raymond dan Reza muak dan selalu memarahi wanita mereka ,bukan marah sih tapi lebih kaya gimana gitu .


Iya seperti sekarang di mana Adara merengek ingin ikut dan tinggal bersama Edward di sana selama sebulan .


" Kau pikir hanya Edward anakmu ,lihat mereka " Raymond menunjuk El, Eric dan Erland " Apa mereka anak tetangga ,Edward hanya pergi kuliah Adara bukan pergi berperang lalu menyetor nyawanya " Ucap Raymond .


" Aku yang hamil, aku yang melahirkan mereka ,aku ....'


" Iya semuanya kamu, lalu kamu mau apa ?? mau aku bayar berapa katakan " Ucap Raymond kesal .


" jika aku bisa hamil ,aku saja yang hamil biar kamu puas " Lanjutnya .


" Mom, Abang akan baik² saja ,mommy juga bisa ke sana jika merindukan Abang " Ucap Edward lembut .


" Kamu belum pergi saja mommy sudah rindu ,apa boleh mommy ikut " Raymond menepuk jidatnya sedang kan yang lainnya hanya tersenyum .


Tidak jauh berbeda Raine juga tengah membujuk Rangga.


" Di sini saja iya ,kalau Mama lahiran terus Pengen Kaka di sini Gimana, terus kalau Mama ngidam Ade pengen lihat wajah kakak gimana ,kakak mau adenya ileran karena kakak tidak mewujudkan nya ,tidak mau kan jadi di sini sjaa iya ....iya ...iya " Ucap Raine sambil memegang tangan Rangga.


' Mama please ,kakak mohon " ucap Rangga menatap Riane .


" Jika kalian masih bermain drama ,Daddy akan membawa mereka lebih jauh lagi " Suara bariton itu membuat Adara dan Riane menatap ke arahnya " Apa ,mau marah mereka hanya kuliah bukan menjadi buru bangunan di sana " Lanjutnya menatap Raine dan Adara .


" Tapi Dad ......"


" Jangan membuat mereka berat karena tingkah kalian , mereka hanya ingin kuliah dengan benar kalau kalian begini apa mereka bisa tenang bahkan kalian membuat mereka beban pikiran karena mungkin keputusan mereka membuat kalian sakit dan yang lainnya " Potong Jose .


" Abang Janji akan menelpon mommy terus " Ucap Edward serius .


" Janji " Adara menaikan tangannya memberikan jari Kelingking nya pada Edward membuat pria itu menggeleng tapi tetap melakukan nya " Janji " Jawab Edward mengaitkan jari kelingking nya juga .


" Mommy kaya anak kecil, bahkan saat kami kecil dulu tidak seperti mommy ,malu mom sama umur " Cibir Erland .


" Jaga mulutmu " Bisik Eric .


" terserah " Jawab Adara ketus pada Erland .


" Kalau nanti Erland pergi juga ,mommy jangan seperti itua Erland merinding mom ...." Eric langsung menutup mulut adiknya saat Erland dengan menunjukkan bulu halusnya yang mulai berdiri .


" jangan aneh² de,kamu mau di hukum Mommy " Bisik Eric,Erland menggeleng cepat " bagus " lanjutnya lalu membuka tangannya dari mulut Erland .


" Ayo " Ucap Reza pada Edward dan Rangga.


" Kaka pergi iya ,kakak janji akan menelpon Mama nantinya " Raine menggaguk air matanya semakin deras membasahi pipinya ,Rangga turun ke bawah berjajar dengan perut Riane " Hai dek ,doain Kaka di sana lancar iya kuliahnya biar nanti bisa temani Ade main, sekarang main dulu sama Kaka Randy iya ,kakak sayang ade " Rangga mengelus perut Raine sambil tersenyum kini dia menatap Randy yang hanya menunduk " Kamu tidak ingin memeluk kakak " Rangga langsung memeluk adiknya " kau seperti perempuan jika menangis " Randy hanya terdiam " Jaga Ade iya " Randy hanya mengaguk Rangga mengelus kepala Randy .


