XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menjadi pusat perhatian



Kevin dan Ayesha bersiap berangkat ke kantor. Mereka pun tengah menkmati sarapan bersama Oma dan kedua orang tua Kevin.


“Oh iya, Kev. Oma sudah menelepon teman Oma. Kebetulan besok dia sedang tidak ada schedjule. Jadi besok kita ke rumah sakit untuk mengetes kesuburan kalian.”


Kevin menarik nafasnya. Masih saja yang dibicarakan oleh Rasti adalah ini.


“Come on, Oma. Tidak usah berlebihan. Lagi pula, besok Kevin sudah punya agenda.”


“Mundurkan saja. Ini lebih penting,” kata Rasti.


“Oma, besok itu ada agenda penting di kantor dan Ayesha juga harus hadir, karena rapat kali ini dengan divisi Ayesha.”


“Rapat apa, Son?” tanya Kenan.


“Peralihan pergantian Pak Edward, atasan Ayesha di divisi IT,” jawab Kevin.


Memang di setiap karyawan yang berdedikasi tinggi diberikan hak untuk membawa anak atau keluarganya dengan jatah satu orang. Itu pun jika orang yang dibawa juga memiliki kredibilitas yang oke berdasarkan hasil kualifikasi dari pihak HRD.


Ayesha dan Hanin hanya menjadi pendengar.


“Kalau bisa diundur jadwalnya, undur saja." Kenan membela ibunya.


“Papa,” panggil Kevin kesal, karena sang ayah justru tidak membelanya di depan sang nenek yang mengajukan permintaan aneh.


“Ya, Kev. Turuti saja permintaan Oma. Lagi pula hanya tes saja kan? “ sahut Hanin. Lalu menggenggam tangan Ayesha yang berada di sampingnya. “Anggap saja sebuah formalitas. Oke.”


Hanin mengedipkan matanya ke arah Kevin dan Ayesha sembari tersenyum.


“Kalau begitu, pulang kerja kalian menginap lagi di sini dan besok kita jalan bersama-sama ke rumah sakit. Oke?” tanya Rasti sumringah ke arah Kevin dan Ayesha.


Ayesha langsung mengangguk patuh. Namun, Kevin masih diam tanpa ekspresi.


“Kev,” panggil Hanin.


“Iya,” jawab pria tampan itu.


“Yeee ... kalau begitu Oma akan memberi kabar teman Oma.” Rasti dengan semangat bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke kamar untuk mengabari temannya itu.


Kevin menarik nafasnya kasar. Sedangkan Hanin dan Kenan hanya tersenyum. Ayesha pun tersenyum tipis ketika Hanin dan Kenan menatapnya.


Setelah menikmati sarapan. Ayesha berangkat bersama suaminya. Mereka duduk bersebelahan di dalm mobil.


Di sela-sela perjalanan menuju kantor, Ayesha ingin sekali menanyakan semalam, suaminya pulang jam berapa? Lalu, Ayesha menoleh ke arah Kevin dan hendak menanyakan itu. Namun, Ayesha hanya menoleh saja dan melihat wajah suaminya, lalu kembali menatap lurus ke depan tanpa bertanya. Dan, itu ia lakukan berulang.


“Apa?” tanya Kevin saat Ayesha kembali meliriknya. “Dari tadi kamu melirik ke arah aku. Kenapa? Aku tampan?” tanyanya yang kemudian menoleh ke arah Ayesha lalu kembali ke jalan.


“Ish, narsis.”


Kevin tersenyum.


“Semalam, kamu pulang jam berapa?” akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Ayesha.


“Hmm ... jam berapa ya? Lupa.”


“Memang kamu kemana?” tanya Ayesha lagi dan kini ia menatap ke arah Kevin.


Lalu, kevin ikut menoleh ke arah istrinya. “Ke club xxx.”


Sontak, Ayesha terkejut. “Ngapain ke tempat seperti itu.”


“Iseng aja. Aku, Sean, dan Aldi memang sering ke sana. Itu club favorit kami,” jawab Kevin santai. Ia tak tahu bahwa istrinya sudah berpikir macam-macam.


“Terus, kamu juga suka tidur dengan wanta penghibur di sana?” tanya Ayesha lagi tiba-tiba.


Kevin tertawa. “Menurutmu?”


Ayesha mengangkat bahunya. ”Tidak tahu.”


Kevin tersenyum. “Kamu juga pasti sering ke tempat seperti itu kan? Apalagi, kamu tinggal di negara yang bebas.”


“Tidak.”


“Masa? Bukannya Vinza dan sepupumu sering ke club. Kamu tidak pernah ikut?”


Ayesha mengeleng. “Ngga.”


“Masa? Ngga percaya.”


Tak lama kemudian mereka hampir sampai. Kevin hanya butuh memutar balik di bawah fly over.


“Mas, aku turunin di sana, seperti biasa,” kata Ayesha ketika mobil Kevin sebentar lagi dekat dengan jembatan penyeberangan.


“Ngga usah, kamu turun saja di basement.”


“Jangan, Mas! Nanti ada yang lihat kita berangkat bersama. Aku diturunin di tempat biasa saja.”


