XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Mencoba tidak bermain hati



“Ayo masuk!” Sean mengajak Nindi untuk memasuki ruang perawatan Aldy.


Ruang yang sangat mewah menurut Nindi, hingga matanya tak berhenti berkeliling melihat dekorasi tempat ini.


Nindi menggeleng. “Saya tunggu di sini aja, Pak.” Ia merasa rendah diri bertemu dengan orang-orang high class. Apalagi Kevin, pemilik tempat ia bekerja.


“Ck.” Sean kesal melihat Nindi yang selalu menolak perintahnya.


Sean langsung menarik tangan Nindi dan mengajak paksa memasuki ruangan itu.


Ceklek


Sean membuka pintu ruangan itu. Di sana sudah ada Kevin dan Ayesha. Sedangkan Kayla emmang sudah menginap sejak semalam.


Nindi mengikuti Sean dari belakang. Ia tak percaya diri berada di tempat ini bersama para pembesar perusahaan.


“Hai, Bro. sorry gue telat,” ucap Sean yang menghampiri teman-temannya.


Kayla tersenyum saat melihat Sean menggandeng tangan Nindi. “Ada apa dengan kalian?”


Ayesha pun tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Pasalnya Nindi tidak pernah cerita bahwa dirinya tengah dekat dengan sahabat sekaligus asisten suaminya. Ia seolah meminta penjelasan pada Nindi. Namun, hanya dibalas dengan cengiran.


“Kami sedang ada urusan, jadi sepertinya kalian akan sering melihat kami bersama,” jawab Sean ambigu.


Kevin hanya tersenyum. “Urusan apa? Yang pasti bukan urusan kantor kan?” ledeknya.


“Kemarin nanyain Kinara, sekarang malah gaet wanita lain. Sean … Sean …” celetuk Aldy membuat Kevin dan Kayla tertawa.


Sedangkan Ayesha dan Nindi saling berpandangan.


Kevin, Ayesha, Sean, dan Nindi mengantar Aldy sampai apartemen. Mereka konvoi dengan tiga mobil beriringan. Kayla mengendarai mobilnya dengan Aldy disampingnya. Sedangkan Kevin bersama Ayesha di mobilnya sendiri dan Sean juga demikian bersama Nindi.


“Sayang, Nindi dan Sean pacaran?” tanya Kevin saat di dalam mobil.


Ayesha menggeleng. “Aku juga baru tahu kedekatan mereka tadi.”


“Sean juga tidak pernah cerita apa-apa tentang ini,” ucap Kevin sembari menyetir.


“Memang mereka pernah ada insiden. Sepertinya insiden itu tidak bisa dilupakan kak Sean,” jawab Ayesha menyeringai.


“Insiden apa?” tanya Kevin sembari menoleh ke arah istrinya.


Lalu, Ayesha menceritakan kejadian dulu, ketika mereka mendatangi sebuah klub untuk pertama kali dan dikerjai oleh dua pemuda baj*ing*n.


Sontak Kevin pun tetawa. “Ah, ternyata begitu ceritanya.”


Ayesha ikut tertawa. “Memang Kak Sean ga pernah cerita insiden itu?”


Kevin menggeleng. “Begitulah pria. Sedekat apa pun kami, tetap ada batasan mana yang bisa dishare dan mana yang harus di skip dan disimpan sendiri.”


Ayesha menganggukkan kepalanya. “Ya, aku dan Nindi pun seperti itu.”


Lalu, Ayesha menggeser tubuhnya untuk menghadap ke arah sang suami. “Berarti ada hal yang Kak Sean ga tahu?”


“Ada,” jawab Kevin cepat.


“Apa?”


“ML kita di bilik rumah sakit.”


Sesampainya di apartemen Aldy, mereka berkumpul di ruang tamu sekaligus ruang Aldy untuk istirahat sembari menonton televisi jika sendiri.


Kayla dengan telaten merawat kekasihnya. Aldy dibantu oleh Sean dan Kevin untk merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di sana.


