
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Kevin berbunyi, tepat di saat ia sedang bercinta dengan sang istri.
“Mas, ponsel kamu,” ucap Ayesha lirih dengan mata sayu karena kenikmatan yang diberikan Kevin.
Sedangkan Kevin menghiraukan bunyi itu dan tetap pada aksinya. Ia terus bergerak di atas tubuh sang istri dengan lembut mengingat Ayesha sedang hamil muda. Walau Kevin belum mengajak istrinya memeriksa kandungan ke dokter, tapi ia cukup tahu diri untuk bercinta dengan hati-hati.
“Mas … takut penting,” ucap Ayesha lagi mengingatkan dering telepon yang terus terdengar.
“Tanggung, Sayang,” jawab Kevin dengan gerakan yang dipercepat agar mencapai puncak.
Dan benar saja, sepuluh menit kemudian Kevin pun tumbang setelah suara itu terdengar menggema. Bobot tubuhnya yang kekar menindih tubuh Ayesha yang tidak lagi XL. Ayesha merasa sesak, tapi ia tetap memeluk tubuh itu hingga Kevin menyadari bahwa dirinya menyakiti sang istri.
“Maaf,” ucap Kevin sembari mengangkat tubuhnya. “Berat ya?”
Ayesha tersenyum dan menggeleng. “Ngga. Ngga salah lagi.”
Kevin ikut menyungging senyum. “Terima kasih, Sayang.” Tangannya terangkat untuk membelai lembut rambut sang istri dan mengusap peluh di dahinya.
“Mas, lihat ponselmu! Takutnya penting karena dari tadi bunyi terus.”
Kevin mengangguk dan melepaskan diri perlahan dari Ayesha. Lalu, Kevin meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil yang berada tepat samping tempat tidur yang ia tiduri.
Kevin membuka ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya tadi.
“Siapa, Mas?” tanya Ayesha sembari menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh polosnya dan mendekati Kevin.
“Sean,” jawab Kevin.
“Telepon balik, Mas!” pinta Ayesha, agar suami menelepon kembali Sean.
“Besok pagi aja. Dia tuh kebiasaan malem-malem telepon cuma mau ganggu aja.”
Kevin malah menaruh kembali ponselnya dan memeluk sang istri untuk tidur bersama.
“Siapa tahu penting Mas,” kata Ayesha lagi.
“Iya, besok aja. Sekarang kita istirahat. Udah malam.” Kevin menarik tubuh polos istrinya untuk masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Tak lama kemudian, ponsel Kevin kembali berdering.
Dret … Dret … Dret …
Ayesha dan Kevin baru saja memejamkan mata. Kevin tak bergeming mendengar panggilan telepon itu, sementara Ayesha membuka matanya.
“Mas,” panggil Ayesha.
“Hmm …”
“Telepon kamu bunyi lagi.”
“Apa, Sean?” tanya Kevin kesal saat mengangkat panggilan itu.
“Ya, ampun Kev. Susah banget sih, nelepon lu.”
“Lagi tanggung. Lagian ngapain sih telepon malem-malem, kaya ga ada besok aja,” jawab Kevin ketus.
“Masalahnya insiden ini terjadi malam ini.”
“Insiden apa?” tanya Kevin mulai serius dan membuka matanya lebar.
“Aldy ditusuk orang. Sekarang gue ada di rumah sakit nemenin Kayla.”
“What? Kenapa lu ga bilang dari tadi?” tanya Kevin panik.
“Lah, dari tadi juga udah gue teleponin, Bambang. Tapi saking asyiknya maen sama Ayesha, telepon gue dicuekin,” jawab Sean kesal.
“Sorry, Sean. Gue segera kesana.”
Kevin langsung menutup telepon itu. Sementara Ayesha ikut bangun mendengar suaminya panik saat menerima telepon dari asisten sekaligus sahabatnya itu.
“Ada apa, Mas?” tanya Ayesha.
“Aldy masuk rumah sakit, Dek. Kata Sean, dia ditusuk orang.”
Ayesha terkejut dan bangkit dari tempat tidur itu mengikuti gerakan suaminya.
“Kamu ga apa-apa Mas tinggal sebentar ya,” kata Kevin lembut sembari mengelus kepala istrinya yang sedang memegang selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.
Ayesha mengangguk dan Kevin bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Mas,” panggil Ayesha pada Kevin yang hendak menginggalkannya.
Kevin pun langsung menoleh.
“Kalau aku ikut, boleh?” tanya Ayesha.
Kevin mendekati lagi istrinya. “Udah malem, Sayang. Kamu belum istirahat. Kasihan anak kita. Mas ga mau dia di sini kenapa-napa.”
Kevin mengelus lembut perut Ayesha yang masih rata.
“Tapi aku ga mau ditinggal,” rengek Ayesha dengan suara yang sangat manja
Kevin tersenyum. Sementara Ayesha memasang wajah memelas untuk meminta ikut dan tidak ingin ditinggal sendirian di apartemen ini. Beberapa hari terakhir, Ayesha memang tampak manja dan tak ingin ditinggal sang suami walau hanya sebentar.
Kevin kembali tersenyum melihat wajah menggemaskan itu. Lalu, ia mengecup sekilas bibir ranum itu. “Baiklah. Ayo!”
Ayesha tersenyum menerima uluran tangan Kevin untuk mengajaknya membersihkan diri bersama.