
Satu minggu berlalu, hari ini adalah hari kepulangan Hanin dan Rasti. Sementara, lusa adalah hari kepulangan sang suami.
Ayesha sengaja meminta izin pada atasannya untuk tidak masuk hari ini. Ia sengaja meminta izin untuk menjemput ibu mertua dan Oma suaminya.
“Sayang …” teriak Hanin sembari membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Ayesha.
“Mama …” Ayesha pun berlari menghampiri Hanin.
Baik Hanin maupun Kenan, mereka sadar bahwa penampilan Ayesha jauh berubah. Namun kedua orang tua Kevin tidak mengatakan apa pun tentang penampilan Ayesha, karena menurut mereka baik Ayesha yang dulu dan sekarang, putri Rea dan Vicky itu tetaplah wanita cantik dan baik untuk putranya. Hanin dan Kenan tidak pernah menyesal sama sekali menjodohkan putra mereka dengan Ayesha.
Ayesha adalah sosok putri mereka yang hilang, yang tidak ditakdirkan hadir karena keguguran tepat disaat ia dan Rea sama-sama mengandung dengan usia kandungan dan jenis kelamin yang sama. Namun, Hanin dan Kenan menerima takdir itu. Mereka tetap bahagia dengan kehadiran kedua putranya, karena setelah kehamilan yang ketiga dan keguguran, Hanin tidak diperbolehkan kembali mengandung. Selain karena rahimnya yang lemah, kondisi tubuh Hanin juga tidak memugkinkan untuk mengandung lagi. Kenan yang sangat mencintai sang istri pun setuju dengan tindakan dokter yang mensteril rahim istrinya, karena yang terpenting bagi Kenan adalah sang istri. Ia hanya ingin sang istri tetap selalu ada di sisinya.
“Ini Ayesha?” tanya Rasti yang berdiri di belakang Hanin.
Hanin dan Ayesha melonggarkan pelukannya.
“Iya, Oma. Ini Ayesha istri Kevin,” sahut Hanin.
Ayesha langsung mengambil tangan kanan Rasti dan mencium punggung tangan itu.
“Ini istri Kevin? Anaknya Vicky kan?” tanya Rasti lagi yang pangling melihat Ayesha, pasalnya sejak kecil Ayesha memang sudah berbodi XL.
“Iya, Mam. Ini Ayesha, putri Vicky dan sekarang sudah jadi istri Kevin,” sahut Hanin lagi.
Rasti langung menangkup wajah Ayesha. “Ya, ampun. Kamu cantik sekali, Nak. Pantas saja Kevin langsung mau dijodohkan. Biasanya anak itu banyak alasan jika sudah menyangkut tentang pernikahan.”
Hanin tertawa. Sedangkan, Ayesha hanya tersenyum malu.
Hanin, Rasti, dan Ayesha berjalan beriringan bersama menuju lobby. Rasti terlihat senang berbincang dengan istri Kevin. Kesopanan Ayesha menghipnotis Rasti.
Tangan Ayesha tidak lepas dari lengan Rasti. Ia terus menuntun wanita yang usianya lebih dari tujuh puluh tahun. Dengan telaten, Ayesha membantu Rasti memasuki mobil. Ayesha melindungi kepala Rasti dengan tangannya saat wanita tua itu menunduk dan duduk di dalam kursi penumpang.
“Terima kasih, Sayang,” kata Rasti.
Ayesha tersenyum. “Sama-sama Oma.”
Di dalam mobil, Hanin duduk di depan bersama Pak Udin, sedangkan Ayesha di belakang menemani Rasti.
“Keanu, tidak ikut pulang Oma?” tanya Ayesha berbasa-basi.
“Hah, anak itu mah tidak bisa di perintah, Ay. Dia selalu melakukan apa yang dia mau,” jawab Rasti.
“Keanu masih di Itali, Ay.” Hanin pun menjawab pertanyaan Ayesha.
“Oh.” Ayesha membulatkan bibir.
