
“Mas Kevin,” panggil Ayesha sambil berlari ke tempat Kevin berdiri tadi.
Namun, Kevin sudah tak ada di sana. Ayesha menengok ke kanan dan ke kiri, lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kevin.
Kemudian Ayesha kembali menghampiri Tian.
Plak
Ayesha menampar pipi Tian. “Apa ini bagian dari rencananmu?”
Tian memegang pipinya. Suara Ayesha sedikit menggelegar hingga beberapa orang di sana melihat ke arah mereka. Sedangkan Tian hanya diam. Tian sama sekali tidak merencanakan hal ini. Bahkan, ia tak melihat keberadaan Kevin.
“Aku tidak tahu Kevin ada di sini, Ay. Sumpah!” ucap Tian dengan mengangkat kedua jarinya ke atas.
“Dia melihat kita pelukan Tian,” ucap Ayesha frustrasi. “Dia pasti marah.”
Ayesha meremas rambutnya. Ia kembali berlari dan diikuti oleh Tian.
“Mas Kevin,” panggil Ayesha lirih.
Tian bisa melihat bagaimana wanita yang ia cintai itu begitu mencintai suaminya. Ia bisa melihat ketakutan di wajah Ayesha dan rasa bersalah itu. Padahal, ia tahu betul bahwa apa yang dilakukan Ayesha tadi untuknya adalah murni kemanusiaan.
Tian membantu Ayesha mengedarkan pandangannya untuk mencari Kevin. Ia ikut menengok ke kanan dan kiri serta menelusuri seluruh penjuru taman ini.
Ayesha pun demikian. Kini, ia malah sudah berderai air mata. Jantungnya berdetak tak karuan.
“Kevin,” teriak Tian ketika mendapati Kevin yang berada di seberang jalan.
Ayesha sontak melihat ke arah Tian, lalu arah matanya mengikuti arah mata Tian.
“Mas Kevin.”
Kevin sempat menolehkan kepalanya ke arah Ayesha dan Tian. Namun, ia kembali meluruskan pandangan dan berjalan.
“Mas,” teriak Ayesha sembari berlari mengikuti langkah Kevin yang berada jauh diseberangnya.
Sedangkan Tian berdiri mematung ditempatnya. Ia hanya menyaksikan bagaimana perjuangan Ayesha meyakinkan suaminya bahwa apa ynag dia lihat tidak seperti yang terjadi.
“Mas, berhenti!” teriak Ayesha lagi. “Tunggu!”
Ayesha terus berlari dan hendak menyeberang jalan untuk menghampiri Kevin yang memang berada di seberang sana. Namun, ia takut dengan lalu lalang mobil yang cukup kencang.
“Mas.”
Ayesha kesal, karena setiap kali ia ingin menyeberang, kendaraan roda empat di sana tak kunjung memelankan lajunya. Namun, ia nekat dan tetap menerobos laju kendaran yng sedang hilir mudik.
“Aaaa ….” Teriak Ayesha saat satu kendaraan roda empat itu hendak menabraknya.
Sontak, Kevin menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke sumber teriakan itu. Ia berlari kencang ke arah Ayesha dengan wajah takut.
Kevin berdiri tepat di depan wanita yang membuatnya kesal. Ayesha berjongkok di tengah jalan sembari memeluk tubuhnya dan memejamkan mata, seolah pasrah dengan kendaraaan yang hendak menabraknya tadi.
Perlahan, Ayesha membuka matanya dan melihat tangan seseorang yang terulur. Ia pun langsung mengangkat kepala dan melihat pemilik tangan yang terulur itu ternyata suaminya.
Bibir Ayesha tersenyum ketika mendengar ocehan dari mulut pedas itu. Ia pun menerima uluran tangan itu dan bangkit.
Kemudian, Kevin memberhentikan setiap kendaraan yang melintas agar ia dan istrinya bisa menyeberangi jalan itu.
Tangan Kevin terus menggenggam tangan istrinya, sementara Ayesha tersenyum mengikuti langkah kaki suaminya hingga sampai di trotoar jalan.
