
“Ay, gimana ponakanku? Sehat kan?” Nindi mengirim pesan pada Ayesha.
“Alhamdulillah kami sehat, aunty.” Ayesha menambahkan senyum manis di sana.
“Syukurlah. Aunty senang dengarnya. Jangan bikin mommy susah ya. Nanti kalau mau keluar, keluar aja, jangan pakai drama seperti daddy-mu.”
Ayesha pun tertawa membaca pesan itu. Ia juga membalas pesan itu dengan emot tertawa sembari menutup mulutnya.
Gerakan tawa Ayesha, terasa di tangan Kevin yang sedang memeluk perut besar itu. Ayesha dan Kevin masih berada di kediaman Kenan. Mereka istirahat sebentar di kamar Kevin. Ayesha duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya pada dinding tempat tidur dan kakinya diluruskan. Sementara Kevin tidur telungkup dengan kepala yang menempel pada pinggang Ayesha dan tangan yang memeluk perut besar itu. Biasanya, Kevin akan tertidur di perut Ayesha, tapi berhubung perut besar itu sedang ada yang mengisi, sehingga Kevin memilih menempelkan kepalanya di bawah ketiak Ayesha dan tetap memeluk erat.
“Nanti, kamu bisa datang kan, Nin?” tanya Ayesha yang melanjut mengirim pesan pada sahabatnya.
“Iya, datang dong. Apalagi ada kamu.”
Ayesha kembali tertawa.
“Aku juga kangen sama ponakanku,” jawab Nindi lagi melalui pesan whatsapp.
“Siip, kalau begitu. Sampai ketemu nanti malam.”
“Yoi,” jawab Nindi. “Btw, kamu lagi apa?”
Ayesha pun memoto kepala Kevin yang sedang memeluk tubuhnya. “Lagi nemenin beruang kutub tidur.”
Sontak, Nindi pun yang membaca pesan itu tertawa. Lalu dengan semangat, Nindi memainkan arinya di tuts keyboard ponsel yang baru dibelikan Sean. “Kok sama sih?”
Nindi memoto kepala Sean yang tengah tertidur di atas perutnya sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nindi.
Kedua wanita itu pun tertawa dengan menekan emot tawa sebanyak-banyaknya di dalam pesan itu.
Tak lama kemudian, Nindi pun menelepon Ayesha.
“Halo,” jawab Ayesha dengan suara yang masih tertawa.
“Ay, kok mereka sama sih posisinya?”
“Ngga tahu,” jawab Ayesha menggeleng.
“Mungkin karena mereka lahir dari habitat yang sama kali ya.” Nindi tertawa.
“Ya, tapi Kak Sean ngga lahir di kutub,” ledek Ayesha
“Iya, dia mah lahirnya di gurun pasir,” sahut Nindi.
“kok gitu?” tanya Ayesha bingung.
“Ya, karena orangnya gersang akan belaian.”
Ayesha pun tertawa. “Nindi … Nindi … ada ada aja. Kalau orangnya denger, abis nanti kamu diterkam.”
Nindi meloudspeaker percakapannya dengan Ayesha.
Tiba-tiba kepala Sean bergerak dan bicara tepat di speaker ponsel sang istri. “Iya, benar Ay. Aku denger. Jadi sepertinya percakapan kalian harus selesai.”
“Nah loh! Ngga ikutan,” jawab Ayesha dari sambungan telepon itu.
“Ay, tolongin …” terdengar suara Nindi manja.
Ayesha kembali tertawa. “Selamat menikmati, Nin. Mumpung masih sore.”
Ayesha menutup sambungan telepon tiu sembari terkikik geli.
“Ada apa sih, Sayang?” tanya Kevin terbangun.
“Nindi diterkam terus sama Kak Sean.”
Kevin menegakkan kepalanya hingga sejajar dengan Ayesha. “Kamu juga mau Mas terkam?”
“Ish, apa sih? Bangun-bangun jadi mesum. Udah hibernasi lagi sana!” Ayesha mengacak-acak rambut suaminya dan menyuruh suaminya untuk tidur lagi.
Kevin yang manja pun menurut dan merebahkan kepalanya kembali. Ayesha menaruh kepala itu di cerug lehernya, sembari mengelus rambut yang tadi ia acak-acak. Ayesha ak bisa membayangkan bagaimana repotnya nanti setelah melahirkan. ia akan disibukkan oleh tiga bayi sekaligus.
****
“Sayang, suapin!” pinta Aldy pada istrinya.
Aldy dan Kayla sampai lebih dulu. Setelah kedatangan mereka, baru di susul oleh Sean dan Nindi.
“Geli gue, liat lu Al. makin manja aja,” kesal Sean.
Aldy malah tertawa. “Biarin. Iri tanda tak mampu.”
“Beuh, ngapain iri. Kalau dulu iya, tapi sekarang ngga lah.” Sean mendekatkan tubuhnya pada Nindi.
“Dimaklum ya, Nin. Mereka tuh emang suka gitu," celetuk Kayla.
Nindi tersenyum. “Sekarang udah ngga kaget, Mbak.”
Kayla pun ikut tersenyum. Sebelumnya, Kayla dan Nindi memang tidak akrab. Mereka kenal dekat setelah Nindi menjadi istri Sean.
