XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sean dan Nindi



Sebelum Nindi memakan makanan yang Sean beli dengan susah payah itu, Sean kjustru malah memakan Nindi terlebih dahulu sebagai imbalan.


"Mas, udah. aku laper.” Nindi merengek.


Tubuhnya kembali dipenuhi oleh kismark yang bertambah banyak. Namun, Sean tetap mengungkung tubuh sintal yang polos itu.


“Mas ingin setiap hari menjenguk Sean junior.” Sean mengelus perut rata Nindi.


“Justru tidak boleh setiap hari, Mas. Usia kehamilanku masih sangat muda, menurut yang aku baca, akan sangat rentan jika kita sering bercinta.”


Sean menoel ujung hidung Nindi. “Ah, itu sih alibi kamu aja supaya tidak melayaniku.”


Nindi tertawa. “Beneran. Kalau ga percaya tanya aja dokter pas aku periksa nanti.”


Sean tersenyum dengan kedua tangan yang masih memeluk tubuh polos itu. Lalu, tangan Sean meraba ke dada Nindi. “Pantas saja bagian ini semakin bulat dan menantang.”


“Mas, ih.” Nindi menepis tangan Sean karena jari pria itu kini memilin bagian merah muda yang masih menantang.


Sean pun tertawa. “Apa setiap ibu hamil se agresif kamu?”


“Memangnya aku agresif?” tanya Nindi tidak terima, lalu melepaskan kedua tangan Sean yang memeluknya dan keluar dari pelukan itu.


Nindi bangkit, Sean pun mengikuti sang istri dan mendekatinya lagi.


“Memang,” kata Sean dengan memeluk Nindi dari belakang. Posisi mereka masih berada di atas ranjang.


Nindi menoleh dan mengerucutkan bibirnya.


“Aku pria yang tidak pernah kalah di ranjang. Tapi kamu, luar biasa. Kamu mengalahkanku berkali-kali,” kata Sean lagi.


Nindi langsung menyungging senyum dan hendak menyombongkan diri. Namun, Sean kembali berkata, “Tapi kekalahanku hanya kemarin. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menang lagi dan membuatmu menyerah.”


Sebelumnya, Sean memang kalah, tapi untuk pagi ini ia yang menang. Nindi sudah tumbang lebih dulu dan menyerah.


“Pagi ini aku kalah, karena aku lapar. Coba kalau tadi aku sarapan dulu, pasti aku menang.”


Sean tertawa. “Kalau kalah, ngaku aja kalah.”


Nindi kembali mengerucutkan bibir. Ia menurunkan kakinya ke lantai. Nindi pun merasakan sesuatu yang perih di sana. “Mas, tanggung jawab.”


Sean tersenyum melihat Nindi yang sudah berdiri, tapi kesulitan untuk berjalan. Pria itu pun mendekati sang istri dan hendak menggendongnya.


“Memangnya sakit?” tanya Sean seolah tak bersalah.


“Pakai tanya lagi,” sungut Nindi membuat Sean kembali tertawa.


“Mas pelan-pelan loh tadi. Lembut banget malah.”


Nindi yang masih dalam gendongan sang suami itu pun memukul dada bidangnya. “Pelan-pelan dari hongkong. Mana ada kamu pelan-pelan kalo lagi bercinta.”


Sean kembali tertawa. Lalu, menurunkan tubuh itu d bath up. “Maaf, Sayang. Habis kamu enak sih. Mas jadi hilang kontrol.”


“Tenang, setelah ini Mas yang akan siapkan makanan untukmu. Oke!” Sean berusaha mengambil hati Nindi dengan menjadikan wanita itu putri raja.


Sean menyiapkan semua keperluan Nindi. Ia pun merapikan kamar yang berantakan usai percintaan mereka tadi. Ia juga menyemprotka pengharum ruangan untuk menghilangkan aroma dari sisa-sisa percintaan tadi.


Sean sengaja merapikan semua sebelum Nindi keluar dari kamar mandi.


“Hm. Harum!” ucap Nindi saat baru keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya terlilit handuk yang tidak menutupi penuh bagian-bagian yang menggiurkan itu.


“Sudah selesai tuan putri. Semua sudah rapi dan wangi. Sarapanmu juga sudah siap. Susu cokelat hangat pun siap diminum,” kata Sean sembari memperlihatkan hasil kerja kerasnya dan nampan yang berisi makanan lengkap dengan minumannya.


