
“Mama … Papa …” panggil Sean pada Vanesa dan Riza yang datang bersama James dan Alin.
“Ini pacarmu yang tempo hari kamu bawa ke rumah Opa kan?” tanya James yang melihat Nindi sembari mengingat.
Pasalnya saat ini, Nindi memang terlihat sangat berbeda dari yang ia lihat dirumahnya kala itu.
“Iya, Opa. Ini Nindi,” ujar Sean menatap sekilas kekasihnya dan terlihat senyum dari bibir kekasihnya itu merekah.
“Kamu cantik sekali,” ucap Vanesa yang juga diangguki oleh Riza.
Namun, Alin tak berkata apapun. Ia justru tersu menarik jas suaminya agar segera bertemu Rasti dan memberi ucapan pada kedua mempelai.
Nindi menyamalami Kedua orang tua Sean satu persatu dengan mencium punggung tangan itu. Ia pun melakukannya pada James, tapi saat Nindi mengulurkan tangan ke arah Alin, Alin menolak dan berlalu pergi sembari menggandeng suaminya.
Vanesa dan Riza tampak tak enak.
“Mama memang seperti itu, maklumi saja ya,” ujar Vanesa.
“Ya, maklum sudah sepuh. Kita yang muda harus banyak mengerti,” sambung Riza membuat Nindi tetap melebarkan senyumnya dan mengangguk.
Sean merangkul bahu Nindi dan berkata, “aku yakin kamu bisa mengambil hati Oma nantinya. So, don’t be sad. Oke!”
Nindi pun mengangguk.
Pesta megah ini terus berlangsung. Lantunan musik bergenre romantis dengan nada slow itu pun mengiringi acara ramah tamah yang sedang berlangsung. Semua orang berbincang dengan kelompoknya masing-masing.
Riza dan Vanesa tampak berbincang dengan Kenan, Hanin, Vicky, dan Rea. Orang tua dengan orang tua dan nenek dengan nenek.
Sean mengajak Nindi bergabung bersama Kevin, Keanu, Kinara, Ayesha, dan Vinza. Untung saja di tempat ini ada Ayesha, sehingga Nindi tak tampak seperti orang yang benar-benar asing. Ayesha sering mengajaknya bicara saat ia kehabisan kata dalam pembicaraan anak-anak sultan ini.
“Senangnya melihat anak dan cucu berkumpul,” ujar Rasti yang mendekat ke tempat muda mudi itu.
Alin dan James pun mengikuti langkah Rasti.
“Kinara, cantik sekali.” Di antara sekian banyak wanita di sana, Alin hanya menyapa Kinara.
Kinara yang sopan pun tersenyum dan mendekati Alin serta mencium punggung tangannya.
“Oma bagaimana lututnya? Masih sakit kah?” tanya Kinara pada Alin yang sempat mengeluh sakit di bagian lututnya.
“Sudah tidak terlalu. Resep yang kamu berikan paten banget, Sayang.”
Kinara tersenyum. “Itu resep dari teman Nara yang bagian ortopedi, Oma.”
“Ya, tapi tetap saja, itu semua atas bantuanmu,” sahut Alin. “Sean, Kinara makin cantik ya?”
Alin bertanya pada cucunya seolah Nindi tak berada di sana.
Sean mengangguk. “Iya, Oma. Dari dulu Kinara memang cantik.”
Sontak, Ayesha melihat ke arah sahabatnya. Ia tahu, Nindi sedang tak baik-baik saja.
Sementara Vinza hanya diam dan sekali-kali menunduk sembari memainkan kakinya.
Kinara melihat ke arah Vinza, mencoba mencari tahu reaksi pria itu. Namun, Vinza yang datar tak dapat terlihat ekspresinya.
Kedatangan Alin merubah suasana yang semula hangat menjadi mencekam. Ada beberapa pikiran yang bergejolak dengan asumsinya sendiri, tapi hati tetap diam dan memendam ekspresi.
