XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap duapuluh dua



“Belok kiri, Mas!” kata Nindi saat memberikan petunjuk pada Sean yang sedang menyetir menuju rumah Anjas.


“Waktu Mas menjemputmu, belok kanan kok,” sahut Sean.


“Belok kiri lebih dekat. kalau ngikutin maps emang pasti disuruhnya ke kanan.”


Sean melirik istrinya. “Iya deh.”


“Ish, dibilangin. Aku kan sering ke sini.”


“Ngapain?” tanya Sean.


“Ya, ketemu Nabila dan adiknya.”


“Oh.” Sean membulatkan bibir. “Mas kira mau ketemu sama bapaknya.”


“Apaan sih, Mas? Mulai deh,” kesal Nindi sambil melirik Sean.


Sean tertawa.


Beberapa menit kemudian, Sean dan Nindi sampai di depan rumah Anjas. Sean pun memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah itu.


Di dalam sana terlihat Anjas yang sedang mencuci mobil, sedangkan Nabila membantu ayahnya dan Nafisa berada di kursi baby berbentuk bulat beroda dan bisa berjalan seiring gerakan kaki Nafisa yang belum berdiri tegap.


“Aunty,” teriak Nabila ketika melihat adik dari ibunya keluar dari mobil sedan mewah itu.


Anjas pun mengehntikan aktifitasnya saat melihat mobil itu terparkir. Pria itu tersenyum.


“Nabila,” Nindi ikut berteriak.


“Nindi, suaramu bisa membuat tetangga Anjas keluar tau,” kata Sean memperingatkan istrinya.


“Biarin aja sih. Namanya juga kangen.”


Sean menggeleng sambil tersenyum. Sikap Nindi memang bar-bar, tapi Sean suka. Gimana dong?


“Hai, Sean.” Anjas mendekat dan menyapa suami Nindi.


Sean pun melakukan hal yang sama. Kedua pria itu tampak bersalaman dan berpelukan ala pria sejati. Sedangkan Nindi langsung memeluk dan menciumi dua keponakannya. Kini, wanita itu sedang menggendong Nafisa.


“Ibu mana, A?” tanya Nindi pada Anjas.


“Lagi ke supermarket sama Bibi,” jawab Anjas santai sambil merapikan kembali perlengkapan membersihkan mobil tadi.


“Kalian ke sini kok ga kasih kabar?” tanya Anjas.


“Sengaja, supaya Aa ga usah repot-repot bikin makanan,” jawab Nindi


Anjas menyuruh Sean dan Nindi masuk. Adik ipar dan suaminya itu pun masuk ke dalam rumah Anjas sambil membawa Nabila dan Nafisa.


Nindi memilih duduk di ruang keluarga. Sean pun megikuti sang istri.


“Mau minum apa Sean?” tanya Anjas.


“V*dka ada?”


Nindi langsung membulatkan matanya pada sang suami yang bertanya dengan pertanyaan aneh.


“Becanda, Sayang. Serius banget sih” sahut Sean dengan menatap istrinya sambil tersenyum.


Anjas pun ikut tersenyum. “Yang dingin aja ya, kebetulan cuaca di luar lagi panas.”


Sean dan Nindi mengangguk.


“Aunty, ini buat Nabila?”


“Iya.” Nindi mengangguk. “Ini buat Nabila dan ini buat Nafisa.”


“Wah, banyak banget,” seru Nabila yang senang dengan pakaian juga mainan yang dibawakan Nindi.


Anak kecil itu mengutamakan mainan. Ia langsung membuka bungkusan mainan itu dan memainkannya.


Nindi membelikan lego rumah-rumahan pada Nabila agar anak itu bisa menyusunnya sendiri dan melatih otaknya.


Nindi duduk di atas karpet tepat di samping Nabila sambil menggendong Nafisa yang berada di dalam pangkuannya. Sementara, Sean duduk di sofa tepat di atas Nindi. Kadua kaki Sean menempel pada kedua bahu Nindi.


