XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Belum beruntung



Ayesha dan Kevin sampai di hotel. Hari semakin larut. Rencananya setelah sarapan pagi, mereka akan langsung berangkat menuju kediaman Vicky.


“Papa tidak tahu kamu pulang?” tanya Kevin sembari mengeringkan rambutnya dan berdiri di depan cermin.


Ayesha yang sudah rapih dengan pakaian tidurnya pun sudah duduk manis di atas ranjang. Lalu, ia menggeleng.


“Belum. Aku ga bilang apa-apa ke Papa dan Mama.”


Kevin mendekati istrinya dengan handuk yang masih melilit di pinggang.


“Mas, kebiasaan. Pakai baju dulu ih.” Ayesha mendorong suaminya yang sudah mendekat.


Kevin tertawa. Si beruang kutub itu saat ini memang sedang terlewat mesum. Kemudian, Kevin duduk di tepi ranjang sembari mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri yang duduk bersandar pada dnding tempat tidur.


“Mas kangen ini.” Kevin mengusap bibir ranum Ayesha dengan ibu jarinya. Lalu, punggung jari telunjuk Kevin mengusap wajah mulus itu dari kening hingga dagu.


“Mas mencintaimu, Ayesha.”


Ini ketiga kalinya Kevin mengatakan cinta. Setelah pertama kali ia mengatakan di depan Ayesha dan di kabin pesawat dengan saksi para penumpang rute jakarta Melbourne serta awak kabinnya.


Cup


Kevin tidak menunggu jawaban cinta dari Ayesha. Seperti kata Sean sebelumnya, rasakan dengan sentuhan. Dan, kini Kevin mencari jawaban itu dari cara Ayesha membalas sentuhannya.


Benar saja, Ayesha membalas sentuhan bibir Kevin dengan lembut, seolah ia mengatakan bahwa ia pun mencintai dirinya dari sebuah ciuman itu.


Kevin semakin memperdalam ciuman itu. Ia mengabsen setiap rongga yang ada di dalam mulut Ayesha, menyesapnya dengan semakin brutal dan menuntut. Ayesha pun membalas ciuman itu dan mengimbanginya hingga kedua tangan Ayesha mengalung di leher Kevin.


Mereka berpagutan beberapa menit hingga pasokan udara di keduanya pun menipis.


“Mmmpphh ...”


“Hosh ...”


Ayesha dan Kevin tersengal saat pagutan itu terlepas. Lalu, Kevin menempelkan keningnya pada kening Ayesha.


“Jangan pernah minta pisah, Sayang! Karena Mas ga akan sanggup hidup tanpa kamu,” ucap Kevin lirih. “Dan, karena hanya kamu yang bisa mengimbangi sikap Mas yang seperti ini.”


“Seperti apa?” tanya Ayesha pura-pura.


“Beruang kutub yang bermulut pedas.” Kevin menjawab cepat pertanyaan istrinya sembari tersenyum.


Ayesha tertawa dan Kevin pun demikian. Mereka sama-sama tertawa hingga hening beberapa detik.


“Aku juga mencintaimu Mas,” ucap Ayesha dengan menatap kedua bola suaminya.


Bibir Kevin tersenyum lebar. “Mas bisa merasakannya.”


Kevin memeluk tubuh Ayesha erat. Ayesha pun memeluk tubuh tegap itu seolah tak ingin terlepas.


“Mas ingin, Sayang.”


“Ingin kamu, apalagi?”


Kevin langsung menyergap leher Ayesha dan memberi tanda di sana.


“Mas, Eum ...” lenguh Ayesha saat Kevin menggigit bagian itu.


“Mas,” panggil Ayesha lirih ketika kini bibir Kevin semakin turun ke bagian dadanya dan menyesap bergantian kedua gunung kembar itu.


“Mas, Eum ...” Ayesha berusaha menahan dada bidang suaminya dan hendak mengatakan sesuatu. Namun, sentuhan itu membuatnya tak bisa berkata.


“Eum ...” Ayesha kembali melenguh saat kepala Kevin berada di atas perutnya.


“Papa jenguk kamu ya, sayang.” Kevin mengelus perut rata itu dengan suara lirih.


Kemudian tangan Kevin tertuju pada bagian sensitif yang berada di bawah sana. Telapak tangan Kevin menangkap benda aneh di sana dan ia terbangun mensejajarkan kepalanya pada Ayesha.


“Kamu sedang datang bulan?” tanya Kevin terkejut.


Ayesha menganggukkan kepalanya pelan.


“Ya salam, Ayesha. Kenapa ga bilang daritadi?”


Ayesha tertawa melihat ekspresi kesal suaminya. “Lagian Mas ga tanya, main tubruk aja.”


Kevin pun bangkit, diringi dengan Ayesha yang juga bangun sembari merapikan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulah sang suami tadi. Ayesha pun tak sadar bahwa tubuhnya sudah terlentang dibawah kungkungan Kevin.


“Bukannya kamu lagi hamil?” tanya Kevin yang melihat ciri-ciri Ayesha yang seperti tengah mengandung.


Ayesha menggeleng. “Kata siapa?”


“Sejak pagi, wajahmu pucat. Kamu juga tidak mau makan dan di pesawat mondar mandir ke toilet karena muntah-muntah.”


Ayesha tertawa.


“Siapa yang muntah-muntah? Aku itu mondar mandir ke toilet karena ganti pemb*l*t,” jawab Ayesha. “Aku memang suka sakit perut dan pucat kalau hari pertama, jadi malas makan.”


Kevin menepuk jidatnya dan mengelus singkong premium season dua yang sudah siap tempur itu.


“Sabar ya, kamu belum beruntung,” ucap Kevin pada singkong premium season dua itu, membuat Ayesha tertawa dan menggelengkan kepalanya.


“Tunggu delapan hari lagi,” ledek Ayesha tertawa.


Kevin menoleh ke arah istrinya yang puas tertawa. “Senang ya, melihat suamimu menderita.”


“Oh, jelas.” Ayesha menjawab meledek sembari tertawa geli.


Kevin pun merengut. Impiannya ke negara ini untuk sekalian berbulan madu pun kandas. Padahal cuaca dan keindahan kota yang tersuguh romantis di sini mendukung untuk terus menerus bercinta, tapi sayangnya impian itu tidak akan terwujud.


Huft!