Satu waktu, perkumpulan itu pun bias. Kevin mengajak istrinya menemui klien besar yang hadir di acara itu. Tamu yang merupakan klien lama sang ayah. Nindi melihat Ayesha bersama suami, kedua orang tua dan mertuanya. Terlihat Ayesha yang tampak tersenyum lebar saat berbincang di sana. Terlihat semua orang sangat menyayangi sahabatnya yang tengah hamil lebih dari empat bulan itu.
Keanu lebih dulu pamit, karena harus menemui teman lamanya yang merupakan anak dari rekan bisnis Gunawan yang datang memenuhi undangan.
“Nin, aku ke sana dulu ya!” Sean pamit untuk meninggalkan Nindi sebentar.
Nindi pun mengangguk. Kini, ia berdiri sendiri. Sungguh, tingkat kepercayaan diri Nindi saat ini amat anjlok. Ia merasa tidak cocok berada di pesta ini. Mungkin hanya gaunnya saja yang cocok tapi jiwanya tidak.
Nindi melangkahkan kakinya untuk mengambil jus yang tersedia tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Setelah mengambil jus itu, ia melihat Sean dan Kinara berbincang. Keduanya tampak sedang tertawa sambil berbisik karena musik saat ini terdengar lebih kencang.
Nindi memilih menepi. Ia berdiri sendiri di pojokan dengan arah mata tertuju pada Sean. Sepertinya, Sean lupa kalau pria itu membawa kekasihnya ke pesta ini. Tiba-tiba, hati Nindi perih saat ia melihat dari kejauhan Sean memeluk pinggang Kinara dan memapahnya untuk duduk.
Kaki Kinara terkilir saat hendak berjalan menuju keluarganya. Saat itu ia dan Sean hendak berpisah. Sean yang ingin kembali menemani Nindi dan Kinara yang ingin menghampiri Rasti yang sedang bersama Vinza.
Nindi langsung mengalihkan pandangan. Seketika dadanya sesak. Ia meragukan semua kata manis yang Sean ucapkan. Ucapan Sean yang hanya sebatas tanggung jawab pun semakin terngiang.
Nindi meletakkan jus yang ia minum tadi dengan sembarang. Kemudian, ia berlari menjauh dari kerumunan itu.
Dret … Dret … Dret …
Kerumunan yang riuh itu tak mampu membuat dering ponsel Nindi terdengar oleh pemiliknya. Hingga, Nindi merasakan ada sesuatu yang bergetar di dalam tasnya. Ia pun semakin berlari keluar dan mengangkat telepon itu.
“Iya, A?” tanya Nindi karena panggilan itu berasal dari kakak iparnya.
“Nin, Ibu drop. Sekarang dirawat di RSUD xxx.”
“Apa?” tanya Nindi tak percaya. Pasalnya saat ia kembali ke Jakarta, sang ibu sudah lebih baik.
“Aa sekarang mau ke sana. Kamu mau ikut?” tanya Anjas.
“Ya, Nindi ikut. Jemput Nindi langsung di hotel xxx ya, A.”
“Oke. Kebetulan Aa juga ada di arah yang sama.”
Nindi mengangguk dan percakapan itu selesai. Setelah menutup panggilan telepon itu, Nindi melihat lagi penampilannya. Ia tak mungkin pulang kampung dengan pakaian seperti ini.
Setelah kakak iparnya menjemput, mungkin ia akan mampir ke departemen store dan membeli pakaian biasa dan menggantinya.
Tanpa pamit pada Sean, Ayesha, dan keluarga Adhitama. Nindi meningglkan hotel itu. Ia yang kesusahan berjalan karena high heels yang melekat di kakinya itu pun ditanggalkan. Sean memang meminta Nindi untuk menggunakan high heels itu. Sepatu tinggi yang tidak pernah Nindi pakai seumur hidupnya, tapi untuk hari ini ia pakai demi sang kekasih.
Namun, sepertinya perjuangan Nindi cukup sampai di sini. Perbedaan antara ia dan Sean cukup besar dan Nindi tak ingin berjuang sendiri. Terlalu melelahkan jika ia harus berjuang sendiri, walau ia begitu mencintai pria playboy itu.
“Cinta tak harus memiliki, bukan?” tutur Nindi pada dirinya sendiri sembari menatap gedung itu dan perlahan meninggalkannya.