Mendengar perkataan jujur Ayesha, tiba-tiba hati Kevin tersentil. Ia memang keterlaluan dengan memberi tiga persyaratan konyol pra nikah itu. Dan, ia kesal ketika Ayesha mengingatkan perjanjian itu. Padahal dahulu ia sendiri yang telah membuatnya, sehingga hubungan yang sudah terjalin mudah ini menjadi terasa rumit.


“Loh, Mas. Kok jalan terus,” kata Ayesha yang hanay bisa melihat jembatan penyeberangan itu terlewati.


“Udah ga usah banyak bicara. Pokoknya kita bareng sampai basement.”


Ayesha pun kembali duduk sempurna dan tak berkata apa-apa.


Sesampainya di basement, Ayesha keluar lebih dulu. Sebelum keluar, ia menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya keluar dari mobil mewah milik anak dari pemilik perusahaan ini yang baru saja diangkat sebagai CEO.


Kevin keluar dari mobilnya beberapa menit setelah Ayesha. Ia pun mengikuti Ayesha dari belakang dengan jarak yang tidak jauh dan tidak dekat.


“Pagi, Mba Ayesha cantik,” sapa satpam yang membukakan pintu kaca sebelum Ayesha menghampri pintu lift.


“Pagi, Pak Aryo.” Ayesha tersenyum manis membalas sapaan satpam itu, membuat Kevin yang berada di belakangnya pun kesal.


Pasalnya sejak Ayesha menggunakan mobilnya beberapa kali, dan memarkirkan di sini Pak Aryo yang selalu membukakan pintu dan memang selalu ramah dengannya saat bertemu.


“Pagi Pak,” sapa Aryo pada Kevin dengan tubuh tegap ketika pria itu melihat bisnya setelah Ayesha masuk.


“Hmm ...” Kevin hanya menjawab dengan deheman, padahal biasanya pria itu juga menjawab sapaan Aryo.


Kevin berdiri di lift khusus miliknya seperti biasa. Sedangkan Ayesha berdiri di lift karyawan. Beberapa orang yang memarkirkan mobilnya di basement juga berdiri di tempat Ayesha berdiri.


Mereka mengangguk ketika mendapati Kevin di sana dan menyapanya.


Lift Ayesha terbuka lebih dulu dari Kevin dan Kevin bisa melihat interaksi istrinya di sana.


“Eh, Ay. Ayo masuk!” kata seorang pria yang merupakan salah satu tim di divisi Ayesha.


“Wah tapi penuh ya?” tanya Ayesha, karena mereka menaiki lift dari LG dan ikut turun ke basement untuk kembali naik ke lantai mereka bekerja.


“Bisa kok, Ay. Muat. Ayo sini! Ujar pria itu dengan mengulurkan tangannya ke Ayesha. “Dari pada lama lagi nunggunya. Ayo!” Pria itu pun memaksa dan menarik tangan Ayesha untuk masuk ke dalam lift.


Pemandangan itu pun, sontak membuat Kevin gerah. Ia segera menekan lift itu agar mereka sama-sama lift mereka beriringan.


Benar saja, sesampainya di lantai enam. Setiap meja yang Ayesha lewati, semua pria menyapanya.


“Hai Ayesha.”


“Wah, Ayesha cantik udah dateng. Makin cantik aja.”


“Semangat kalau udah ketemu Neng Ayesha.”


Begitu ucapan para prai yang Ayesha lewati dan Ayesha pun hanya tersenyum manis menanggapi godaan itu. Kebetulan lantai itu di isi oleh divisi IT dan kreator marketing yang sebagian besar karyawannya berjenis kelamin laki-laki.


Ayesha memang menjadi pusat perhatian di lantai itu sekarang, persisnya di beberapa minggu terakhir.


Kevin terpaksa melewati ruangannya dan terus berjalan mengikuti langkah Ayesha. Lalu, ia menarik lengan Ayesha ketika mereka hanya tinggal berdua di lorong-lorong ruangan yang tertutup.


“Mas, apaan sih.” Ayesha berontak saat Kevin mencekal lengannya dan menariknya ke toilet.


Sesampainya di sana, Kevin memasukkan Ayesha di bilik kecil dan menguncinya. Kevin menghimpit Ayesha ke tembok, lalu mencium brutal bibir itu.


“Mmpph ..” Ayesha yang tidak siap pun meronta.


Tak lama kemudian, Kevin melepas ciuman itu dan kembali menciumnya. Kevin mengulang kegiatannya beberapa kali, hingga bibir Ayesha bengkak dan pasokan oksoigen di dadanya pun habis.


“Apa-apaan sih kamu, Mas?” protes Ayesha.


“Kamu yang apa-apaan. Ngapain membalas sapaan mereka dengan senyum semanis itu. Mau menggoda mereka? Hah?”


Plak


Ayesha menampar pipi Kevin. “Kamu ga tahu aku seperti apa? Jadi jangan nilai aku sembarangan!”


Ayesha langsung pergi dari bilik kecil itu dengan wajah kesal dan meninggalkan Kevin yang masih mematung sembari memegang pipinya.