
Usai mengembalikan sepuket mawr putih itu, Ayesha kembali duduk di kursinya. Ia menghelakan nafas sembari membuka pesan dari Kevin. Pesan manis itu sudah berlalu satu minggu yang lalu. Gosip yang beredar tentang dirinya dan sang CEO pun makin santer terdengar. Terlebih dalam satu minggu ini, sikap cuek Kevin ketika bertemu Ayesha semakin tampak, sehingga menimbulkan asumsi bahwa Ayesha sudah dicampakkan oleh CEO dingin itu.
Ayesha kembali mengingat kejadian apa yang membuat suaminya berubah.
“Apa Mas Kevin melihatku dipayungi Tian saat hujan waktu itu?” tanyanya dalam hati.
Kemudian, Ayesha membuka pesan dari Tian. Ia kembali ingat pertanyaan yang dilontarkan Tian tadi, tapi belum ia jawab dan malah ia tinggal pergi. Sepertinya, ini memang waktu Ayesha untuk bersikap. Ia lelah berada di tengah-tengah kedua pria yang egois ini.
Ayesha mulai mengetikkan jarinya di papan keyboard ponsel yang sedang ia pegang. Pesan itu tertuju untuk Tian dan menjawab pertanyaan pria itu tadi saat diruangannya.
“Aku menjawab pertanyaanmu. Ya, aku mencintai suamiku. Aku sangat mencintainya. Mungkin rasa itu lahir sejak kecil, tapi aku selalu berusaha menepis karena sikap dinginnya. Maaf, Yan. Tapi rasa padamu sudah tidak ada lagi sejak aku mengembalikan barang-barang yang kamu berikan waktu itu. Aku mohon berhenti mengejarku karena itu akan sia-sia. Terima kasih.”
Ayesha membaca lagi kalimat yang ia ketik itu, lalu menekan tombol kirim hingga beberapa detik kemudian centang dua itu pun berubah warna menjadi biru.
Di ruangan itu, Tian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sembari menengadahkan kepala. Ia lemas ketika membaca pesan itu. ingin rasanya ia menerima takdir ini, tapi rasanya berat.
Lalu, Tian membalas pesan itu.
“Apa buktinya?”
Ayesha mengernyitkan dahi saat membaca pesan balasan dari Tian dan kembali membalasnya.
“Bukti apa?”
“Bukti kalau kamu mencintai suamimu?”
Tian langsung menjawab pesan Ayesha.
“Baiklah. Jika hal itu bisa membuatmu pergi, maka akan aku buktikan,” jawab Ayesha asal pada pesan melalui whatssapp.
****
“Hai, Ay.” Nindi berdiri di ambang pintu ruang administrasi sembari melambaikan tangannya ke arah Ayesha.
“Pasti masih kerja. Udah waktunya makan siang woy,” kata Nindi lagi semabri melangkahkan kaki mendekati sahabatnya.
Ayesha tersenyum. “Tanggung, Sebentar lagi selesai.”
Nindi duduk di depan meja Ayesha sembari menopang dagunya. Ia melihat wajah Ayesha yang sembab.
“Kamu abis nangis?” tanyanya.
“Ah, ngga.” Ayesha menggeleng.
Sejak semalam, ia memang memangis melihat sikap cuek suaminya saat di apartemen. Tapi, walau Kevin cuek, pria itu tidak pernah absen menarik selimut untuk Ayesha hingga bahu saat Ayesha terlelap lebih dulu ketika malam dan Kevin pun tidak lupa mengecup kening itu sebelum ia ikut merebahkan dirinya di samping sang istri.
“Ay, Aku denger gosip itu,” ucap Nindi.
Ayesha tersenyum dan merapikan kertas-kertas yang semula ia kerjakan. “Udah jangan didenger!”
Lalu, Ayesha bangkit dari kursinya. “Yuk, makan siang di kantin!”
Nindi ikut bangkit dan mereka berjalan beriringan. Ia masih segan untuk memulai pembicaraan tentang pribadi Ayesha, sebelum Ayesha sendiri yang membukanya.
Saat Ayesha dan Nindi berjalan menuju kantin, tiba-tiba Nindi melihat sosok Sean yang juga sedang menuju ke tempat yang sama dan berjalan sendirian.
“Ay, tunggu!” Nindi menahan lengan Ayesha.
“Kenapa sih?” tanya Ayesha bingung.
Namun, Nindi tidak menjawab dan hanya meminta Ayesha untuk tidak melanjutkan langkahnya dan ikut bersembunyi.
Ayesha tersenyum karena ia mengerti akan sikap sahabatnya ini.
“Kamu menghindari Pak Sean?” tanya Ayesha.
