XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Mengulang aktivitas tadi



Setelah empat puluh menit di perjalanan, akhirnya Ayesha dan Kevin sampai di basement apartemen. Selama di perjalanan, mereka pun diam. Baik Kevin maupun Ayesha belum mulai berbicara. Mereka masih mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Rasa itu pun masih sangat mereka rasakan.


Jantung kedua insan yang duduk bersebelahan itu berdetak tak karuan.


Di bilang cinta? Ya, mereka sudah memiliki cinta di hati masing-masing. Ayesha sudah lama melupakan sosok Tian, tepatnya sejak mereka hidup satu atap dan perasaan cinta itu pun muncul seiring interaksi serta perlakuan manis Kevin walau hanya kadang-kadang. Kevin pun lebih dulu merasakan hal itu. Walau gengsinya lebih besar, tapi ia sadar bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Ayesha sejak pertama kali bertemu di Bali.


“Sshhh ... Ah.” Ayesha masih merintih, ketika Kevin membantunya keluar dari mobil.


“Masih sakit?” tanya Kevin dan langsung diangguki Ayesha. “Masih.”


Lalu, dengan sigap Kevin kembali menggendong istrinya.


“Mas, malu. Jangan digendong lagi!” rengek Ayesha.


“Tapi bisa jalan?” tanya Kevin dengan menatap istrinya.


Ayesha nyengir dan menggeleng.


“Ck. Kalau begitu biar aku membantumu. Lagi pula, kamu begini juga karena aku," jawab Kevin.


Ayesha mengangguk dan melingkarkan lagi tangannya pada leher Kevin. Pria itu membawa Ayesha menaiki lift.


Ayesha pun dengan sigap menekan tombol lift setelah mereka berada dekat dengan tempat itu.


Tring


Kevin melangkahkan kaki untuk masuk, ketika lift itu terbuka. Di sana tidak ada orang selain mereka.


“Mas tidak berat?” tanya Ayesha lembut seperti terdengar berbisik.


“Hmm ... berat sih.”


Bugh.


Ayesha memukul pelan dada suaminya. “Bohong! Aku sekarang udah ngga gendut ya.”


Kevin tertawa. “Udah tahu sekarang ga gendut, kenapa masih tanya?”


"Karena kamu ga pernah komentar apapun. Bilang aku kurusan kek atau lebih cantik kek," jawab Ayesha yang ingin di puji suaminya, karena selama mereka menikah, ia memang tidak pernah mendapat pujian sekali pun dari sang suami.


"Mau banget di puji?" tanya Kevin meledek dengan senyum menyeringai.


"Tau ah." Ayesha memalingkan wajahnya denga bibir cemberut.


Sedangkan Kevin, senang melihat istrinya cemberut. Baginya, itu sangat menggemaskan.


Tring


Pintu lift terbuka dan Kevin segera melangkahkan kakinya keluar. Lalu, ia menekan passcode dan masuk ke apartemen itu.


Kevin melewati semua ruangan dan langsung menuju kamar. Setelah sampai di kamar, ia masuk ke kamar mandi dan mendudukkan istrinya di marmer wastafel yang cukup panjang


“Kok malah ke sini?” tanya Ayesha polos.


“Kita belum mandi setelah melakukan aktivitas tadi,” jawab Kevin sembari menanggalkan pakaiannya satu persatu hingga menyisakan boxernya saja.


Ayesha menatap dada bidang suaminya dengan tatapan tak berkedip. Lalu, Kevin mendekatkan tubuhnya lagi pada Ayesha yang duduk manis di atas marmer granit itu. Ia merencanakan sesuatu yang tidak dikethui istri polosnya itu.


Kevin meletakkan kedua tangannya di pinggang Ayesha yang tak lama kemudian menyusup ke dalam roknya.


Kemudian, ia memegang bagian sensitif itu. “Di sini masih sakit?”


“Ssshhh ... He eum ....” Ayesha memgangguk sembari menggigit bibirnya, karena ia merasakan sensasi aneh lagi ketika jarj Kevin memainkan bagian yang masih sensitif itu.


Sambil merasakan sensasi aneh itu, Ayesha menatap ekspresi wajah Kevin yang sulit diartikan. Pria itu seolah ingin memakannya lagi. Ia bisa melihat wajah Kevin yang sama seperti saat mereka berada di bilik bercinta rumah sakit tadi. Tatapan memangsa.


Cup


Tanpa meminta persetujuan, Kevin ******* bibir yang sedang Ayesha gigit tadi. Ayesha pun siap tidak siap menerima serangan di bibirnya itu.


“Mmpphh ...” lenguh Ayesha sembari memegang tangan Kevin yang tengah meremas satu gunung kembarnya dan satunya lagi mengelus bagian sensitif itu.


“Mas,” panggil Ayesha lemah, ketika bibir Kevin sudah berada di dadanya.


"Mas ... Eum," lenguh Ayesha lagi saat p*t*ngnya terasa sakit tapi ada rasa berbeda dibalik sakit itu.


"Oh. Jangan digigit, Mas!"


