XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Hamil



“Hmm … wanginya lezat,” ujar Kevin sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.


Ayesha tengah memanggang ayam. Salah satu makanan favorit sang suami. Namun, Kevin tidak menyukai ayam panggang yang lain selain buatan sang ibu. Oleh karena itu, Ayesha belajar membuat makanan ini pada ibu mertuanya.


Sepulang dari main tenis bersama ketiga kawannya, Kevin langsung menuju kediaman mewah sang ayah, karena Ayesha pun memang sudah berada di sini.


Ayesha langsung menoleh ke arah suaminya ketika merasakan tangan kekar itu melingkar di perutnya dan bahunya yang berat karena Kevin menyandarkan kepalanya di sana. Posisi seperti ini memang posisi yang sering Kevin lakukan dan satu lagi, pria itu senang sekali tidur di atas paha ayesha yang empuk sembari membenamkan wajahnya di perut itu. Dan, Ayesha menyukai moment yang seperti itu, karena di saat seperti itu Kevin yang kaku, berwibawa dan disegani orang berubah menjai sosok yang manja dan seperti anak kecil.


“Katanya sebentar,” protes Ayesha.


Kevin tersenyum. Sejak pulang, senyum di bibirnya terus mengembang. Entah apa yang membuatnya semakin bahagia. Mungkin karena hubungannya dengan Tian membaik dan pertemanan mereka pun kembali terjalin baik seperti sebelumnya. Dan, yang utama karena sudah tidak ada lai penganggu dalam hubungan mereka.


“Makanya Mas kangen banget,” jawab Kevin dengan manja sambil mengeratkan pelukan itu.


Kevin membenamkan wajahnya di cerug leher sang istri.


Ayesha tertawa, karena Kevin menggelitiki lehernya dengan bibir. “Eum … Mas, stop! Nanti ada yang lihat.”


“Biarin.”


“Malu, Mas. Nanti kalau ada Mama sama Papa gimana?”


“Mama sama Papa juga sering seperti ini. Malah waktu aku masih belum punya pasangan. Bikin iri aja,” jawab Kevin kesal ketika ingat betapa manjanya sang ayah kepada istrinya.


Ayesha kembali tertawa. “Berarti sama dong sama kamu. Mas. Kamu juga manja.”


Kevin ikut tertawa. Ia mengangguk membenarkan ucapan sang istri.


Lalu, Kevin hendak mencomot ayam panggang yang baru saja matang. Namun, Ayesha langsung menepak tangan itu.


“Nanti, Mas. Makannya bareng-bareng,” kata Ayesha.


“Hmm … Mas makan duluan deh. Udah laper nih. Lagian dari kemaren Mas ngidam pengen makan ini,” jawab Kevin.


“Ngidam? Emang Mas perempuan,” tawa Ayesha.


“Bisa, Sayang. Kata Mama, waktu Mama sedang hamil Mas, Papa yang ngidam.”


“Tapi aku ga lagi hamil, Mas.” Ayesha menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


“Tapi sensitif kamu seperti orang hamil, Dek.”


“Masa?” Ayesha balik bertanya, karena ia sendiri yang memiliki tubuh tidak merasa sedang hamil.


****


Dua minggu kemudian.


“Hoek …”


“Hoek …”


Kevin langsung bangun dari tidurnya, saat perutnya merasa mual. Ia berlari ke kamar mandi. Gerakan Kevin saat ditempat tidur dan suaranya yang akan muntah pun mengusik tidur Ayesha. Wanita itu ikut terbangun dan mengikuti langkah kaki suaminya.


“Mas, kamu kenapa?” tanya Ayesha sambil memegang tengkuk Kevin dan memijatnya lembut.


“Ga tau nih, dari kemarin perut Mas ga enak.”


“Salah makan?” tanya Ayesha.


Kevin menggeleng. “Sepertinya ngga. Lagi pula setiap makan kan kita selalu bersama. Memang ada menu makanan yang salah yang Mas makan?”