“Kay, lu inginep?” tanya Kevin.


“Ngga lah Kev, bisa digorok Papa kalau gue nginep di sini,” jawab Kayla tertawa.


“Lah, bukannya Om Gun udah ngerestuin kalian ya?” tanya Sean.


“Ya, tapi Om Gun tetap proteck sama anak perempuannya sebelum mereka resmi nikah. Kalau udah resmi mah, Kayla mau dibawa Aldy keluar negeri dan ga pulang-pulang juga ga akan ditanyain,” jawab Kevin.


“Salut sih sama Om Gun. Mungkin gue kalo punya anak perempuan nanti akan bersikap yang sama,” ucap Sean.


Aldy pun mengangguk. “Ya, mungkin gue juga.”


Kevin tertawa. “Ya, karena antara lu, Sean, dan Om Gun sebelas dua belas.”


Sean dan Aldy pun ikut tertawa. Sementara, Kayla, Ayesha, dan Nindi tidak mengerti maksud perkataan Kevin.


Kiara menutup rapat masa lalu mereka untuk kedua putrinya sehingga baik Kayla atau pun Kinara, tidak mengetahui bagaimana kelakuan ayahnya dulu. Begitu pun dengan Ayesha. Sedangkan Nindi adalah orang lain.


“Aku buatin minuman dulu ya!” kata Kayla.


“Biar aku aja, Kak.” Ayesha bangkit dari duduknya. “Kak Kay temenin Kak Aldy. Biar aku yang ke dapur sama Nindi.”


Kayla pun tersenyum. “Terima kasih ya.” Lalu, ia menunjukkan letak-letak yang Ayesha butuhkan di sana.


“Nin, dari tadi aku penasaran. Kok bisa kamu sama Kak Sean?” tanya Ayesha saat ia dan Nindi berada di dapur berdua. Sementara Kevin, Sean, Aldy, dan Kayla di ruang tamu.


“Panjang, Ay,” jawab Nindi kesal kala ingat kejadian yang membuatnya terjebak dengan situasi ini.


“Aku siap mendengar kok,” kata Ayesha tersenyum.


Kemudian, Nindi bercerita tentang kejadian yang membuatnya mengikuti kesepakatan yang diinginkan Sean sambil membuat lima minuman dingin dan satu minuman spesial untuk yang sedang sakit, karena minuman untuk Aldy hanya Kayla yang membuatkan.


Ayesha tertawa mendengar cerita Nindi. “Sepertinya Kak Sean suka sama kamu.”


NIndi menggeleng. “Ga mungkin.”


“Kenapa ga mungkin?” tanya Ayesha.


“Kita ga selevel, Ay. Aku tahu Pak Sean itu anak siapa dan cucu siapa. Aku cukup tahu diri.”


“Tapi Kak Sean ga memandang itu, Nin.” Jawab Ayesha.


“Ya, tapi aku aku takut memiliki hubungan dengan orang kaya. Dulu, almarhum kakakku juga pacaran dengan orang kaya. Alhasil dia dicampakkan. Padahal dia sudah menyerahkan segalanya untuk pria itu. Bahkan kehormatannya. Untung pria yang menjadi suaminya ini mau menerima kakakku apa adanya.”


Ayesha terdiam mendengar cerita Nindi. “Tapi tidak semua seperti itu, Nin.”


“Ya, memang.” Nindi mengangguk. “Tapi aku tidak ingin mengulang kejadian yang sama, Ay. Aku menjadi saksi penderitaan kakakku, dulu. Walau saat itu aku masih baru lulus SMP dan tidak mengerti percintaan.”


“Semoga almarhumah tenang di sana,” ucap Ayesha.


“Aamiin.”


Sekuat tenaga Nindi memberi batasan pada Sean. Pria itu memang cukup menggoda iman dan lihai dalam menjerat lawan jenis. Entah nantinya Nindi akan kuat apa tidak? Tetapi untuk saat ini ia berusaha tidak bermain hati.