“Hai, cantik.” Sean memajukan wajahnya sehingga berada di samping kepala Nindi dan menggoda Nafisa yang baru berusia sembilan bulan dua puluh satu hari.


“Hai, Om ganteng,” jawab Nindi. “Aku memang cantik.”


Sean melirik istrinya. “Ya, kamu memang cantik,” jawab Sean tepat di telinga itu.


Nindi melirik Sean dan tersenyum. “Kalau itu, aku sudah tahu. Kalau ngga cantik dan ga bohay kamu pasti ga akan ngejar-ngejar aku.”


Sean tertawa dan beralih pada Nafisa. “Kapan kita bisa bikin yang seperti ini?” tanya nya sambil menjepit dagu Nafisa lembut.


Bayi perempuan itu malah tertawa, membuat Sean gemas.


“Sebentar lagi juga punya,” celetuk Anjas sambil membawa dua minuman untuk Sean dan Nindi.


“Kalau digempur terus juga jadi,” ledek Anjas lagi.


“Bukan digempur lagi, A. malah sampe gempor,” sahut Nindi membuat Anjas tertawa dan Sean pun demikian.


Kedua pria itu tertawa kencang. Kemudian, Nindi memberikan Nafisa pada Sean. Ia mengambil piring di dapur untuk meletakkan beberapa makanan yang ia bawa.


Nindi meninggalkan Sean dan Anjas di ruangan itu. Sedangkan Nabila sibuk menyusun lego rumah-rumahan itu.


“A, makasih ya,” ucap Sean.


“Untuk?” tanya Anjas.


“Udah ngasih Nindi ke aku.”


Anjas tertawa. “Kalau aku suka, aku ga akan kasih kamu, Sean.”


“Ah, s*al.”


Anjas tertawa dan menepuk bahu Sean. “Yang penting, kamu jangan sia-sia in dia! Jarang-jarang loh dapet cewek kek Nindi.”


“Iya, bener. Langka,” jawab Sean.


“Siapa yang langka?” tanya Nindi yang baru bergabung dengan dua pria ini setelah mengambil piring di dapur.


Anjas tertawa.


“Jadi, aku badak bercula satu?” tanya Nindi kesal sembari bertolak pinggang di depan Sean.


“Loh kamu denger?” tanya Sean.


“Iya lah.”


“Kalau denger kenapa tanya?”


“Tau.” Nindi terlihat merajuk. Sementara Anjas hanya tertawa melihat pasangan ini.


****


“Yank, kenapa sih? Masih Ngambek?” tanya Sean setelah mereka sampai di pusat perbelanjaan.


Usai dari rumah Anjas, mereka memang akan mampir ke pusat perbelanjaan besar yang ada di jakarta selatan.


Nindi cuek. Ia tetap berjalan santai tanpa menjawab pertanyaan Sean. Sean dan Nindi berjalan beriringan.


“Gara-gara badak bercula satu?”


Nindi menoleh ke arah suaminya. “Tau ah.”


“Ih, sensitif banget.”


“Biarin.”


Pusat perbelanjaan ini juga banyak di kunjungi oleh bule-bule tampan. Nindi dapat melihat mereka di sana. ada yang sendirian dan ada juga yang bersama teman-temannya.


“Ish, ada bule ganteng.”


Sean ikut melihat apa yang Nindi lihat. Lalu, ia langsung menarik wajah Nindi untuk melihat ke arahnya. “Ya gantengan aku lah.”


Nindi menjulurkan lidahnya. “Narsis.”


Kemudian, ia kembali berjalan.


“Hei, mau kemana?” tanya Sean dengan menarik lengan Nindi karen arah wanita itu seperti hendak berjalan menuju bule yang ia sebut ganteng tadi.


“Mau ke kamar kecil.”


“Oh, aku kira kamu mau samperin bule itu.”