Ayesha mencoba mengingat dan menggeleng. “Sepertinya ngga sih. Makanan Mas standar aja.”


Kevin ikut mengangguk. Ia merasa ada yang salah dengan makanan yang ia konsumsi selama ini. Tiba-tiba perut Kevin kembali mual.


“Hoek …” Kevin mengeluarkan lagi semua isi di perutnya.


“Ya mapun, Mas. Masuk angin kali atau kecapean.”


“Mungkin,” jawab Kevin mengangguk. Tubuhnya terasa lemas.


Ayesha mencari minyak angin, benda yang sangat tidak Kevin sukai ketika sang istri memakainya saat pusing.


“Ngga mau.” Kevin menggeleng menahan tangan Ayesha mengoles cairan itu.


“Supaya enegnya hilang, Mas.”


Kevin menggeleng. “Nanti malah ingin muntah lagi kalau mencium bau itu.”


Ayesha kuwalahan menangani sakitnya Kevin. Belum lagi, ia harus membopong tubuh kekar yang bobotnya dua kali lipat lebih besar dari dirinya menuju tempat tidur, lalu membaringkan tubuh besar itu di sana. Di tambah, Kevin tak mau diberikan penanganan apa pun agar menjadi lebih baik.


“Adek panggilkan dokter aja ya,” kata Ayesha.


Kevin kembali menggeleng dan malah menarik tubuh Ayesha untuk di peluk. Ia menghirup aroma tubuh itu. “Ngga usah. Ngga apa-apa kok. Sepertinya begini lebih baik.”


Ayesha pun ikut berbaring dan melihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul tiga malam. Ia melebarkan tangannya agar Kevin meletakkan kepala di dadanya. Lalu, Ayesha memeluk kepala itu, sedangkan Kevin memeluk tubuh Ayesha erat sembari tengkurap.


Kevin mengangguk. “Mas lebih suka aroma tubuh kamu dibanding minyak angin.”


Ayesha tersenyum. “Jadi aroma tubuhku sama dong seperti minyak angin. Bisa membuat mual Mas hilang.”


Kevin tak menjawab, justru dijawab oleh nafasnya yang teratur.


“Ih, udah pules aja,” gumam Ayesha sembari mengusap kepala Kevin seperti seorang bayi yang sedang dipeluk ibunya saat sakit.


Saat pagi menjelang, Kevin bersikeras untuk ke kantor, padahal Ayesha sudah melarangnya agar berisitirahat sehari saja.


“Mas udah ga apa-apa,” ujar Kevin.


“Beneran?” tanya Ayesha lagi.


Kevin mengangguk. “Apalagi kalau dapet morning kiss sekali lagi.”


Ayesha memekik sembari memukul dada itu pelan. “Dasar.”


Ayesha baru saja selesai memakaikan dasi untuk suaminya. Semakin hari Kevin semakin manja dan selalu ingin dilayani dalam hal apa pun. Terkadang, Ayesha kesal karena kerepotan tapi terkadang ia senang karena merasa sangat dibutuhkan.


Mereka berangkat ke kantor bersama dan selalu pulang bersama. Seperti itu setiap hari. Tidak jarang Ayesha pulang larut malam, saat harus menunggu suaminya kembali dari pertemuan diluar kantor atau saat pekerjaannya belum selesai. Untung saja, di dalam ruangan Kevin ada kamar sehingga Ayesha bisa istirahat di sana. Yang terpenting bagi Kevin, sang istri ada selalu bersamanya.


Tidak jarang juga, Kevin bekerja sembari mengelus kepala Ayesha yang tidur di pahanya saat wanita itu kelelahan menunggu suaminya selesai bekerja. Namun, seperti ini membuat mereka terasa selalu dekat. Aktifitas pun tak menjadi penghalang dan tidak menghilangkan momen kebersamaan mereka.