“Hai …” teriak Kinara dari kejauhan sembari tangan kanannya melambai ke arah Kayla, Aldi, Sean, dan Nindi. Sedangkan tangan kirinya memeluk lengan Vinza untuk berpegangan, mengingat kaki Kinara masih belum sembuh benar dan masih butuh bantuan ketika berjalan.
“Hai …” Kayla, sang kakak pun antusias menyambut adiknya.
Keduanya langsung bercium pipi.
“Hai, Za.” Kayla juga memeluk Vinza. Lalu bergantian dengan Aldy dan Sean.
“Baik. Kamu juga gimana kabarnya? Bagaimana keadaan kakimu?” Nindi belik bertanya setelah menjawab pertanyaan itu.
“Ya, seperti ini.” Kinara menunjuk kakinya yang masih di balut dengan kain perekat. “Masih dalam pemulihan.”
“Semoga tidak lama lagi, bisa berjalan normal,” ucap Nindi.
“Aamiin,” jawab Kinara. “Oh, ya. By the way. Aku minta maaf ya katanya karena aku pernikahan kalian jadi sedikit drama.”
Kinara menatap Sean dan Nindi bergantian.
“Ngga kok. Justru dengan begitu, Nindi jadi yakin kalau aku benar-benar mencintainya. Iya kan, Sayang?” Sean menatap wajah Nindi.
Nindi hanya menanggapi dengan senyum.
"Dih, bukan jawab malah senyum. Nyebelin." Sean mencubit ujung hidung Nindi, membuat Kinara dan Kayla bersorak, meneriaki keromantisan Sean pada istrinya.
"Vinza, aku mau diromatisin kaya gitu," kata Kinara manja.
Vinza yang cool itu hanya menanggapi dengan senyum lebar. Sedangkan Aldy ikut meledeki sahabatnya, sama seperti Kayla dan Kinara.
"Seru banget sih! Wah, kita ketinggalan nih." Tiba-tiba terdengar suara Kevin.
"Yah, bu mil telat," sahut Kinara.
Kevin menyalami teman-temannya. Sementara, Ayesha lebih dulu menyalami kakaknya, lalu Nindi dan teman-teman suaminya.
"Kebiasaan tukang telat," kesal Sean pada Kevin.
Kevin nyengir. "Sorry, nanggung soalnya."
"Jiah,, kirain gue doang yang nanggung." Sean langsung menyahut.
"Wah, gue dong yang apes, karena Kayla lagi palang merah," celetuk Aldy.
"Yang paling apes itu Vinza," kata Sean. "Liat noh, dia cuma nyengir doang."
Sontak semua pun tertawa.
"Makanya, cepetan halalin Nara, Za," ujar Kayla.
"Maunya sih gitu kak, apa besok aja aku suruh Papa ke rumah Om Gun?" tanya Vinza.
Semua kembali.bersorak. Kini Kinara dam Vinza yang menjadi bahan ledekan.
"Cakep tuh," sahut Aldy.
"Wah, siap siap kondangan lagi nih," kata Kevin.
"By the way, Keanu mana?" tanya Sean.
Kevin mengangkat bahunya. Vinza pun menggeleng kepala. Tidak ada yang tahu dimana Keanu. Anak bungsu Kenan itu memang sedikit misterius.
"Hai, boleh gabung?" tanya seorang pria yang berdiri di meja restauran yang sudah di booking Aldy.
Sontak semua orang menoleh ke sumber suara itu.
"Tiaaan ..." teriak Kayla.
Mantan kekasih Ayesha itu pun tampak tersenyum dengan kedua lesung pipit yang terbetuk sempurna.
"Hai, long time no see."
Aldy, Sean, dan Kayla memeluk Tian bergantian.
Pria tu juga bersalaman pada Vinza dan Kinara. Lalu, ia berpelukan pada Kevin dan bersalaman pada Ayesha.
"Perutmu sudah besar sekali, Ay."
"Iya mih, tinggal nuggu persalinan."
Ayesha dan Tian saling sapa. Dan, Jangan ditanya ekspresi Kevin.
"Kok ga ngabarin, Bro?" tanya Sean.
" Iya nih, tau-tau nongol. Giliran gue nikahan aja, kaga nongol lu," sambung Aldy kesal.
"Sorry, bukannya ga mau dateng, tapi minggu itu emang jadwal gue padet bgt," jawab Tian santai.
Tian yang semula berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku, kini duduk di samping Kevin setelah pria itu mengajaknya untuk duduk.
"Halah alasan."
"Beneran, Al." Tian meyakinkan sepupunya.
"Terus, sekarang dalam rangka apa balik Jakarta?" tanya Sean.
"Gue pengen kasih ini." Tian membagikan beberapa undangan sesuai dengan nama yang tertera di undangan itu.
"Wah, Akhirnya. lu bisa juga meggendalikan perasaan lu sama Ayesha."
Tian nyengir dan memberikan undangan itu satu persatu pada temannya.
Ayesha ikut membuka Undangan itu. Di mempelai wanita tercatat sebuah nama yang sangat ia kenal, yaitu nama jessica.
"Mungkinkah ini Jessica yang aku kenal," gumamnya. Jika iya. Ayesha sangat senang.