
Hari ini, Nindi resmi mengundurkan diri dari Adhitama corporate. Peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan pasangan suami istri berada dalam satu kantor, tetap berlaku. Hal itu pun berlaku untuk Kevin dan Ayesha. Oleh karena itu, Ayesha juga mengundurkan diri setelah projectnya selesai. Hal yang sama pun dilakukan Nindi. Wanita itu diberikan kesempatan untuk tetap bekerja sampai project yang ia tangani selesai. Dan minggu kemarin, project itu pun selesai.
“Hei, kenapa sedih?” tanya Nindi pada suaminya.
“Ck. Tidak ada lagi pemandangan yang menarik di kantor.”
Nindi mencibir. “Gombal.”
“Serius,” sahut Sean.
Nindi tertawa. Ia berdiri sembari melipat kedua tangannya dan menyandarkan pinggulnya di meja kerja Sean. sedangkan Sean duduk di kursi kerjanya sendiri. Mereka tengah berada di ruangan Sean.
“Sini!” Sean menepuk kedua pahanya dan meminta Nindi untuk duduk di pangkuan itu.
Nindi menurut. Ia mendekati Sean dan duduk di pangkuan itu. “Pasti kamu senang aku tidak lagi bekerja, jadi tidak ada orang yang ngawasin kamu.”
“Memangnya aku mau ngapain?” tanya Sean.
“Ya, siapa tahu. Mata kamu jelalatan sama karyawan fresh graduate, yang masih kenceng dan muda.”
“Kamu juga masih kenceng. Nih buktiknya.” Sean meremas dada Nindi yang bulat.
Sontak, Nindi menepis tangan itu. “Mas, ih. Ini namanya pelecehan.”
“Biarin. Mas senang buat kamu marah, terus kamu cemberut.”
Benar saja, Nindi mengerucutkan bibirnya, membuat Sean tertawa. Dan, Nindi ikut menyungging senyum, lalu memeluk sang suami.
“Aku cinta kamu, Mas,” bisik Nindi di telinga itu.
“Udah tahu.”
Sontak, Nindi melonggarkan pelukan itu dan memukul dada Sean.
“Aww … kok dipukul sih?” tanya Sean sembari tertawa.
“Lagian ga romantis banget. Aku bilang cinta, malah jawabannya begitu.”
“Terus jawabnya harus gimana?” tanya Sean pura-pura.
“Iya, Sayang. Aku juga mencintaimu melebihi dari hidupku. Gitu jawabnya,” sahut Nindi.
“Itu berlebihan namanya,” jawab Sean dengan bibir yang masih menyungging.
Nindi pun beranjak dari pangkuan itu. Sean benar-benar menyebalkan. Pria itu selalu membuat mood Nindi berantakan. Apalagi ia juga merasa hormonnya sedang tidak stabil.
“Hei, mau kemana?” Sean menahan lengan sang istri.
“Balik ke ruanganku. Lama-lama di sini makan ati.”
“Enak dong. Hm.” Sean menarik tubuh Nindi dan menciumi bahu serta leher itu.
“Tau ah.”
“Jangan marah-marah terus! Nanti cepet tua,” ucap Sean tersenyum melihat istrinya yang akhir-akhir ini sering merajuk.
“I love you more, Nindi.” Sean menyematkan kalimat itu tepat di telinga Nindi.
Wanita itu pun tersenyum malu.
Sean melonggarkan pelukan dan menatap istrinya. “Ah, sayang sekali kita berada di kantor. Kalau di apartemen pasti sudah dua ronde.”
Nindi langsung mencubit perut Sean.
“Aww … Sayang. Sakit. Cubitan kamu sakit banget,” kata Sean meringis.
NIndi tertawa. “Orang cancer memang cubitannya maut. Makanya jangan macam-macam!”
“Goyangannya juga maut,” sahut Sean dengan wajah mesum.
Nindi mencibir dan segera pergi dari ruangan itu. Namun dengan cepat Sean mencoba meraih tubuh Nindi yang berusaha menghindar.
Nindi tersenyum dan memberi kecupan dari jarak jauh.
Sean menyeringai, melihat kelakuan istrinya yang menggoda. “Awas ya nanti di rumah! Mas abisin kamu.”
“Uuuh, siapa takut?” Nindi menjawab dengan nada genit sebelum menutup pintu ruangan itu.
