
Hari berikutnya, Tian memanggil Risa ke ruangannya.
Tok … Tok … Tok …
“Masuk,” teriak Tian dari dalam ruangannya.
“Bapak panggil saya?” tanya Risa.
“Ya. Duduk Ris.”
Wanita yang sudah memiliki dua anak itu pun duduk di hadapan Tian.
“Ini, laporan kamu?” tanya Tian dengan menunjukkan laptopnya pada Risa.
“Iya, Pak.” Risa mengangguk.
“Kok beda?” tanya Tian lagi.
“Kenapa, Pak? Jadi bingung ya baca laporan saya.” Tanya Risa takut.
“Ngga." Tian menggelengkan kepala. "Justru ini malah mudah di baca."
“Laporan kamu lebih rapih dari biasanya,” kata Tian lagi.
“Iya, Pak. Saya dibantu anak IT yang baru pindah ke divisi kita. Dia memudahkan saya buat nginput.”
“Anak IT? Pindah ke divisi kita?” tanya Tian yang baru sadar.
“Lah, kan saya udah cerita sama Bapak tiga hari lalu. Bapak ngangguk kok. Jadi, saya ppikir Bapak memang sudah tahu,” ucap Risa yang sering kali mendapati bosnya tidak mengamati informasi yang ia sampaikan.
“Oh, ya. Maaf, waktu itu saya tidak fokus mendengar informasi kamu,” jawab Tian sembari menggeser lagi laptopnya untuk berada tepat di hadapannya.
“Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa rekap invoice pengiriman barang ke Boston! Saya mau acc,” kata Tian lagi memerintahkan anak buahnya itu.
Risa mengangguk. “Siap, Pak.”
“Eh, iya satu lagi,” ucap Tian lagi pada Risa yang hendak meninggalkan ruangannya. “Panggilkan anak pindahin itu ke sini!”
Risa mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Ada beberapa hal yang ingin Tian tanyakan perihal hasil laporan yang diberikan Risa tadi. Pasalnya dari sistem keuangan yang ia buat sebelumnya dan dipuji oleh Kevin, masih belumlah sempurna. Ada beberapa sistem yang bisa dibuat hingga menghasilkan laporan cepat dan mudah dibaca. Sebenarnya, sistem itu pun yang menjadi laporan akhir saat ia lulus dari universitasnya kala itu. Namun, karena yang mengerjakan tugas akhirnya kala itu bukan hanya ia sendiri, sehingga ketika ia ingin mengimplementasikan ide itu disini, maka ide itu pun terganjal oleh seseorang yang melanjutkan tugas akhirnya waktu itu. Siapa lagi kalau bukan Ayesha. Wanita yang membantu merampungnya tugas akhir Tian hingga pria itu dapat lulus di tahun itu.
Tian melamun dan membayangkan sosok wanita itu.
Tok … Tok … Tok …
Namun, lamunan Tian buyar karena terdengar suara pintu yang diketuk.
“Masuk,” teriak Tian dari dalam ruangannya.
Ceklek
Perlahan pintu itu terbuka. Sontak, Tian menjatuhkan alat tulis yang sedang ia pegang. Mulutnya menganga, matanya tak berkedip ketika mendapati sosok wanita yang tengah ia cari berdiri di ambang pintu.
“Ayesha?"
“Tian?”
Keduanya berkata dengan nada lirih dan arah mata saling memandang.
Tian langsung bangkit dari tempat duduk itu dan berlari menghampiri Ayesha yang sudah masuk dan kembali menutup pintu ruangan itu.
“Ini benar kamu?” tanya Tian lagi dengan rona bahagia dan berdiri persis di depan Ayesha.
Ayesha tersenyum. Ia tak merasakan getaran apa pun pada pria ini. Bahkan ia sudah lupa dengan sikap buruk yang pernah pria itu berikan padanya.
Kedua tangan Tian menangkup bahu Ayesha seraya berkata, “Aku ga lagi mimpi kan? Ini benar kamu kan, Ay?”
Ayesha mengangguk. “Iya ini aku."
