XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Si pencuri hati



Sayang, kamu di mana?”


Kevin berteriak di taman belakang kediaman Vicky yang cukup luas.


“Sayang.” Kevin berteriak lagi.


Pasalnya siang tadi, ia di ajak mengunjungi kantor Vicky dan ikut bersama ayah mertuanya ke sana. Ia meninggalkan sang istri di rumah bersama ibunya.


Kevin tak menemukan Ayesha di mana pun. Di kamar, dapur, atau taman belakang. Kevin kembali memasuki rumah Vicky dan mendapati iu mertuanya di sana.


“Ma, Ayesha tidak ada di sana.” Kevin menunjukkan taman belakang itu.


“Ada, Kev. Pasti dia nagkring di rumah pohon itu.” Rea menunjuk rumah kecil di atas pohon belakang rumah ini.


Kevin mengernyitkan dahi. “Ayesha di sana, Ma?”


Rea mengangguk. “Dia tuh kalau bosen pasti larinya ke rumah pohon itu.”


Kevin tersenyum dan kembali ke taman itu. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat rumah kayu di atas sana. Perlahan, ia pun menaiki tangga yang terbuat dari bambu.


Sesampainya di atas pohon, Kevin menunduk untuk memasuki rumah yang kecil itu. Ia mendapati wanita yang ia cari itu sedang tertidur meringkuk.


Kevin duduk di samping Ayesha sembari mengusap lembut kepalanya. “Ternyata kamu di sini, Mas mencari mu dari tadi.”


Ayesha menggeliat merasakan wajahnya yang disentuh. Lalu, ia pun membuka mata dan langsung mengerucutkan bibir.


“Mas lama banget.”


Kevin tersenyum melihat ekspresi lucu itu.


“Katanya cuma sebentar, ga tahunya seharian,” kata Ayesha lagi.


Kevin tersenyum dan menarik tubuh Ayesha untuk dipeluk. “Kangen? Hmm? Kemarin kamu cuekin Mas.”


“Cuekin apa?’ tanya Ayesha menoleh ke wajah suaminya yang menempel pada bahu belakangnya.


“Dari kemarin kamu asyik sama Mama dan Bi Siti, sampe lupa sama Mas dan Mas ketiduran sendirian di kamar.”


Ayesha tertawa. “Oh, itu. Maaf. Habis aku kangen mereka. Apalagi Mama.”


“Aww …” tiba-tiba Ayesha menjerit. “Ssshhh … Ma kebiasaan deh.”


Kevin nenyngir seolah tak merasa bersalah setelah menjadi vampir dan menggigit bahu itu.


“Abis gemes.”


Ayesha mengerucutkan bibir dan Kevin pun mengusap bahu yang putih itu berubah warna menjadi keunguan.


“Mas inget tempat ini?” tanya Ayesha mengajak Kevin mengelilingkan pandangannya pada rumah pohon itu.


“Hmm … dekorasinya familiar,” jawab Kevin sembari mengerlingkan pandangan pada sekeliling design bagian dalam dan luar rumah kecil yang terbuat dari bambu itu.


Ayesha tersenyum dan mengangguk. “Ini memang design kamu.”


Kevin mengernyitkan dahinya. “Maksdunya?”


“Dulu, waktu kecil aku menemukan kertas hasil gambar Mas. Di sana, Mas membuat rumah pohon yang designnya seperti ini.”


“Ya ampun. Jadi. Kamu yang mencuri kertas itu?”


Ayesha mengangguk sembari menjejerkan giginya. “Habis bagus banget gambarnya.”


“Kamu tahu, Sayang. Kertas itu tugas seni rupa Mas. Dan, gara-gara kertas itu hilang, Mas harus berdiri di depan tiang bendera.” Kevin menceritakan tentang kejadia ketika ia masih duduk dibangku SMP kelas tujuh.


“Iya, itu semua karena kamu.” Kevin menggelitiki pinggang Ayesha.


“Aaa …. Mas. Ampun,” teriak Ayesha sembri tertawa menerima kelitikan itu. “Mama …” teriaknya lagi.


“Ngga ada Mama Rea disini. Ternyata kamu pencuri. Dan, sampai sekarang masih aja jadi pencuri,” ucap Kevin yang juga tertawa melihat istrinya kegelian.


Ayesha menahan tangan itu. “Ish, enak aja. Aku bukan pencuri. Sebutan itu terlalu kejam.”


Ayesha kesal dan membalikkan tubuhnya. Ia segera bangkit dan hendak keluar dari rumah-rumahan kecil itu.


“Hei.” Kevin dengan cepat menahan tangan istrinya dan memeluknya kembali.


“Marah? Eum …” Kevin memeluk tubuh belakang Ayesha dengan erat dan mencium pipi, bahu, serta leher itu.


Ia menarik nafasnya untuk menghirup lebih dalam aroma strawberry yang melekat pada tubuh Ayesha.


“Mas tuh kalau ngomong jahat banget, tau ngga?”


Kevin tertawa. “Tapi emang iya kok. Kamu itu pencuri.”


“Mas,” rengek Ayesha yang meminta untuk dilepaskan dari pelukan itu.


Namun, Kevin justru malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Mas, lepas ngga!” rengek Ayesha lagi.


“Ngga.” Kevin menggeleng seperti anak kecil. “Mas ga akan pernah lepasin kamu.”


Kevin kembali mengerlingkan pandangan di sekeliling atas pohon itu. Udara yang dingin dan pemandangan taman yang sore menginginkan dirinya untuk mendapatkan lebih dari sekedar pelukan.


“Tempat ini sepertinya enak untuk bercinta,” ujarnya.


“Tau ah.” Ayesha mencoba meminta dilepaskan.


“Kalau tidak bercinta, bercumbu juga tidak apa.”


“Mas.” Ayesha membulatkan matanya. “Mas, tuh sadar ga sih? Masa abis ngatain orang minta bercinta.”


Kevin tertawa. “Emang omongan Mas salah ya?”


“Tau?” Ayesha mengangkat bahunya. “Pikir aja sendiri.”


Kevin tertawa lagi dan mendekatan bibirnya pada telinga Ayesha. “Kamu tuh memang pencuri. Pencuri hati Mas. Ngerti?”


Sontak pipi Ayesha pun memerah. Lalu, ia langsung membalikkan tubuhnya dan memukul brutal dada bidang itu.


“Mas, nyebelin.”


Kevin tertawa hingga terlentang karena pukulan dari istrinya.


“Nyebelin. Mas, Nyebelin. Ayesha kesel.”


Kevin masih tertawa geli sembari menahan tangan Ayesha yang masih memukulinya. Lalu, ia mengikat kedua tangan itu dengan kedua telapak tangannya yang lebar. Kevin membalikkan keadaan dengan menelentangkan tubuh Ayesha dan mengungkungnya.


“Kalau tidak sedang datang masa periodemu. Sudah habis kamu, Sayang,” ucap Kevin dengan mata yang penuh gairah.


Mereka pun larut dengan bercumbu di atas pohon dengan saksi burung-burung kecil yang hinggap di sana.


Suara lenguhan keduanya terdengar indah. Walau Kevin tidak dapat menikmati inti dari kenikmatan yang dimiliki sang istri, tapi ternyata Ayesha memiliki fantasi sendiri untuk tetap membahagiakan suaminya.