
“Ay, kita di tunggu di ruang rapat. Ayo!” ajak Henry pada Ayesha yang tak juga bengkit dari kursinya.
Ayesha menggeleng. “Aku ga bisa bicara depan mereka tanpa bahan, Hen.”
“Bisa, Ay. Kamu pasti bisa. Kamu yang mengerjakan projek ini, pasti kamu tahu detailnya. Right?”
Ayesha masih menggeleng. Sungguh, ia takut mengecewakan Kevin. Semula ia ingin membuat suaminya bangga, tapi ternyata bayangan itu pun sirna dengan kejadian sederhana tapi berdampak besar bagi karir dan reputasinya di mata Kevin.
“Semua memang ada di sini.” Ayesha memegang kepalanya. “Tapi aku takut ga bisa ngomong.”
“Aku bantu. Ayo!” ujar Henry meyakinkan Ayesha untuk percaya diri.
“Ay, ayo! Kita sudah ditunggu di ruang rapat,” kata Nindi.
Mau tidak mau, akhirnya Ayesha mengikuti langkah kaki Henry dan Nindi. Mereka mewakili bagian itu untuk persentasi di depan klien dan CEO mereka.
Di dalam sana, Kevin duduk gelisah. Sean menceritakan trouble yang di alami divisi itu. Bukan rahasia lagi jika Ayesha ceroboh. Sejak mereka menikah pun, Kevin sudah mengetahui itu. Jangankan sebelum menikah, bahkan saat Ayesha masih sekolah, Kevin selalu menghindari jika wanita itu sedang bermain ke rumahnya, karena setiap kali Ayesha datang, ada saja kelakuannya yang membuat Kevin sial. Walau sebenarnya Ayesha ingin melakukan hal yang baik untuk Kevin, tapi karena kecerobohannya, hal itu menjadi tidak baik untuk Kevin.
Kevin melihat Henry, Nindi, dan Ayesha masuk ke ruang rapat. Henry langsung meminta maaf pada rombongan klien dari Amerika itu dan pada Kevin karena mereka datang terlambat ke ruangan ini.
“I’m sorry, Sir.” Lagi-lagi Henry membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf.
Gerakan Henry diikuti oleh Nindi dan Ayesha.
Kevin menatap wajah istrinya yang pucat. Ia tahu bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja, tetapi sebagai seseorang yang menjungjung tinggi profesionalisme. Ia pun bersikap biasa. Semantara, Ayesha hanya menunduk. Ia sama sekali tak melirik ke arah Kevin dan rombongan klien dari Amerika itu.
Sungguh, kepercayaan diri Ayesha luluh lantah. Semua yang ada dikepalanya pun sirna, seiring ketidakpercayaan diri itu. namun, ia tetap harus mempersentasikan apa yang sudah ia kerjakan.
Henry membuka persentasi ini. Ia memberikan prolog secara garis besarnya saja.
“Untuk lebih lanjut, rekan saya Ayesha akan menjelaskannya,” ucap Henry.
Jantung Ayesha berdetak tak karuan, saat Henry menyebut namanya. Namun mau tidak mau, siap tidak siap ia harus maju. Ia memejamkan matany seraya berdoa, semoga semua ia dapat lancar berkata-kata.
Lalu, Ayesha menggantikan posisi Henry dan berdiri di hadapan Kevin, Sean, juga keempat orang Amerika itu. Ia mulai berbicara. Namun, suaranya yang gemetar begitu terdengar. Tutur katanya pun tidak lancar dan terbata-bata. Seringkali, Ayesha memohon maaf karena program yang ia persentasikan tidak disertai dengan gambar sebagai ilustrasi.
Ayesha berbicara tak banyak. Ia hanya menggunakan waktu dua puluh menit untuk memaparkan secara garis besar program yang ia buat bersama Pak Edward dan tim.
Kevin mengusap wajahnya kasar beberapa kali dan hal itu semakin membuat Ayesha tak percaya diri. Keempat klien dari Amerika itu pun saling berbisik, setelah Ayesha tak lagi bicara.
“Sekian penjelasan saya, mohon maaf jika persentasi ini tidak maksimal,” ucap Ayesha dengan membungkukkan sedikit tubuhnya tanda hormat pada orang\=orang yang duduk di hadapannya.
Keempat orang Amerika itu pun masih berdiskusi dengan bahasa mereka dan suarah pelan. Kevin dan Sean pun terlihat tegang. Pasalnya semula klien terbesar itu akan menambah investasi mereka, setelah Kevin memberi keyakinan.
Namun, ketika mereka melihat persentasi yang biasa ini pun, membuat mereka mengurungkan rencana itu.
“Oke, Pak Kevin. Sepertinya kami akan menginvestasikan seperti tahun-tahun sebelumnya saja,” ucap salah satu orang Amerika itu yang bisa berbahasa Indonesia.
“Tapi, anda bilang kemarin, anda akan menambahkan investasinya,” sahut Sean.
Orang Amerika itu pun menggeleng. “I’m sorry.”
“Persentasi tim anda tadi kurang meyakinkan,” ucap orang Amerika yang bisa berbahasa Indonesia itu lagi.
Kevin tak mampu berkata-kata. Ia juga tidak meminta kliennya untuk memberikan lebih, karena pantang baginya untuk mengemis. Toh, keputusan klien dari Amerika itu terjadi karena kegagalan tim yang menyeret nama istrinya, terlebih kegagalan ini pun atas andil besar dari wanita yang sudah menjadi istrinya selama lebih dari dua bulan ini.
Ayesah, Henry, dan Nindi kembali ke ruangan masing-masing. Sedangkan Kevin dan Sean masih menemani keempat kliennya itu.
