XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Terjebak permintaan Oma



“Aku tunggu di basement.”


Pesan singkat Kevin untuk istrinya, setelah waktu sudah melebihi dari waktu jam pulang seharusnya.


Nindi pun sudah pamit pulang pada Ayesha, sedangkan dirinya masih betah duduk di ruangan itu. Rasanya ia malas pulang. Ia ingin menghindar sejenak dari pria yang bermulut pedas itu dan yang sering bertindak semaunya atas dirinya.


Ayesha hany membaca pesan itu tanpa niat untuk membalasnya. Ia tetap berada di ruangan yang sunyi itu sendiri.


Di sana, Kevin sadar bahwa Ayesha masih marah dengannya. Ia juga tahu bahwa sang istri masih berada di ruangan itu.


Satu jam berlalu, Kevin masih menunggu Ayesha di ruangannya.


Ceklek


Mata Kevin tertuju pada pintu ruangan yang terbuka dan menampilkan sosok Sean.


“Ck, gue kira lu udah samperin Ayesha di ruangannya,” kata Sean yang hendak pamit dan sebelum itu ia menyerahkan sisa laporan hari ini pada Kevin.


“Di luar udah sepi?” tanya Kevin.


“Yap, sepertinya semua sudah pulang.”


“Ayesha masih ada di ruangannya kan?” tanya Kevin lagi.


“Sepertinya iya. Soalnya pas gue lewat ruangan itu lampunya masih menyala,” jawab Sean. “Udah sana, temuin dia.”


“Ck.”


“Ya udah, gue duluan.” Sean pamit dan meninggalkan ruangan Kevin untuk pulang lebih dulu.


Kevin memegang pipinya. Rasa kebas akibat tamparan sang istri masih sangat terasa. Ayesha adalah satu-satunya wanita yang berani melakukan itu padanya. Kesal, sudah pasti. Walau ia pun sadar jika insiden itu terjadi memang karena kesalahannya yang telah menuduh Ayesha macam-macam. Tetapi apa Ayesha tidak tahu itu? Jika ia bersikap demikian karena dilanda cemburu.


Kevin menarik nafasnya kasar dan bangkit dari kursi kebesarannya. Ia pun beralih keluar dan mengambil jasnya. Ia berjalan menuju ruangan Ayesha. Gedung ini terlihat semakin sepi. Hampir semua penghuni yang mengisi tempat ini sejak pagi pun telah pergi pulang.


Pria itu mau tidak mau menanggalkan egonya. Ia mendatangi ruang Ayesha untuk mengajak sang istri pulang bersama. Apa kata orang tua dan Omanya nanti, jika mereka pulang sendiri-sendiri, padahal mereka berada dalam satu gedung. Bahkan satu lantai.


Ceklek


Kevin membka pintu ruangan staf IT. Ia melihat Ayesha yang arah matanya langsung tertuju pada ambang pintu, lalu wajah itu langsung kembali fokus di layar laptopnya.


“Mengapa pesanku tidak di balas?” tanya Kevin sambil mendudukkan dirinya di depan Ayesha.


Mereka duduk berhadapan dengan meja kantor Ayesha sebagai pembatas.


“Kamu ngapain ke sini? Ga takut kelihatan orang?” Ayesha balik bertanya.


Kevin diam. Ia hanya memperhatikan istrinya yang tak kunjung melihat ke arahnya. Tiba-tiba tangan Kevin menutup layar laptop Ayesha. “Ayo pulang!”


“Ih, apaan sih kamu? Aku masih ngerjain kerjaan.” Ayesha membuka lagi laptopnya.


“Pulang! Atau aku pecat.”


“Ck.” Ayesha berdecak sembari menatap kesal ke arah Kevin dan mau tidak mau ia mulai merapikan mejanya. “Dasar pemaksa.”


Ingin rasanya Kevin tersenyum, melihat Ayesha yang menggerutu. Ia duduk dengan melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah sang istri yang tengah merapikan semua alat kerja yang menyala dan merapikan berkas-berkas yang berserakan.


“Kamu masih marah?” tanya Kevin yang melihat wajah Ayesha yang masam.


Ayesha diam.


“Seharusnya yang marah itu aku. Nih lihat pipiku masih merah!” ujar Kevin sembari menunjuk ke arah pipi yang ditambar Ayesha pagi tadi.


Ayesha melirik ke arah suaminya dan berusaha menahan tawa. Ia cukup bangga karena dapat menampar pipi seorang CEO.


“Itu salah kamu,” jawab Ayesha.


“Salah kamu juga. Kalau kamu ngga ngundang kekesalanku. Aku juga ga akan berkata pedas.”


“Emang salah aku, apa?” tanya Ayesha pada Kevin. “Hanya karena menjawab sapaan mereka dengan senyum manis? Ish, aneh.”


“Iya, aku aneh,” jawab Kevin asal dari pada harus mengakui bahwa dirinya cemburu, itu mungkin terkesan lebih aneh dimata Ayesha atau harga dirinya bisa turun seketika. “Ya sudah , ayo pulang! Lelet!”


Kevin menarik lengan Ayesha yang sudah selesai merapikan alat kerjanya, tetapi masih saja duduk di kursinya.


“Iya, tunggu!” kata Ayesha yang terpaksa mengikuti langkah suaminya.


Mereka pun pulang bersama tanpa dilihat siapa pun, hanya Pak Aryo satpam di lobby basement yang melihat interaksi mereka.


“Jangan senyum sama Aryo!” ancam Kevin sesaat setelah mereka keluar dari lift yang sudah berhenti di basement.


“Iya,” sahut Ayesha cemberut.


