
Pagi ini, Sean mengantar Nindi pulang. Namun, sebelum menuju kost Nindi, Sean sengaja mengarahkan mobilnya menuju kediaman sang kakek. Kedua orang tuanya pun tinggal di rumah itu.
Sean sengaja meminta Aldy dan Kevin untuk bermain tenis esok harinya, karena hari ini ia ingin memperkenalkan Nindi pada keluarganya. Setelah apa yang ia lakukan semalam, sepertinya ia memang harus bertanggung jawab. Walau semalam ia masih menjaga kehormatan Nindi, tapi tetap saja ia sudah memanfaatkan kepolosan wanita itu dan mengambil keuntungan darinya.
“Kita kemana? Kok belok ke sini? Ini bukan arah ke kost aku,” ucap Nindi sembari melihat jalan yang diambil Sean.
“Memang tidak. Kita akan ke rumah kakekku dulu,” jawab Sean sembari menolehkan wajahnya sebentar ke arah Nindi dan tersenyum.
“Tapi penampilanku seperti ini.” Nindi menunjuk pada dirinya yang belum siap untuk bertemu keluarga Sean yang ia tahu bukanlah dari keluarga sederhana.
Sean kembali menoleh ke arah Nindi dan memperhatikan wanita yang tengah duduk manis disebelahnya itu. “Seperti apa? Ini cantik kok.”
Saat ini Nindi memang menggunakan dres cantik dengan panjang sedikit di atas lutut pemberian Sean.
“Tapi aku belum dandan.”
Sean tersenyum. Padahal Nindi sudah menggunakan lipstik berwarna merah muda. Ia juga sedikit memoleskan perona pipi di pipinya. Entah alat-alat itu datang dari mana, tapi pagi ini Nindi memang sudah tidak terlihat pucat sama sekali. Bahkan wajahnya tampak segar dan berseri.
Sean menggengam tangan Nindi yang berada di atas paha wanita itu sendiri. “Kamu cantik, Nin. Walau tidak berdandan pun, kamu tetap cantik. Hanya saja kamu tidak percaya diri.”
Ya, beberapa hari terakhir Sean memang sering melihat Nindi yang tak berpenampilan seperti di kantor saat berada di apartemennya. Namun, Nindi tetap terliat cantik, apalagi saat wanita itu bangun tidur. Sejujurnya, sean semakin gemas ketika melihat rambut Nindi yang berantakan dan wajah naturalnya.
Sean tersenyum, membuat Nindi ikut tersenyum. Ia tersipu malu mendengar pujian dari mulut Sean.
Mereka pun bergerak menuju kediaman James. Kebetulan sudah hampir satu bulan, Sean tidak bertandang ke rumah ini. Ia hanya berkomunikasi dengan sang ibu melalui panggilan video call atau bertandang ke kantor sang kakek untuk bertemu ayahnya, karena kini perusahaan James dikelola penuh oleh Riza dan Vanesa. Namun, Vanesa lebih sering melakukan pekerjaannya di rumah, hanya dua ali dalam satu minggu ia berada di kantornya.
Tiga puluh menit kemudian, Sean sampai di kediaman sang kakek.
“Mas Sean?” tanya penjaga keamaan yang menjaga kediaman itu ketika Sean membuka kaca mobilnya di depan pagar.
“Hai, Mang Diman. Apa kabar?” Sean menyapa pria paruh baya yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun pada James.
“Baik, Mas. Mas Sean sendiri apa kabar? Lama banget ga ke sini.”
Sean tersenyum. “Saya baik, Mang. Alhamdulillah.”
Pria paruh baya itu pun membuka pagar dan mengikuti mobil Sean yang sudah masuk ke area parkir dalam rumah itu.
Sean keluar dari mobilnya. Begitu pun dengan Nindi.
“Pacarnya, Mas?” tanya Mang Diman sembari melirik ke arah Nindi.
Sean mengangguk dengan senyum. “Cantik ga, Mang?” tanya berbisik.
Kedua pria beda usia itu pun melihat ke arah Nindi. Nindi pun merasa bahwa mereka tengah membicarakannya.
“Uh, cantik banget, Mas. Mas Sean bisa aja cari cewek,” jawab Mang Diman.
“Oh, iya dong. Ini calon saya, Mang.” Sean menarik Nindi yang sedari tadi berdiri mematun di depan pintu mobilnya. Lalu, Ia memeluk pinggang Nindi dari samping. “Cocok kan, Mang?”
Mang Diman tersenyum dengan mengangkat ibu jarinya ke atas. “Cocok buanget.”
Sean pun tertawa dan pamit untuk masuk ke dalam rumah sang kakek. Namun, Nindi masih terlihat canggung. Langkah kakinya begitu pelan dan telapak tangannya pun dingin.
Nindi berhenti sejenak, saat mereka hendak memasuki rumah besar itu.
“Kenapa?” tanya Sean yang melihat Nindi menghentikan langkahnya.
“Apa tidak terlalu cepat?” tanya Nindi ragu.
Sean menggeleng. “Tidak.”
“Apa keluargamu akan menerimaku?” tanya Nindi lagi dengan memandang kedua bola mata Sean yang indah.
“Mama Papa pasti akan menerima. Mereka bukan orang tua yang kolot. Opa juga. Mungkin hanya Oma yang sedikit ribet. Tapi it’s oke. Walau terkadang Oma menjengkelkan, beliau tetap baik.” Sean memberi gambaran sedikit tentang anggota keluarganya yang akan diperkenalkan pada Nindi.