Sepertinya Kevin memang benar-benar gemas dengan aset indah milik sang istri yang menonjol sempurna.


“Mmm ... Ma ...s.” Ayesha tak tahu rasa aoa yang ia rasakan ini, tapi ini memang benar-benar luar biasa.


Padahal Kevin hanya baru mencumbunya.


“Sayang, Mas ga tahan,” ucap Kevin. "Mas ingin lagi.”


Ayesha pasrah dan membiarkan bibir Kevin menjalajahi seluruh tubuhnya. Ia juga membiarkan Kevin membuat kismark di tempat yang ia inginkan.


Setelah puas menjelajahi tubuh itu dengan bibirnya. Ia kembali mensejajarkan wajahnya pada wajah Ayesha.


“Masih sakit?” tanya Kevin lagi.


Ini adalah pertanyaan Kevin yang kesekian kalinya. Walau ia tahu jawaban atas pertanyaan ini, tapi ia terus bertanya hal yang sama yang pasti akan dijawab Ayesha dengan anggukan.


Tapi ternyata, Ayesha tidak mengangguk. Ia memaklumi kondisi suaminya yang tengah sangat bergairah.


“Tapi, pelan-pelan ya!” jawab Ayesha.


“Jadi? Boleh?’ tanya Kevin lagi.


Ayesha pun mengangguk. “Tapi pelan-pelan.”


“Pasti,” jawab Kevin dengan semangat.


Namun, Ayesha kembali menahan tubuh suaminya sebelum ia melakukan yang lebih.


“Jangan bohong!" rengek Ayesha lagi.


Kevin tersenyum. Ya sebelumnya ia memang berbohong karena pada akhirnya ia tidak bisa melakukannya dengan lembut. Tubuh Ayesha terlalu nikmat hingga tanpa sadar ia bergerak dengan cepat dan membuat bagian ssnsitif itu menjadi sakit.


Kevin nyengir. "Iya, Sayang. Maaf kalau tadi agak menyakitkan. Tapi kali ini tidak. Aku janji!”


Kevin mengangkat dua jarinya ke atas dan Ayesha pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda setuju.


Akhirnya, Kevin mulai mengulang kembali kenikmatan itu dengan lembut sesuai dengan janjinya tadi.


Kevin tidak lagi memggunakan tempat yang benar untuk bercinta. Bukannya membawa Ayesha ke tempat tidur, ia malah mengulang aktivitas tadi di marmer granit panjang.


"Oooh ..." lolong panjang Ayesha saat mereka mulai menyatu sembari meremas bahu Kevin.


Rasa ini tak dapat dijabarkan oleh kata-kata. Sungguh, Kevin telah terhipnotis dengan tubuh ini. Ayesha adalah candu baginya sekarang. Bibir itu, tubuh itu, dan semua yang ada pada diri Ayesha, selalu membuatnya suka.


Mereka pun bergelut dalam waktu yang cukup lama, hingga Ayesha lelah dan Kevin memandikannya.


Pria itu telaten menggosok tubuh lemah istrinya yang indah itu. Lalu, sambil tersenyum ia berbisik di telinga Ayesha. "Kamu cantik, Sayang."


Kevin memperlakukan Ayesha seoerti anak kecil. Ia memandikan, memakaikan baju, hingga menyiapkan makanan.


Setelah merapikan Ayesha dan membuat makanan. Ia pun membawa makanan itu tepat di depan Ayesha yang sedang duduk di atas tempat tidur.


“Aku suapin ya,” kata Kevin yang langsung di angguki Ayesha.


Ayesha tersenyum dan menerima suapan itu. Sungguh ia sangat bahagia, sama seperti apa yang Kevin rasakan. Pria itu pun bahagia.


Kevin menatap intens istrinya. Sembari tersenyum, ibu jari Kevin mengusap sisa makanan yang berada di sudut bibir Ayesha.


Entah sudah berapa kali kupu-kupu di perut Ayesha ikut berterbangan sedari tadi? Mungkin tak terhitung. Sikap Kevin manis sekali, sangat jauh berbeda dengan Kevin yang selama ini ia kenal.


Malam semakin larut dan mereka kembali mengulang aktivitas itu. Kevin seolah tidak pernah lelah melakukan aktivitas ini. Ia ingin lagi dan lagi. Keduanya pun tampak bahagia karena hubungan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan kini bisa dibilang sangat baik.


Namun, satu yang belum Kevin lakukan untuk Ayesha, yaitu mengutarakan cinta. Walau menurut Kevin, dengan apa yang telah ia lakukan saat ini adalah jelas bahwa ia mencintai Ayesha., tapi untuk wanita, kata-kata tetap diperlukan.


Walau bagi Kevin, jika ia sudah bisa bercinta, berarti memang ia melakukannya karena cinta. Tapi bagi Ayesha, kata cinta adalah pelengkap untuk meyakinkan diri bahwa ia benar-benar berarti.


Dan, hingga suara erangan Kevin terdengar untuk ketiga kalinya, Ayesha tetap menunggu kata cinta itu keluar dari mulut pria yang saat ini tengah ambruk di atas tubuhnya itu.