XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Kembali membuat cemburu



Seharian, Ayesha tidak keluar dari apartemennya sama sekali. Ia sibuk menyelesaiakan beberapa pekerjaan yang lusa nanti akan ia presentasikan. Sambil mengerjakan pekerjaan kantor, Ayesha iseng berselfie ria.


Cekrek ...


Ayesha berfoto dengan gaya menopang dagu sambil tersenyum manis hingga menjadi beberapa jepretan.



“Ih, cute juga,” gumamnya sembari menggabungkan keempat foto hasil jepretannya tadi.


Kemudian ia unggah ke media sosial.


Di kantor, Kevin yang memang sedang memegang ponsel itu pun menerima notif dari unggahan tersebut. Kevin langsung mengernyit dan tersenyum mellihat foto cantik sang istri yang tengah tersenyum.


Namun, beberapa detik kemudian senyum itu pun memudar siring arah mata dan tangannya yang mengarah pada kolom komentar.


“Cantik.”


“Ay. Long time no see. Ketemuan yuk!”


“Ayang aku makin cantik.”


“Ay, kurusan tambah cantik.”


“Ay, sayang mau jadi pacar abang?”


Sontak mata Kevin memanas. Otaknya pun ikut panas. Ia kesal dengan berbagai komentar pujian yang datang dari nama-nama kaum adam. Apalagi dominasi dalam kolom komentar itu memang para kaum adam.


Kevin langsung mendial istrinya melalui panggilan video call.


Tut ... Tut ... Tut ...


Kevin menunggu nada itu tersambung sambi menghentakkan jarinya di meja. Beberapa detik, Kevin menunggu tetapi Ayesha tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Kemudian, Kevin mematikan panggilan itu dan mengulangnya.


Tut ... Tut ... Tut ...


Masih dalam keadaan yang sama, Ayesha belum juga mengangkat telepon itu.


“Wah, memang minta dihukum kamu Ay,” ujar Kevin dengan tetap menempelkan alat komunikasi itu pada pipi kanannya.


Ayesha kembali mengundang emosi pria posesif itu dengan membuatnya cemburu.


Di apartemen, Ayesha memang meninggalkan ponsel itu di kamar. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan kantor, ia bosan dan berselfie ria. Setelah mengunggah hasil selfi itu, ia langsung meninggalkan kamar dan beralih ke dapur.


Ayesha hendak memasak sesuatu untuk suaminya pulang nanti, mengingat saat ini memang sudah pukul tiga sore.


Di sana, Kvin kesal karena sudah lima kali ia menelepon sang istri tapi tetap tidak di angkat.


Lalu, Kevin mengangkat line telepon kantor.


“Dengan Adhitama Grup di sini,” ujar Kayla yang mengangkat line telepon itu.


“Hmm ... sebentar, aku liat dulu ya,” jawab Kayla sembari mengambil buku agendanya. “Ngga ada Kev.”


“Oke, kalau begitu gue balik ya. “


“Oke,” jawab Kayla.


Kevin menutup line telepon itu dan kini tersambung di ruang Sean.


“Yes Bos,” ucap Sean.


“Gue balik. Semua beres ya!”


“Beres,” jawab Sean. “Eit tunggu! Emang lu mau ke mana?” tanyanya.


“Ya ... pulanglah.”


Sean melihat arloji di tangan kanannya. “Masih sore, Bro.”


“Ck, mau cepet-cepet pulang gue. Ngga tahan.”


“Si*l. Bos gila lu.” Sean tertawa melihat berubahan bos sekligus sahabatnya ini.


Kevin pun menutup line telepon itu dan merapikan alat kerjanya. Ya, ia memang tak tahan ingin segera bertemu Ayesha. Entah mengapa sekarang ia selalu rindu dengan wanita itu. ia tak bisa lama-lama berjauhan darinya. Pesona Ayesha memang mampu membuatnya takluk, di tambah rasa tubuh itu, hmm .... membuatnya terngiang-ngiang.


Di dapur, Ayesha berencana membuat masakan paling mudah yaitu makaroni tumis sosis dan daging barberque. Tahap pertama membuat makaroni tumis sosis. Satu masakan itu saja sudah menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit, tapi sampai sekarang Ayesha masih sibuk menumis. Tangannya bergerak untuk mengaduk tumisan itu hingga matang.


Ayesha mengambil sendok untuk mencoba masakan itu. “Hmm ... kok rasanya seperti ini?”


“Ck ..” Ayesha kesal dan melempar sendok itu asal. Ia sudah tidak mood untuk memasak menu kedua, karena menu pertama saja sudah gagal.


Entah mengapa ia sulit sekali menjadi istri yang pintar memasak. Setiap masakan yang ia masak kalau tidak gosong, rasanya yang tidak enak. Ayesha lemas dan duduk di lantai itu. Sedangkan Kevin baru saja memasuki apartemennya.


Langkah Kevin langsung tertuju pada kamar. Namun, ia tak melihat Ayesha di sana, yang ia lihat hanya laptop yang masih menyala serta ponsel yang tergeletak di sampingnya. Kevin membuka jasnya dan meeltakkan di sofa. Lalu, ia membuka dasi yang ia letakkan bersama dengan jasnya di tempat yang sama. Ia keluar lagi dari kamar itu untuk mencari Ayesha sembari membuka satu kancing kemeja atas dan menggulung kemeja lengan panjang itu sampai siku.


Kevin terlihat semakin tampan dengan style yang seperti itu.


Langkah Kevin berjalan ke arah dapur. Namun, dari kejauhan ia tak melihat Ayesha berdiri di sana. Kemudian, langkahnya semakin dekat. Ia terus menghampiri kitchen set yang sepertinya baru saja digunakan. Aroma tumisan yang Ayesha buat tadi pun masih menyengat.


Kevin terkejut, ketika mendapati istrinya tengah duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalany di lutut itu.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Kevin yang langsung berjongkok mensejejarkan tubuhnya pada Ayesha.


Ayesha mengangkat kepalanya dengan mata sembab.


“Hei, kamu nangis?” tanya Kevin lagi dengan menangkup pipi basah sang istri.


“Aku ga berguna, Mas. Aku bodoh, setiap masakan yang aku masak ga pernah berhasil.”


Kevin pun tersenyum. Ayesha benar-benar manja dan seperti anak kecil. Kepulangan Kevin yang semula menggebu karena kesal dengan unggahan itu, seketika hilang dan berganti dengan rasa empati.


Kevin langsung memeluk kepala istrinya. “Ya, kamu memang bodoh.”