Nindi menarik nafasnya kasar dan membuangnya perlahan. Kegugupan itu semakin kentara dan Sean melihat ekspresi itu. Namun, Sean justru malah tersenyum melihat ekspresi Nindi. Nindi terlihat lebih takut pada keluarganya dibanding pada Kevin, pemilik Adhitama Grup yang pernah ia marah-marahi untuk membela sahabatnya.
“Ready?” tanya Sean lagi pada Nindi yang sepertinya sudah mendapat amunisi dan lebih siap.
“Sean,” teriak Vanesa yang melihat putranya datang. “Papa, ada Sean.”
Waktu masih pagi menjelang siang. Dan, kebetulan hari ini weekend. Kedua orang tua serta nenek kakek Sean masih berada di rumah ini. Mereka belum pergi untuk melakukan kegiatannya masing-masing.
“Hai, Ma.” Sean memeluk sang ibu yang sudah membentangkan kedua tangannya.
“Mama rindu, Sean.”
“Sean juga, Ma.”
Ibu dan Anak itu cukup lama berpelukan, hingga kemudian terlerai. Lalu, Vanesa menoleh ke arah Nindi yang berdiri tepat di samping Sean.
“Ini kekasihmu?” tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Sean mengangguk. “Ya, Ma.”
Nindi langsung menampilkan senyum manisnya di depan Vanesa dan mengulurkan tangan. Vanesa pun ikut tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Nindi langsung mencium punggung tangan Vanesa.
Vanesa terkejut dengan kesopanan Nindi, karena dahulu pacar putranya tidak ada yang sesopan ini.
“Hai, Se.” suara bariton seorang pria menghampiri Sean, Nindi, dan Vanesa. Dia adalah Riza.
“Hai, Pa.” Sean langsung memeluk sang ayah, seorang pria yang selalu menjadi idolanya.
Sosok pria yang begitu sayang keluarga. Sayangnya pun pada sang ibu tidak diragukan lagi. Sean sengaja memilih untuk tinggal sendiri di apartemen karena tak tahan melihat kemesraan kedua orang tuanya. Riza selalu mengalah dan bisa menempatkan diri. Ia pun selalu bisa menerima perlakuan Alin yang sering kali menyebalkan menurut Sean. Namun, sang ayah hanya menjawab bahwa apa yang ia lakukan karena cinta, jadi ia tak merasa terbebani.
Kemudian, Sean memperkenalkan Nindi pada Riza. Pria paruh baya yang juga masih terlihat tampan itu pun langsung menerima kehadiran Nindi.
Vanesa dan Riza mengajak Nindi ke ruang keluarga.
Tak lama kemudian, James dan Alin pun datang dari arah pekarangan belakang.
“Loh, ada tamu?” tanya James.
“Opa.” Sean langsung berdiri dan memeluk kakeknya. “Wah Opa makin sehat aja.”
“Iya dong, Ini semua berkat ibumu dan nenekmu yang selalu merawat Opa.”
“Oh, ya ngomong-ngomong Oma mana?” tanya Sean yang tak melihat kehadiran Alin.
“Apa? Kamu masih ingat pulang?” tanya Alin yang tiba-tiba datang dan memukul kepala Sean.
Sean tertawa. “Maaf Oma. Sean sibuk, jadi baru sempat ke sini.”
“Sibuk mengurusi perusahaan orang lain. Padahal kamu sendiri memilikinya,” sahut Alin ketus.
Sean hanya nyengir. “Kan di perusahaan ada Mama dan Papa, jadi masih aman dong.”
“Kamu tuh, betah banget kerja di perusahaan Adhitama,” kata Alin lagi dengan nada yang masih sama.
“Ngomong-ngomong ini siapa?” tanya Alin setelah melihat NIndi.
Nindi langsung berdiri. Ia menghampiri James dan Alin. Lalu, mengulurkan tangan untuk menyalami nenek dan kakek Sean.
James tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Namun, Alin tidak menerima uluran tangan Nindi. Wanita tua itu malah memandang Nindi dari kepala hingga kaki dengan pandangan sinis.
“Ini pacarmu?” tanya Alin.
Sean memeluk bahu Nindi dari samping. “Iya, Oma. Cantik kan?”
“Tidak lebih cantik dari Kinara. Oma lebih suka Kinara,” jawab Alin yang langsung pergi ke belakang.
Sontak, Nindi pun terdiam. Hari ini, ia sudah dua kali mendengar nama itu. Pertama, pagi tadi saat Sean menerima telepon dari Aldy, terdengar suara Sean yang terkejut sembari menyebut nama itu. Dan, sekarang dari mulut nenek Sean. Ia pun tak tahu siapa itu Kinara? Mantan pacar Sean kah? Tapi kenapa mereka putus? Banyak sekali pertanyaan yang ingin Nindi tanyakan seputar wanita yang bernama Kinara itu. Padahal wanita yang disebutkan namanya tidak pernah ada hubungan apapun dengan Sean. Sejak dulu, Kinara hanya menganggap Sean sebagai kakaknya. Itu saja.
Sean tersenyum pada Nindi sembari memeluk erat bahu itu. Ia mengisyaratkan bahwa neneknya memang seperti itu, tak usah diambil hati.
Nindi pun melebarkan bibirnya, memberi tanda bahwa ia baik-baik saja.