Nindi hanya nyengir dan tak menjawab.
“Sebenarnya ada apa sih kamu sama Pak Sean?” tanya Ayesha lagi.
“Beneran? Tapi aku lihat kok kaya yang ada apa-apa ya.”
“Ayesha,” rengek Nindi dan Ayesha pun tertawa.
“Udah ah, ayo jalan lagi! Aku laper nih,” kata Ayesha.
“Tumben,” Jawab Nindi dengan memonyongkan bibir dan terpaksa mengikuti kaki Ayesha karena tangannya sedari tadi mengait pada lengan sahabatnya itu.
Sesampainya di kantin, Ayesha duduk di paling belakang dekat jendela. Mereka sengaja mencari spot yang tak mudah dijangkau orang. Nindi pun sengaja mencari tempat duduk yang tidak terlihat Sean.
“Minumannya dulu, makanannya belakangan.” Nindi membawa nampan yang berisi minuman kesukaan mereka dan meletakkannya di atas meja.
“Pesan makanan yuk!” Ayesha langsung menarik lengan Nindi untuk menuju beberapa stand makanan yang tersedia di sana.
Ayesha dan Nindi berkeliling mencari makanan yang sedang meraka inginkan.
“Itu nasi rames, Nin. Katanya kamu lagi pengen,” ucap Ayesha sembari menunjuk ke arah stand Nasi rames.
Namun saat jari telunjuk Ayesha maju, ternyata jari itu mengenai bahu seorang pria dingin yang sejak satu minggu lalu mengacuhkannya.
Sontak pria itu pun menoleh.
“Oh, maaf Pak.” Ayesha mengangukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Kevin menoleh tanpa ekspresi dan kembali berjalan meluruskan pandangannya tanpa menjawab permohonan maaf sang istri. Mereka benar-benar seperti orang lain dan hal itu membuat Ayesha lelah.
“Ish, sombong amat jadi orang,” kata Nindi lirih.
“Hush, udah ga apa-apa.” Ayesha kembali mengajak Nindi berjalan ke tempat makanan yang ia inginkan tadi.
Di stand makanan yang tak jauh dari Ayesha dan Nindi berdiri, Kevin terus menatap istrinya. Entah mengapa ia sedingin itu pada Ayesha, padahal ia sangat merindukan istrinya, merindukan kebersamaan mereka yang hangat dan penuh canda.
“Kev, lu kenapa lagi sama Ayesha? Marahan?” tanya Sean saat mereka duduk satu meja di kursi khusus petinggi Adhitama Grup ketika sedang menikmati makan siang.
“Gue ga tau, Sean.”
Wajah Kevin terlihat kusut dalam satu minggu terakhir ini.
Sean tertawa. “Sumpah, lu kusut banget Kev.”
Kevin tidak menangaapi candaan itu. ia tetap diam.
“Apa ini gara-gara Tian?” tanya Sean lagi.
Kevin menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk makanan di piring itu. Ia menatap sahabatnya dengan sekasama. “Ayesha masih mencintai Tian, Sean.”
“Are you sure?” tanya Sean terkejut. “Lu yakin? Apa itu cuma asumsi lu doang.”
“Gue lihat mereka sepayung berdua sebelum presentasi minggu lalu. Terus gue juga lihat tawa merekah Ayesha di depan Tian setelah presentasi. Padahal tawa merekah itu ga pernah dia tunjukkan di depan gue.”
“That’s it,” kata Sean. “Hanya karena itu, lu langsung menyimpulkan hal ini. Stupid Boss.”
Kevin langsung membulatkan matanya saat kalimat terkahir itu terlontar dari mulut Sean.
“Sorry, tapi lu terlalu naif Kev,” ucap Sean. “Terus apa kabar dengan dia yang selalu melayani lu atau disaat kalian bercinta. Tidak akan menggairahkan dan berlangsung lama kalau dia juga ga cinta sama lu.”
“Mungkin dia melakukan itu karena kewajiban.”
“Ayolah, Kev. Gue tahu lu ga pernah jatuh cinta dan baru kali ini lu merasakan hal itu. tapi lu pasti tahu ciri-ciri perempuan yang cinta sama lu kan? Karena lu juga sering digilai perempuan,” ucap Sean.
Kevin mengangguk. “Ya, tapi Ayesha bukan wanita agresif seperti perempuan-perempuan yang ngejar gue, Sean.”
“Ck. Ribet lu,” kesal Sean.
Pria palyboy itu lelah menanggapi bos sekaligus sahabatnya itu. Kevin memang aneh, tapi entah mengapa ia nyaman bersahabat dengan pria aneh ini, karena pada dasarnya Kevin adalah orang yang baik dan tulus.