“Dia janji langsung pulang setelah kompetisi musim selesai,” sahut Hanin lagi.
“Hmm … Ayesha sudah lama tidak bertemu Keanu,” kata Ayesha.
Hanin tersenyum.
“Keanu tidak seperti Kevin,” kata Rasti.
“Tapi Mami lebih senang tinggal dengan Keanu,” kata Hanin.
“Karena anak itu labil, Han. Mami takut dia ikut pergaulan yang macam-macam di negara orang.”
“Tidak, Mami. Walau Keanu orangnya semaunya, tapi Hanin yakin dia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”
Rasti pun mengangguk. Ya, sejauh ini memang Keanu tidak melakukan hal yang buruk. Ia hanya senang menyalurkan hobby nya. Itu saja.
Setelah satu jam diperjalanan, akhirnya Ayesha bersama ibu mertua dan Oma nya itu sampai di kediaman sang mertua.
Ayesha masih menuntun Rasti, hingga wanita itu duduk di sofa.
"Ah, akhirnya sampai juga di rumah," kata Rasti sembari meluruskan kakinya.
"Han, kamu sudah mengabarkan Kiara untuk datang ke sini?" tanya Rasti yang juga rindu pada anak perempuannya, adik Kenan yang merupakan ibunda Kayla sekretaris Kevin.
"Sudah, Mam. Katanya Kiara dan Mas Gun akan datang nanti malam."
"Kayla dan Kinara juga kan?" tanya Rasti lagi.
"Iya. Kebetulan Kinara sekarang sedang ada di Jakarta," jawab Hanin.
"Oh syukurlah. Mami rindu mereka."
"Ya. Mereka juga rindu Mami."
Rasti pun tersenyum. Ia istirahat di sofa itu.
Ayesha menuju dapur di sela interaksi Oma dan ibu mertuanya di sana. Sebagai menantu yang baik, Ayesha membuatkan minum untuk orang-orang yang disayangi sang suami juga orang-orang yang ia sayangi.
Keluarga Kevin bukanlah orang asing untuk Ayesha.
Kemudian, Hanin ikut menuju dapur. Ia ingin sekali bertanya sesuatu pada Ayesha.
Hanin berdiri di samping menantunya. "Ay, maaf Mama tanya. Kamu diet ya?" tanya Hanin pelan-pelan karena berat badan adalah hal yang sangat sensitif.
Ayesha mengangguk. "Iya, Ma."
"Sampai lambung kamu kambuh?" tanya Hanin lagi.
Ayesha nyengir. "Hehehehehe, iya. Tapi sekarang udah sembuh kok."
"Apa Kevin yang menyuruhmu diet?" tanya Hanin mengintimidasi.
Kalau jawabannya iya, sepertinya Hanin harus mentatar putranya lagi.
"Kecantikan itu hadir dari dalam Ayesha, bukan dari luar."
Ayesha pun mengangguk dan tersenyum. Ia sungguh beruntung memiliki ibu mertua seperti Hanin. "Iya, Ma. Tapi seperti ini lebih membuat Ayesha nyaman. Bergerak tidak lagi berat."
Hanin memeluk bahu Ayesha. "Asalkan tidak membuatmu menjadi beban, Mama senang."
"Terima kasih, Ma." Ayesha menyandarkan kepalanya pada bahu Hanin.
"Jika Rea dan Vicky melihatmu seperti ini, pasti mereka akan pangling," kata Hanin lagi.
Ayesha mengangguk dan tertawa. "Pasti. Apalagi Kak Vinza, dia pasti akan meledek Ayesha."
"Tidak meledek, Ay. Tapi takjub karena adiknya semakin cantik."
"Hmm ... Mama ..." ucap Ayesha manja dan Hanin pun tertawa.
Malam semakin larut. Ayesha masih berada di rumah mertuanya. Rumah Kenan semakin ramai ketika keluarga Kiara datang.