Sementara Tian, sudah resmi tidak lagi menjadi karyawan Adhitama grup. Usai bermain tenis waktu itu, Sorenya Tian berangkat ke Kalimantan. Dan, sekarang ia sudah benar-benar terjun di bisnis orang tuanya.


****


“Ay, ngapain sih ke apotek?” tanya Nindi yang sedang mengantar Ayesha ke toko obat saat waktu makan siang.


“Ini.” Ayesha menunjukkan alat tes kehamilan pada Nindi.


“Ay, kamu hamil?” tanya Nindi yang masih belum tahu bahwa Ayesha sudah menikah dan seorang istri dari putra pertama Kenan Adhitama.


Ayesha hanya tersenyum dan tak menjawab.


Memang setiap kali Nindi bertanya pada Ayesha yang sering berada di ruangan CEO, Ayesha hanya menjawab ada urusan. Ayesha tidak berusaha memberitahu Nindi dan membiarkan sahabatnya tahu sendiri.


Nindi semakin sering melihat kedekatan Ayesha dan CEO itu, dan herannya kedekatan itu tidak mengundang pergunjingan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


Ayesha baru saja menyelesaikan transaksi di apotek itu dan mengajak Nindi keluar dari sana.


“Ay, kok kamu tenang banget sih?” tanya Nindi bingung. “Kamu hamil.”


“Belum tahu, Nindi. Ini aku baru mau tes. Karena sepertinya aku udah telat beberapa hari.”


Sesampainya di kantor. Nindi pun langsung menyeret Ayesha ke toilet. “Ya udah cepet test.”


“Kok jadi kamu yang antusias sih?” tanya Ayesha tersenyum.


“Aku tahu kamu punya affair sama CEO kita. Walau mereka tak lagi menggunjingkan rumor itu karena takut, tapi aku tidak akan takutb meminta dia tanggung jawab kalau sampai kamu hamil.”


Ayesha semakin tersenyum lebar medengar penutura sahabatnya.


Kemudian, Ayesha masuk ke dalam bilik toilet itu. Ia memang sengaja membeli alat test yang paling akurat dan tanpa harus menggunakannya di pagi hari saja.


Setelah beberapa menit, Ayesha keluar dari bilik toilet itu.


“Bagaimana?” tanya Nindi antusias.


“Belum berubah warna,” jawab Ayesha.


Kedua wanita itu memandang serius ke arah alat test yang dipegang Ayesha hingga garis merah pada alat itu muncul pertama dengan warna pekat lalu diiringi kemunculan garis kedua dengan warna yang sama.


“Ay, kamu hamil,” ujar Nindi meringis.


Namun, ekspresi Nindi berbanding terbalik dengan ekspresi Ayesha.


“Ay, kok kamu malah seneng sih?” tanya Nindi kesal.


“Setiap perempuan yang akan menjadi ibu pasti senang, Nin.”


“Tapi Pak Kevin itu punya istri. Apa dia mau bertanggung jawab?”


Ayesha kembali tersenyum dengan wajah yang sulit diartikan.


“Emang kurang ajar itu CEO mesum. Berani-beraninya bikin rusak wanita baik-baik. Aku tahu kamu orangnya ga bisa melawan. Pasti kamu mau melayani n*fs*nya karena diancam kan? Aku tahu orang seperti apa CEO kita itu. Pura-pura dingin, tapi mesum juga. Ga bisa lihat karyawan cantik, langsung diembat,” kata Nindi lagi dengan wajah memerah.


“Ayo ikut!” Nindi menarik lengan Ayesha untuk keluar dari toilet.


“Mau kemana?” tanya Ayesha.


“Ke ruangan CEO lah. Minta tanggung jawab.”


Nindi geram dan membawa Ayesha menuju ruangan Kevin. Sedangkan di ruangan itu, Kevin tengah bebrincang serius dengan Sean, pria yang berkali-kali selalu Nindi tolak saat mengajak pulang bersama ketika mereka berpapasan di lobby.