Sean meletakkan bungkusan nasi uduk semur jengkol itu di atas piring. Ia sengaja membawa makanan itu ke dalam kamar agar Nindi tidak perlu repot keluar dari ruangan ini.


Sejak menikah dengan Sean, ia tidak pernah sekali pun melihat pria itu membersihkan apartemen. Yang ada, selalu memberantaki saja dan meletakkan segala sesuatu asal. Jika Nindi kesal dengan kelakuan sang suami, Sean langsung meminta pihak pengelola mengirimkan orang untuk membersihkan unitnya. Padahal bukan itu yang Nindi mau. Ia hanya ingin Sean tidak asal-asalan. Tapi kini, pria itu berubah. Mungkin semua pria yang akan menjadi ayah, akan seperti Sean. Mungkin.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Sedangkan Nindi baru membuka bungkusan yang Sean beli sejak pagi.


“Ck, gara-gara melayani nafs* si bule. Sarapanku jadi terlambat,” gumam Nindi sembari mengelus perutnya. “Maaf ya, Sayang. Pasti kamu sudah lapar. Mama juga lapar.”


Nindi memakan lahap makanan kesukaannya. Ia melupakan Sean yang masih berada di dalam kamar mandi dan membersihkan diri setelah Nindi. Lagi pula Sean sudah kenyang, karena sudah memakannya tadi. Sean tidak butuh sarapan, yang ia butuh asupan tubuh Nindi. Dasar bule mesum.


“Uuuu …” Nindi bersendawa.


Ia tidak memperhatikan kehadiran Sean yang sudah keluar dari kamar mandi. Sean pun tersenyum melihat kelakuan istrinya yang sedikit bar-bar.


“Kenyang?” tanya Sean membuat Nindi menoleh ke belakang.


“Eh, aku kira kamu masih di dalam kamar mandi.”


“Aku sudah di sini dan cukup mendengar sendawamu yang kencang.”


Nindi tertawa. “Maaf. abis enak banget semur jengkolnya.”


Nindi menghampiri Sean dan memeluk pria yang masih bertelanjang dada itu. Ia juga memajukan wajahnya untuk mendekati wajah Sean. “Makasih sayang.”


“Eum … hoek.” Sean langsung menjauhkan diri dari Nindi. “Mulut kamu baunya ga enak.”


Nindi tertawa. “Ini karena makanan yang kamu beli. Hmm… aromanya sedap banget kan?”


“Sedap apaan? Nindi bau.”


Nindi malah sengaja mendekati mulutnya ke wajah sang suami. Dan, Sean berusaha menghindari istrinya.


“Jangan dekat-dekat, Nindi!”


“Tapi aku mau cium kamu, Mas.”


“Nindi,” teriak Sean sembari menahan nafas agar tak mencium aroma dari mulut Nindi yang sengaja dihembuskan ke arahnya.


Nindi tertawa bahagia karena baru kali ini ia bisa mengerjai suaminya yang sering mengerjainya.


****


“Nindi …” teriak Sean saat ia hendak menggunakan kamar mandi untuk buang air kecil.


“Kenapa sih? Kamu teriak-teriak terus.”


“Tadi Mas sudah membersihkan ini, kenapa sekarang bau lagi?” tanya Sean menunjuk ke kamar mandi.


“Kan tadi aku juga abis buang air kecil.”


“Ya, ampun Nindi. Mas ga mau kamu makan makanan itu lagi. Mas ga kuat baunya.”


Sean memegang alat sikat untuk membersihkan kamar mandi itu sembari menutup hidungnya.


“Maaf, tapi jengkolnya masih sisa. Rencananya nanti malam mau aku makan lagi.”


“Nindi,” teriak Sean sembari menatap tajam ke arah sang istri.


Nindi menahan tawa sambil berkata, “Lagian siapa suruh membeli makanan itu banyak. Sayang kalau tidak di habiskan.”


“Ck.” Sean merutuki dirinya yang memberi uang ratusan ribu pada si penjual nasi uduk itu. sehingga saat tidak ada kembalian, si penjual itu pun menambah jengkolnya untuk Sean bawa pulang.


“Ah, si*L.” ini adalah kesekian kalinya Sean membersihkan kamar mandi, karena jika tidak isi perut Sean akan kembali terkuras karena aroma yang tidak enak itu.