“Ih, ngapain amat. Bule ini aja udah bikin ngos-ngosan tiap malem,” jawab Nindi sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yan tidak jauh dari sana.


Sean tidak mengikuti langkah Nindi. Kepalanya menggeleng dan bibirnya menyungging senyum melihat sang istri masuk ke lorong kamar mandi yang disediakan pusat perbelanjaan itu. Sikap Nindi yang cuek, asal, dan apa adanya, membuat hari-hari Sean penuh senyum. Wanita itu benar-benar lucu menurutnya.


Lima belas menit kemudian, Nindi keluar dari lorong itu. di kamar mandi tadi, antrian cukup lama sehingga ia baru bisa keluar dari tempat itu.


Nindi mencari keberadaan Sean. ia tak melihat Sean berdiri di tempat sebelumnya. “Ish, kamu di mana sih Mas?” gumamnya.


Nindi berjalan menelusuri area saat ia meninggalkan Sean tadi. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri. Lalu, ia menemukan sosok yang dicari itu tengah berbincang dengan seorang wanita. Hatinya panas, dadanya pun bermuruh. Baru lima belas menit ditinggal, pria itu sudah bersama wanita lain.


“Mas,” panggil Nindi dari kejauhan.


Sean langsung menoleh ke sumber suara itu. Nindi berjalan dengan gagah ke arah Sean dan wanita berpakaian minim di samping sang suami.


Wajah Nindi sudah tidak bersahabat. “Ayo pulang!”


“Loh kok pulang? Katanya mau cari baju buat Kaisar dan Kalila,” ucap Sean.


“Ngga jadi, udah males.”


“Ini istrimu, Sean?” tanya wanita itu.


“Ya, cantik kan?”


Nindi merona saat Sean memujinya di depan wanita itu.


“Cantik,” jawab wanita seksi itu. “Hai, aku Indah. Wanita yang dulu sering menghangatkan Sean.”


“Indah.” Sean melotot ke arah wanita seksi itu.


Nindi semakin cemberut. Rasanya ia ingin menangis. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Sean dan wanita seksi itu.


“Nin, tunggu!” teriak Sean. lalu Sean melirik ke arah Indah. “Rese’ lu, Ndah.”


Indah tertawa. “Selamat membujuk istrimu, Sayang.”


“Ck, lu bener-bener ya,” kesal Sean pada wanita seksi yang sering menggodanya itu.


Sean pun langsung mengejar Nindi dan meraih lengannya. “Nin, tunggu!”


“Ck.” Nindi menghempaskan tangan Sean.


“Nin, kok gini sih?”


Nindi tak peduli. Ia terus berjalan cepat keluar gedung ini.


“Nin, kamu ga perlu cemburu karena dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.”


Nindi kembali menarik lengan yang dicekal oleh suaminya. “Lepas. Aku mau pulang sendiri.”


Sean semakin menarik lengan itu. “Hei, Apa yang dicemburin? Indah? Aku dan Aldy memang sering menggunakan jasanya dulu. Dulu, Nin. Dulu.”


Sean terus menekan kata ‘dulu’ di depan wajah Nindi dan Nindi pun menghindari tatapan itu. ia menoleh ke sembarang arah.


“Lihat aku!” Sean menarik wajah Nindi untuk menatapnya. “Wanita itu ga penting sama sekali.”


“Ck.” Nindi melipat kedua tangannya di dada dan tetap melihat ke arah lain.


“Baiklah, kalau kamu masih tetap seperti ini. Jangan salah kan Mas, kalau Mas nekat.” Sean langsung menggendong Nindi seperti karung berar menuju parkiran.


“Mas, turunin!” teriak Nindi.


Sontak, mereka menjadi pusat perhatian banyak orang. Sebagian mereka yang melihat aksi Sean pun tertawa.


Sean memasukkan Nindi ke mobil dan segera membawanya pulang. Ia akan menghukum istrinya yang akhir-akhir ini sering sekali merajuk.