“Puas!” kata Ayesha saat ia memasuki mobil Kevin.


“Belum,” jawab Kevin. “Pokoknya mulai sekarang kalau di sapa orang, biasa aja. Ga usah pake senyum apalagi senyum manis kaya tadi pagi, sama karyawan laki-laki lagi. Ga boleh. Kalau aku tahu masih seperti itu. Terpaksa aku pecat kamu dengan alasan indisipliner.”


“Ish kamu,” rengek Ayesha dengan tangan yang sudah terkepal ke atas. Namun, kepalan itu hanya sampi di udara dan beralih ke keningnya sendiri.


“Arrggg ...” Ayesha mengepalkan kedua tangannya sembari mengeram di depan wajah Kevin dan kesalnya, pria itu malah tersenyum menyeringai.


****


Seampainya di rumah Kenan, semua kembali normal. Kevin dan Ayesha tampak seperti sepasang suami istri sungguhan. Saat kumpul bersama orang tua dan Oma di ruang keluarga, Kevin duduk di samping Ayesha dengan sangat dekat hingga bahu Ayesha menempel pada dada bidang Kevin.


Mereka di sana berbincang dan sesekali tertawa, karena Kenan membicarakan insiden-insiden lucu bersama istrinya di beberapa tempat ketika berada di Cambridge.


Saat Kevin tertawa, tanpa ia sadari ia menutup bibirnya dengan bahu Ayesha yang terbuka sembari mengecup bahu itu diam-diam. Ayesha merasakan sentuhan bibir Kevin yang basah pada bahunya. Ia juga merasakan tangan kiri Kevin yang melingkar di pinggangnya. Mereka duduk dengan sangat dekat.


“Oh ya, kev. Besok kamu sudah membatalkan agendamu di kantor kan?” tanya Rasti.


“Sudah, Oma.”


“Bagus. Besok kita berangkat bersama,” jawab Rasti senang. “Ayesha juga sudah izin kan?”


Ayesha pun mengangguk.


“Nah, bagus. Kehamilan itu memang harus diprogram sejak dini.”


“Ya, Oma,” jawab Kevin malas.


****


Keesokan harinya, Kevin dan Ayesha sudah bersiap untuk ke rumah sakit bersama Rasti. Ia tidak tahu akan seperti apa pemeriksaan nanti, yang penting ia hanya mengabulkan permintaan Oma yang jika tidak dikabulkan akan terus menerus meminta.


“Oma tidak sabar untuk menimang cicit dari kalian. Ah, sudah lama sekali rumah tidak dihiasi dengan suara tangis bayi,” kata Rasti di dalam mobil.


Ayesha hanya tersenyum kecut, sementara Kevin tak berkomentar.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung di sambut dan di arahkan ke ruang wanita paruh baya yang merupakan teman dari sang nenek.


“Jeng, Rasti. Long time no see,” sapa wanita paruh baya yang menggunakan jas khas seorang dokter.


Usia wanita paruh baya itu dengan Rasti memang cukup jauh berbeda, tetapi mereka sangat kenal dekat.


“Ini cucu, jeng Rasti?” tanya dokter itu sambil melihatke arah Kevin dan Ayesha.


“Ya, ini cucu saya dan ini istrinya. Mereka memang baru dua bulan menikah, tapi alangkah baiknya jika kesuburan mereka di cek sedari sekarang kan? Jadi jika ada kendala sudah ditangani lebih awal,” kata Rasti.


“Ya, ya, saya mengerti. Sebagai pewaris tahta keluarga Adhitama, pasti ingin memiliki keturunan anak laki-laki untuk menjadi generasi penerus bukan?” tanya teman Rasti yang akan memeriksa Kevin dan Ayesha.


“Yap, betul sekali.”


Kevin hanya mengangguk, begitu pun Ayesha, hanya saja Ayesha masih menyunggingkan senyum, sementara Kevin tidak sama sekali.


Kemudian, Ayesha diminta untuk berbaring dan dilakukan pemeriksaan melalui USG biasa dengan cara menempelkan alat pada bagian kulit perut bawah Ayesha yang sudah diolesi gel.


“Hmm ... rahim kamu bagus,” kata dokter itu sembari menggerakkan alat yang berada di perut bawah Ayesha. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua bagus. Tidak ada tanda-tanda kelainan atau hal negatif apa pun.”


Rasti terlihat senang mendengar penuturan dari teman baiknya itu.


“Tidak ada masalah pada Ayesha, hanya tinggal dibuahi saja dengan intensitas yang sering,” kata dokter itu dengan mengarahkan wajahnya pada Kevin.


Kevin kembali mengangguk, mengiyakan saja apa yang dikatakan dokter.


“Setelah ini, kita periksa kesuburan kamu ya,” kata dokter itu pada Kevin.


Kevin mengernyitkan dahi. “Bagaimana caranya, Dok?”


“Caranya?” dokter itu tertawa.


“Ya seperti yang sering kalian lakukan. Tapi bedanya kalian lakukan di sini.” jawab dokter itu. “Nanti kalian akan dibawa oleh suster Dela ke ruang bercinta. Kalian bercinta di sana dan begitu akan ada yang meledak, kamu tumpahkan di sini.” Dokter itu memberikan botol kecil yang terbuat dari plastik kepada Kevin. “Oke!”


Sontak Ayesha dan Kevin saling bertatapan. Mereka syok dan bingung untuk melakukan apa yang dokter itu perintahkan.


“Ah, si*l. Tahu begini gue ga ikutin kemauan Oma,” gumam Kevin yang terjebak dengan permintaan sang nenek.


Salam dari Kevin dan Ayesha 😘