"Ayesha, kamu semakin cantik," ucap Kinara yang baru melihat Ayesha lagi setelah mereka bertemu saat Ayesha menjadi pengantin.
Ayesha tersenyum. "Masa sih?"
"Ayesha tekanan batin sama Kevin, makanya kurus," ledek Kayla.
"Iya, siapa yang tahan sama beruang kutub. luar biasa kamu, Ay." Kinara menambahi.
"Ngga kok, Mas Kevin baik. Dia beruang kutub yang menggemaskan." Ayesha membela suaminya di depan sepupu-sepupunya ini.
"Cie ... belain nih ye ..." ledek Kinara.
"Kay, kapan kamu menikah?" tanya Rasti tiba-tiba dan datang ditengah ketiga wanita muda yang asyik bercengkerama.
"Papa belum merestui, Oma."
"Kenapa, Gun? Kasihan kan putrimu."
Gunawan dan Kiara ikut duduk di ruang keluarga bersama putri-putrinya. Hanin pun ikut bergabung di sana.
"Gun masih belum percaya sama Aldi, Mam."
"Tidak semua orang yang pernah melakukan kesalahan akan terus berbuat salah, Gun," ucap Rasti.
"Iya, Ma. Gun tahu. Tapi Gun hanya ingin melindungi mereka."
"Mas Gun takut Kayla dapet suami yang ga bener, Mam. karena dia juga dulu seperti itu soalnya," ledek Kiara.
"Hush ..." Rasti langsung menampik omongan putrinya.
"Ya, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk putrinya. Bukan begitu, Mam."
Rasti mengangguk. "Benar."
Setelah lama Ayesha berbincang dengan keluarga suaminya, akhirnya Kiara dan kekuarganya pun pamit.
"Oma, Kinara besok balik lagi ke Belitung."
"Kamu masih tugas di sana?" tanya Rasti. "Kapan masa baktimu selesai?"
"Tinggal beberapa bulan lagi kok, Oma. Setelahnya, Ara bisa tugas di sini."
"Oh, syukurlah."
"Cepetan lo pulang, Ra. Udah ada yang nungguin noh," ledek sang kakak.
"Siapa?" tanya Kinara.
"Sean."
"Oh ya? Kak Sean suka Ara?" tanya Ayesha yang juga baru tahu hal ini.
"Udah lama tapi Ara selalu nolak," jawab Kayla.
"Aoaan sih, Kak? Ngarang," kata Kinara. "Jangan di denger, Ay. Hoax itu."
Kayla pun tertawa dan Ayesha tersenyum lebar.
Ayesha menemani Hanin mengantar Kiara dan keluarganya hingga teras. Mereka melambaikan tangan sebelum mobil itu bergerak keluar dan lenyap dari pandangan.
"Sayang, kamu menginap kan?" tanya Hanin.
Ayesha mengangguk. "Tentu saja, Ma."
"Ya, karena besok Kevin sampai di bandara jam sepuluh."
"Apa? Tapi kemarin kata Mas Kevin, dia baru sampai lusa atau besok lusanya lagi."
Hanin tertawa. "Dibohongi kamu, Ay. Kevin sekarang sudah dalam perjalanan kok."
"Ish dasar, beruang kutub nyebelin," ujar Ayesha dalam hati sembari mengerucutkan bibir.
Walau sebenarnya ia juga senang karena sang suami pulang lebih awal. Akhirnya, penantian itu berakhir. Besok, ia akan bertemu si beruang kutub bermulut pedas itu. Sungguh, Ayesha rindu dengan suaminya.
Begitu pun Kevin, di dalam pesawat ia tak sabar untuk menanti hari esok dan tiba di Jakarta. Saat ini, ia benar-benar sudah merasakan benih-benih cinta. Suatu rasa yang sulit diartikan dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Hanya satu yang pasti yang ia inginkan saat ini yaitu bertemu Ayesha, memeluknya lalu mencium bibir manis itu.
"Ah, Ndut. Aku rindu," gumam Kevin yang sedang duduk di kursi pesawat.