Edward menatap ke tiga adiknya lalu tersenyum dan memeluk mereka .


" Jangan nakal ,jangan suka bikin mommy marah !! " Ketiga adiknya hanya bisa mengaguk " kurangi jahilnya jangan suka bikin mommy naik darah " El mengagukan kepalanya " Jangan melewati batasmu ,di sini kamu laki² tertua sekalipun El kakakmu kalau dia salah kamu punya hak menegurnya " Eric mengaguk ,Edward menatap Erland yang juga menatap nya .


Karena gemas Edward memberikan hadiah kecil membuat Erland meringis .


" Aaawww Abang " Edward tertawa kecil " Jangan nakal " Edward mengusap kepala Erland dengan lembut " jangan jahil ,kamu sering membuat penghuni rumah ini darah tinggi dan bisa saja mereka masuk rumah sakit " Lanjutnya .


" Mereka berperan Abang ,padahal Erland bicara apa adanya " Bela Erland membuat Edward mengaguk saja .


" Mommy ikut ke bandara iya " Edward menggeleng " Di sini saja " Ucap Edward lembut .


Raymond, Reza ,Henry dan Jose mengantar Edward dan Rangga .


"Hati² Abang, kak " Rangga dan Edward hanya mengaguk sebelum masuk mobil lalu di susul Henry, Jose , Raymond dan Reza .


Secara perlahan mobil itu sudah meninggal halaman rumah dan mereka pun kembali masuk dalam rumah .


" Mom, Adara ke atas dulu iya " Elvi hanya mengaguk " mom ,Riane juga iya " Elvi kembali mengaguk membiarkan dua wanita itu menenangkan hati dan pikiran mereka .


" Oma tidak ingin ke kamar " Ucap Erland .


' Untuk apa " Tanya Elvi .


" Siapa tahu Oma ingin menangis seperti mommy dan mama Raine " Jawab Erland .


" Astaga ,anak ini apa mulutnya tidak bisa di kondisi kan " Ucap Rifat menggeleng .


" Cucu Oma mau kuliah ,bukan mau jadi pengemis di sana " Jawab Elvi tertawa kecil .


" Sudah jangan sedih² mumpung di sini ayo kita masak² " Ucap Elvi .


" Jangan Oma " Cegah para cucu nya " Kenapa ' Mereka menggeleng cepat .


" Hei Bunda bisa masak iya " Ucap Amanda kesal .


" Tidak ,bahkan bunda goreng telur saja gosong dan sampai sekarang bunda tidak pernah masak lagi " Ucap Qiandra cepat .


" Iya jangan Oma , mendingan minta di bantu pelayan saia iya Oma kami masih ingin hidup " Ucap Salwa


" Nanti perut kami sakit Gimana Oma " Timpal Afifah .


" Sudah ,ayo bantu Oma masak " Bukannya mendengar kan ucapan Cucu nya Elvi malah memanggil Vania, Amanda , Syahzani dan Ela ke dapur .


" Awas kalau kalian makan iya " Ela menatap tajam anaknya yang langsung di potong Alister " Dia berkata jujur " Ela berdecak lalu meninggalkan mereka .


" Bukannya di semangati malah di jatuhin " Ucap syahzani menatap Afifah " jangan membuat putriku takut " Syahzani menatap Xavier sinis lalu menyusul Ela .


" Jangan macem-macem sana belajar masak " Amanda menghentakan kakinya kesal laku menyusul di ikuti Vania yang hanya terdiam sejak tadi .


" Ayo kita main di belakang saja " Ucap Rifat membawa anak² ke belakang " Ayooo, bagi berapa tim " Ucap Gani .


" Nanti kocok nomor baru pilih biar adil " Ucap Alister .


" Deal " Pekik mereka bersamaan .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dukung terus Edward menjadi novel favorit kalian 🥰🥰🥰🥰🥰


Like .


koment


vote


jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