“Si*l,” kata Sean menggeleng setelah sang istri pergi. Ia merasakan sesuatu yang biasanya tersalurkan oleh sang istri. Dan, itu semua karena Nindi.
****
“Mas, masih lama?” tanya Nindi pada suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaan.
Sudah pukul delapan malam, tapi mereka masih berada di kantor.
“Sebentar lagi, Sayang. Besok weekend, jadi harus di selesaikan semuanya hari ini.”
Nindi mengangguk dan mengerti. Ia juga sering mengalami ini menjelang libur dua hari. Tapi, setelah satu minggu lalu projectnya selesai, Nindi tak lagi banyak pekerjaan dan hanya mengajarkan ke anak baru tentang pekerjaan yang akan ia tinggalkan.
Nindi berjalan menghampiri suaminya yang masih duduk di kursi besar itu. “Mau aku bantuin?”
Sean melirik ke arah sang istri. “Boleh.”
“Mana?” tanya Nindi.
Lalu, Sean menepuk pundaknya. “Bantu Mas pijitin ini aja ya. Pegal sekali rasanya.”
Nindi pun tersenyum dan mulai menaruh kedua tangannya pada kedua pundak Sean.
“Hmm … enak sekali. Semua yang ada di kamu memang enak,” ucap Sean ambigu sembari menggoyangkan kepalanya.
Nindi tersenyum sambil mengeraskan pijatannya. Lalu, tangan Nindi merabah ke bagian bawah tubuh Sean. “Kalau yang ini pegal juga ngga?”
Sontak, Sean melirik. “Wah bangunin macam tidur.”
Nindi tertawa dan segera menarik tangannya. Ia juga hendak menjauh dari Sean. namun, Sean mencekal tangan itu.
“Tanggung jawab?”
Nindi kembali tertawa. “Iya, aku tanggung jawab tapi di rumah. Makanya ayo cepat pulang!”
Sean menyeringai. Ia pun semakin semangat menyelesaikan pekerjannya. Semakin hari, Nindi semakin nakal, tapi hal itu membuat Sean semakin senang.
Tak lama kemudian, mereka pun pulang dengan keadaan gedung yang sangat sepi. Sean dan Nindi berjalan beriringan menuju basement. Di tengah langkah itu, mereka bercanda. Terkadang Sean yang gemas pun meremas atau menapar lembut b*k*ng Nindi.
“Pokoknya nanti kamu ga boleh sering-sering lembur. Aku ga mau ditinggal di apartemen sendirian,” ucap Nindi saat mereka hendak menaiki mobil.
“Iya. Mas akan pulang tepat waktu. Kalau pun pekerjaan belum selesai, akan Mas selesaikan di rumah.”
“Good,” jawab Nindi dengan menaikkan ibu jarinya ke atas.
Sean membuka pintu itu dan menuntun sang istri untuk duduk di kursi penumpang yang berada tepat di samping kursi kemudi. Lalu, ia mengitari kap mobil dan duduk di samping Nindi.
Seperti biasa, Sean memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya. Ritual kecil yang selalu Sean lakukan untuk Nindi, membuka pintu mobil dan memakaikan seatbelt. Pria itu memang romantis. Bahkan setiap kali Nindi digempur habis-habisan, setelahnya Sean pun bertanggung jawab dengan memandikan dan memakaikannya baju, seperti anak kecil.
“Sayang, besok kita ke rumah Opa. Dari kemarin, kita diminta menginap di sana,” kata Sean melirik istrinya sembari tetap fokus menyetir.
Nindi mengangguk. “Oke.”
“Oma, kangen pepes ayam buatanmu.”
“Oh ya?” tanya Nindi senang, karena akhirnya ia bisa meluluhkan sikap Alin melalui perutnya.
Sean tersenyum dan mengangguk. “Papa kemarin telepon dan bilang seperti itu. Papa juga kangen sama masakan ala sunda. Dan itu, hanya kamu yang bisa membuatnya.”
Nindi tersenyum menatap sang suami. Ia mengingat benda yang ia beli siang tadi saat makan siang dan saat Sean kelaur kantor dengan Kevin. Nindi sengaja membeli alat tes kehamilan untuk memastikan periodenya yang tak kunjung datang dan itu diluar sepengetahuan Sean.
Sean pun ikut tersenyum sambil tangannya menyentuh kepala Nindi dan mengacak-acak rambut itu.