XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Pemandangan tak mengenakkan



Ayesha baru tiba di taman tempat ia dan Tian bertemu. Ternyata benar kata Tian, di sini sedang ada pasar malam. Ya, memang dulu ia dan Tian merencanakan akan ke taman yang berada di jantung ibukota ini.


Ayesha tersenyum saat melihat kembang api yang meledak di udara beberapa kali. Ia hanya berdiri sembari melihat aktifitas yang ada di sini.


“Hai, kamu sudah datang,” ucap Tian lirih tepat di belakang telinga Ayesha saat berdiri.


Ayesha langsung menoleh dan memberi jarak. Ia melihat Tian yang berdiri tepat didepannya.


“Mengapa kamu ganti semua password sistem keuangan?” tanya Ayesha langsung ke inti.


“Kita cari tempat dulu untuk makan malam!” ajak Tian.


“Tapi aku mau tahu jawaban itu sekarang,” sahut Ayesha yang kesal dengan sikap ke kanak-kanakan Tian.


“Kita cari tempat sembari berbincang.” Tian kembali mengajak Ayesha ke warung tenda yang tersedia di sana. Ia pun menarik lengan Ayesha tanpa permisi.


Dengan cepat, Ayesha melepas pegangan tangan itu. “Yan, aku itu istri sahabatmu. Jadi tolong, hargai itu.”


Sontak Tian menatap mata Ayesha. “Mengapa dari dulu kamu tidak bilang kalau sudah menikah?”


“Aku sudah bilang, tapi kamu malah tertawa dan tak percaya,” jawab Ayesha membuat Tian mengingat sejenak.


Ya, Tian baru ingat, saat itu ia meminta Ayesha untuk kembali dan Ayesha mengatakan bahwa dirinya sudah menikah.


“Kamu ingin membalasku dengan meikahi teman dekatku sendiri?” tanya Tian lagi.


“Mana aku tahu kalau Mas Kevin itu teman dekatmu.”


“Mas? Mas Kevin?” tanya Tian tertawa mendengar Ayesha menyebut nama Kevin dengan panggilan Mas. “Mesra sekali.”


“Tian, cukup. Ini semua sudah berakhir. Dari awal aku sudah bilang bahwa hubungan kita sudah berakhir dan aku sudah menjadi milik orang lain,” ucap Ayesha lirih agar Tian mengerti.


“Tapi aku masih tidak terima, Ay. Aku tidak terima.”


“Dan, kamu melampiaskan dengan membuat orang lain susah? Kasihan bawahan kamu, mereka tidak bisa kerja dari kemarin karena sistem terblock. Imbasnya, mereka akan kena marah atasan dan aktifitas perusahaan stug karena ini,” ucap Ayesha lagi.


“Memang itu yang aku mau.”


“Yan, Mas Kevin ga salah. Takdir yang membawa kami. Akan ada orang lain yanglebih baik dari aku untukmu, Yan. Percayalah.”


Tian menutup wajahnya sejenak dan menarik nafasnya kasar. “Aku harus bagaimana Ay? Aku mencintaimu. Bayang-bayang kamu selalu ada di sini.” Tian menunjuk kepalanya.


“Wajah kecawamu selalu menghantuiku. Aku ingin kembali sama kamu. Aku membutuhkanmu, Ay.” Tiba-tiba Tian menjadi melankolis.


Untungnya, mereka berdiri di tempat yang tak terjangkau oleh hiruk pikuk keramaian.


Ayesha mendekati Tian dan hendak menenangkannya. “Intinya adalah ikhlas, Yan. Lepaskan semua. Yakinkan bahwa yang terjadi adalah yang terbaik.”


Tiba-tiba Tian memeluk Ayesha erat. “Aku memang bodoh. Aku melepaskan berlian demi sebuah batu kerikil.”


Semula Ayesha hendak meminta Tian untuk melepaskan pelukan itu. Namun, melihat Tian yang terpuruk, akhirnya Ayesha menerima pelukan itu dan menepuk punggung Tian.


“Sudahlah, semua sudah terjadi. Tetaplah berbuat baik, karena jodoh itu cerminan kita.”


Tian melonggarkan pelukan itu. “Terima kasih, Ay. Kamu memang wanita yang paling baik.”


Ayesha ikut tersenyum dan melepaskan pelukan itu.


“Aku menggantikan password semua sistem dengan tanggal hari jadi kita,” ucap Tian tanpa ditanya.


Ayesha menghelakan nafasnya. Ia tak pernah berpikir hingga sejauh itu saat mengotak atik sistem tadi. “Ya ampun, Yan.”


Tian tersenyum. “Maaf, Ay. Tapi aku lega karena sudah bertemu denganmu sebelum aku meninggalkan kota ini.”


Ayesha pun ikut tersenyum dan mengangguk. “Aku akan selalu mendoakanmu agar selalu bahagia.”


Tian kembali tersenyum lebar. “Terima kasih.”


Ayesha kembali mengangguk.


“Untuk yang terakhir kali, boleh aku memelukmu lagi!” pinta Tian membuat Ayesha diam sejenak.


Lalu, kepala Ayesha mengangguk.


Dengan binar bahagia, Tian pun memeluk tubuh itu.


Saat Ayesha memeluk Tian, Ayesha mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Sontak, jantung Ayesha seolah terhenti ketika melihat sosok Kevin sedang berdiri di sana melihat dirinya tengah berpelukan dengan Tian.


“Mas Kevin.”


Ayesha langsung melepaskan pelukan itu dan berlari menghampiri Kevin. Namun sayang. Kevin sudah menghilang.


Tepat saat Ayesha berangkat menuju tempat pertemuannya dengan Tian. Kevin pun melibat ponselnya yang kehabisan daya listrik. Lalu, ia meminta Kayla untuk mengisi daya ponselnya dengan powerbank milik Kayla yang selalu wanita itu bawa.


Ponsel Kevin terisi separuh tepat disaat Kayla akan turun dari mobil karena Kevin sudah mengantarnya sampai rumah. Kemudian, Kevin menyalakan benda itu dan melihat pesan serta beberapa panggilan dari Ayesha yang tak terjawab.


Ketika melihat isi pesan itu, Kevin langsung melesatkan mobilnya ke arah tempat pertemuan Tian dan Ayesha. Melalui gmap yang sudah ia sadap ke ponsel sang istri, Kevin menemukan titik tempat itu karena ternyata Ayesha sudah tiba di sana.


Kevin terus mencari titik Ayesha berada dari ponselnya. Dan, ketika ia menemukan sang istri, ia justru dikejutkan dengan pemandangan yang tak mengenakkan itu.