“Kamu tahu, Ay. Aku cari kamu kemana-mana, ga taunya kita malah satu kantor,” kata Tian gembira.
Pria itu tak henti-hentinya tersenyum dengan senyum yang lebar seperti menang lotre.
Ayesha tak menyangka bahwa Tian sebahagia itu bertemu dengannya. Pasalnya terakhir kali yang ia tahu, pria ini tidak menyukainya dan tidak menginginkannya.
“Aku juga ga tahu kalau kamu bekerja di sini,” sahut Ayesha dengan wajah biasa.
Ayesha melihat ke arah bahunya yang masih menempel tangan Tian di sana. Tian pun menyadari itu dan langsung melepas.
“Maaf, aku terlalu senang bertemu denganmu,” ucapnya. “Ayo, Ay. Duduk!”
Tian menggeser tempat duduk untuk Ayesha dan ia memutari meja, lalu duduk di kursinya sendiri.
“Bagaimana kabar …”
Ayesha dan Tian mengeluarkan kata-kata yang sama. Namun, perkataan itu terhenti dan tidak diteruskan karena keluar secara bersamaan.
“Ladies first,” ucap Tian yang mempersilahkan Ayesha berkata lebih dulu.
Ayesha tersenyum, hingga pria di depannya itu tak berhenti memalingkan pandangannya. Ayesha benar-benar berubah dari terakhir mereka bertemu. Ayesha menjadi sangat cantik dengan body yang proporsional. Dan, itu semakin membuat Tian menyanjung mantan kekasih yang dulu ia abaikan.
“Bagaimana kabar Jessi?” tanya Ayesha.
Tian mengeleng. “Jangan tanyakan dia, Ay! Dia adalah kesalahan. Aku sudah tidak bersamanya sejak kamu memutuskan untuk kembali ke sini.”
Saat Ayesha meminta putus pasca hari wisuda mereka itu, malamnya Tian memergoki Jessi dengan kekasihnya. Dan pada saat Ayesha berangkat ke Bali, Tian putus dengan Jessi dan berlari mengejar Ayesha di bandara. Sayangnya, pesawat Ayesha sudah berangkat saat Tian sampai di bandara itu.
Ayesha pun diam. Ia sama sekali tidak sakit hati ketika menyebut nama Jessi. Berbeda saat ia belum bertemu Kevin. Melihat Jessi di media sosial salah satu temannya saja, membuat ia jengkel setengah mati.
Entah kemana larinya sakit hati itu? Yang jelas Ayesha merasa bahagia dengan hidupnya kini. Walau Kevin sering kali membuatnya jengkel dengan sikapnya yang menyebalkan, tetapi sikap menyebalkan itu langsung terganti dengan sikap manis yang membuat Ayesha tersenyum sendiri.
Kevin memang pria aneh yang Ayesha kenal. Namun, pria aneh itu yang membuatnya lupa akan sakit hatinya pada Tian.
Pria menyebalkan, dingin, dan bermulut pedas yang menjadi suaminya itu mampu memberi perubahan besar pada Ayesha dari segi penampilan dan bentuk tubuh. Ayesha semakin cantik dan sering digosa pria yang ia lewati.
Tian terus memusatkan pandangannya pada wanita yang sudah tak lagi seperti yang ia bayangkan.
“Aku mencarimu, Ay. Aku ingin minta maaf. Aku menyesali semua yang terjadi. Maafin aku, Ay."
Tian mengambil tangan Ayesha dan menggenggamnya.
Ayesha tidak tinggal diam, ia menarik langsung tangannya yang berada di atas meja itu dan mengalihkan pembicaraan ke arah pekerjaan.
Tian memaklumi sikap Ayesha. Ia pikir, mantan kekasihnya itu masih benci dan sakit hati atas perlakuannya dulu. Ia juga berjanji akan menebus semua kesalahan itu dengan memberi banyak perhatian pada Ayesha yang saat ini sudah berada di depan matanya, karena mereka akan sering bertemu dan beriteraksi.