Suasana di ruangan Ayesha pun hening. Biasanya ia dan Nindi sering bersenda gurau di sela aktivitas pekerjaan mereka. Tapi, setelah keluar dari ruang rapat tadi, mereka pun menjadi lesu.
Selang satu jam kemudian, pintu ruangan Nindi dan Ayesha diketuk oleh salah satu tim mereka.
“Kita di panggil ke ruangan CEO,” kata pria yang merupakan bagian dari divisi yang sama dengan Ayesha dan Nindi.
Ayesha dan Nindi bangun dari tempat duduknya dan mengikuti langkah teman se divisinya itu.
Di ruang Kevin, sudah terlihat Henry, Sean, dan keempat tim IT yang kesemuanya berjenis kelamin laki-laki.
Ayesha, Nindi, dan satu temannya lagi memasuki ruangan itu, lalu duduk.
Ke delapan orang yang merupakan divisi Ayesha pun mengangguk.
“Saya tidak habis pikir, mengapa hal ini bisa terjadi? Kalian kan tim, mengapa tidak ada satu pun back up dari persentasi itu? Hah?” tanya Kevin seperti yang ingin memakan orang.
“Maaf, Pak. Ini semua salah saya,” jawab Henry yang memang bersalah karena telah mempercayakan penuh semua pada Ayesha.
Ayesha diam dan menunduk. Semua orang di sana pun demikian.
“Kesalahan ini sangat fatal. Dan kamu Ayesha.” Arah mata Kevin tertuju pada istrinya dan Ayesha pun langsung menonggak ketika namanya di sebut. “Bagaimana bisa kamu se ceroboh ini?”
“Maaf, Pak.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita yang sudah Kevin cintai tapi belum pernah sekalipun diungkapkan.
Sean hanya menjadi penonton. Sungguh ia pun tak tega melihat Ayesha seperti ini, walau memang hal ini terjadi karena kesalahan wanita itu.
“Baiklah, untuk hukuman atas kesalahn ini. Gaji kalian akan kena potong selama tiga bulan ke depan.”
“Hah ... Jangan Pak.”
“Wah, Pak. Jangan!”
“Iya, Pak. Jangan! Cicilan saya banyak.”
Rekan-rekan Ayesha berujar dan sedikit protes.
“Kalian telah membuat perusahaan rugi besar. Kalian tahu!" Bentak Kevin dengan suara yang cukup menggelegar. "Kalian tahu berapa yang akan mereka investasi? Hah? Dan semua gagal. Ck.”
Seketika suasana di ruangan itu pun hening hingga Ayesah menginterupsi.
“Maaf, Pak. Kesalahan ini karena saya. Jadi biar saya yang bertanggung jawab. Saya akan terima konsekuensinya.”
“Good. Bagus kalau begitu. Mulai besok kamu tidak lagi di divisi ini. Kamu akan saya pindahkan ke administrasi keuangan dengan gaji UMR.”
Sontak, semua orang yang ada di sana pun menganga. Apalagi Nindi. Sekelas Ayesha yang lulusan magister di luar negeri dengan predikat cumlaude digaji sebesar gaji UMR dan disetarakan dengan karyawan baru lulus yang lulus dengan jenjang jauh dibawah Ayesha.
Kevin benar-benar keterlaluan. Ia tetap memandang Ayesha sebagai karyawannya saja. Padahal sebenarnya wanita itu adalah istrinya.
Sean pun menggeleng. Ia menyesali keputusan Kevin yang terlalu cepat.
Ayesha pun mengangguk dan berkata, “baik Pak.”
Setelah keputusan itu. Henry dan tim nya breafing di ruangan Henry. Mereka tidak terima dengan keputusan Kevin yang memindahkan salah satu timnya.
“Pak Kevin tuh ya, kejam banget. Masa Ayesha ga dikasih kesempatan. Padahal dia baru melakukan kesalahan satu kali,” ujar Nindi marah.
Ia tak mau kehilangan teman baiknya yang satu ruangan itu. Ia tidak ingin Ayesha diganti oleh orang lain, karena orang lain belum tentu akan sebaik Ayesha.
Ayesha terharu melihat teman-teman divisi yang mendukungnya dan mempertahankan dirinya, walau hal ini terjadi karena kesalahannya. Bahkan mereka yang berujar untuk menolak dipotong gaji pun bersedia dipotong asalkan Ayesha tidak dipindahkan. Sementara Kevin? Ayesha membenarkan perkataan Nindi yang mengatakan bahwa Kevin kejam. Bahkan pria itu tidak membela dirinya, padahal ia adalah istrinya.
Entah mengapa hati Ayesha tiba-tiba merasa perih. Hari ini benar-benar hari terberat dalan hidupnya. Dan semakin berat ketika pria yang menjadi teman hidupnya itu pun tidak memberi support.
Di ruangan Kevin, ia hanya tinggal berdua dengan Sean di dalam sana.
“Kev, lu ga salah ngambil keputusan itu?” tanya Sean.
“Setiap kesalahan harus ada konsekuensinya, Sean.”
“Tapi, Ayesha itu istri lu, Kev.”
“Tapi ini kantor, status tidak berlaku. Kita harus profesional, Sean. Kalau gue ga kasih hukuman itu ke Ayesha, itu artinya gue memberi contoh buruk yang akan membuat mereka juga akan melakukan kesalahan yang sama,” ujar Kevin.
“Ya, ngga gitu juga Kev.”
“Udahlah gue pusing. Lu balik ke ruangan lu,” kata Kevin membentak asistennya.
Lalu, Sean pun pergi dari ruangan itu.
Kevin langsung menelepon bagian HRD dan meminta mereka untuk memindahkan Ayesha secara resmi ke lantai dua tepatnya ke bagian keuangan.