Kevin memang memarkirkan mobilnya di seberang taman, tepatnya di sebuah minimarket besar yang ada di depan taman itu. Ia yang saat itu tengah terburu-buru mencari Ayesha, malas untuk putar balik dan memarkirkan mobilnya di seberangnya saja, lalu memilih menyeberang dengan berjalan kaki untuk sampai di taman itu dengan cepat, mengingat saat ini disekitar area taman sangat padat karena adanya festival pasar malam.
“Apa kamu tidak lihat di sana banyak kendaraan? Huh!” tanya Kevin memarahi Ayesha yang hampir saja tertabrak mobil. “Bagaimana kalau mobil itu menabrakmu?”
Ayesha menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Kevin. Tapi, ternyata Kevin memalingkan wajahnya saat Ayesha menatap.
“Aku mengejarmu, Mas. Aku ingin memberi penjelasan atas apa yang Mas lihat tadi,” ucap Ayesha.
“Tidak perlu.” Kevin membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan ke arah mobil yang ia parkir.
Sementara Ayesha terus mengejar langkah Kevin, hingga berlari. Sedangkan di seberang sana, Tian hanya bisa melihat pemandangan itu. Pemandangan yang pernah ia alami dulu. Saat marah, Ayesha pernah seperti sekarang, mengejarnya saat ia berjalan cepat dan meminta maaf. Dan, kini Ayesha melakukan itu, tapi bukan untuknya melainkan untuk pria lain yang beruntung.
Tian menarik nafasnya kasar dan membalikkan tubuhnya. Ia memang harus melepaskan Ayesha, karena cinta Ayesha sudah tak lagi miliknya. Kini, ia harus benar-benar berbesar hati.
****
“Mas, maaf.” Ayesha terus merengek ketika Kevin tengah mengemudikan mobilnya.
Namun, Kevin masih tetap diam. Pandangannya lurus ke jalan.
“Tian merubah password di sistem keuangan. Teman-teman di sana meminta bantuanku karena aku dan Tian yang mengerjakan sistem ini. Aku mencoba meretas, tapi tidak berhasil. Akhirnya aku menghubungi Tian untuk meminta passcode itu karena Mbak Risa, melodi, dan Diah tidak bisa memasukkan data sejak kemarin.” Ayesha mencoba menjelaskan dari awal tentang apa yang terjadi.”
Kevin menoleh ke arah istrinya.
“Mengapa tidak memberitahuku dari awal tentang ini? Ada Sean, Ada Henry. Ada banyak di perusahaan bahkan kenalanku yang jago meretas. Tidak harus mendatangi pria licik itu kan? Kecuali memang kamu yang juga ingin bertemu dengannya,” kata Kevin kesal.
“Tidak begitu.” Ayesha menggeleng kepalanya cepat. “Yang Mas lihat tadi hanya bentuk support aku ke Tian agar dia berlapang dada dan bisa melepasku. Itu saja.”
Kevin masih diam. Dari lubuk hatinya yang paling, ia percaya bahwa sang istri tak akan mengkhianatinya. hanya saja, ia kesal dengan apa yang telah ia lihat tadi.
“Aku sudah memberitahumu di whatsapp, tapi hanya centang satu. Dan, aku sudah mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak aktif,” kata Ayesha lagi.
“Alasan, kita banyak waktu berdua hari ini dan kamu tidak menceritakan apapun,” jawab Kevin dengan arah mata yang masih lurus ke depan.
“Aku pikir, aku bisa menyelesaikan ini sendiri,” jawab Ayesha menunduk sembari memainkan jari tangannya.
“Bodoh.”
Sontak, Ayesha menoleh ke arah Kevin yang masih dengan posisi sama, menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Seketika, hati Ayesha kembali berdenyut mendengar penuturan pedas itu.
“Iya, aku memang bodoh. Makanya, aku minta maaf,” ucap Ayesha lirih dengan menundukkan kepalanya.
Mendengar permohonan yang lirih itu, Kevin pun menoleh. Ia melirik ke arah Ayesha yang tengah memalingkan wajahnya ke jendela. Beberapa kali Kevin melirik ke arah istrinya. Namun posisi Ayesha masih sama. Wanita itu menyembunyikan tangisnya dengan mengarahkan wajahnya terus ke arah jendela tanpa suara.
Keadaan di dalam mobil itu pun semakin terasa hening karena tak ada suara lagi yang keluar dari mulut keduanya.