XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Pelukan hangat



Sudah tiga hari Nindi berada di apatemen Sean. Dan, selama itu pula ia masih diberi izin untuk istirahat total. Nindi dibebastugaskan dengan urusan kantor selama satu minggu dan hari ini terhitung hari terakhir izin itu. Kesehatan Nindi pun, kini hari semakin membaik. Itu semua berkat Sean yang telaten merawatnya. Ia tak akan pernah melupakan jasa Sean dan perhatian pria itu yang sampai ke hatinya.


Malam ini Nindi berkutat di dapur minimalis apartemen Sean. Dapur yang tidak pernah disentuh, terlihat dari beberapa perabot dapur yang masih kinclong dan porselen yang mengkilat. Sepertinya panci-panci yang menggantung indah hanya sebagai pajangan karena si pemiliknya tak pernah menggunakan.


“Mas, jangan makan malam diluar! Aku sudah siapkan makan malam di sini.”


Nindi mengirim pesan pada Sean. Lalu, ia meletakkan kembali ponselnya dan kembali mulai memasak. Ia sengaja memasak masakan spesial untuk Sean. Sesekali Nindi pun tersenyum ketika ingat perkataan Sean yang memintanya untuk menjadi pacar sungguhan, juga ketika Sean memaksa dengan menganggukkan kepalanya.


Sejujurnya, Nindi pun ingin menjadi pacar sungguhan untuk Sean. Namun, ia takut. Tapi sepertinya virus merah jambu itu lebih kuat dari rasa takut Nindi. Dan, sepertinya Nindi bertekad akan menjalani hubungan ini dengan sungguh-sungguh.


Di kantor, Sean membuka pesan dari Nindi. Bibirnya langsung menyungging. Ia benar-benar serasa memiliki istri yang menunggunya untuk makan malam bersama di rumah.


“Jangan capek-capek! Kamu belum sembuh benar.”


Sean membalas pesan Nindi.


Tring


Nindi yang sedang memotong sayuran pun berhenti. Ia mengambil ponselnya dan membaca pesan Sean. Bibir Nindi pun tersenyum. Pria itu selalu menunjukkan perhatiannya.


“Aku sudah sehat. Sangat sehat malah,” jawab Nindi melalu pesan whatsapp.


Sean menghela nafasnya, bukan karena tidak senang melihat Nindi sudah kembali sehat, tapi ia sedih karena pastinya setelah ini apartemennya kembali sepi. Ia kembali dilanda kesepian. Selama Nindi berada di apartemennya, Sean selalu pulang tepat waktu. Saat di kantor pun rasanya ingin cepat pulang karena ada seseorang yang menanti kehadirannya di sana. Dan, setiap sepulang kerja, Sean selalu menyempatkan membeli jajanan makanan untuk Nindi. Ia seperti seorang suami yang membawa tentengan sepulang kerja. Di tambah, mata Nindi yang berbinar tatkala Sean membawakan martabak manis, martabak telur, atau cakwe dan kue bantal. Mudah sekali membahagiakan Nindi, pikir Sean.


Sean langsung mendial nomor Nindi.


Tut … Tut … Tut …


Nindi yang memang meletakkan ponsel tak jauh dari jangkauan pun langsung meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau hingga terlihat wajah Sean di sana.


“Halo.”


“Kamu masih belum sehat, Nin.”


“Aku sudah sangat sehat, Mas. Lihat! wajahku tidak lagi pucat kan?” Nindi menampilkan wajahnya melalui panggilan video call itu.


Sean memandang wajah Nindi yang kalau dilihat lebih dekat, tidak kalah cantik dengan beberapa pemain sinetron. Lalu, Sean menurunkan pandangannya ke bibir Nindi yang berwarna pink. Sepertinya Nindi sengaja sedikit memoleskan lipstik ke bibirnya agar tidak terlihat pucat.


“Aku sudah sehat kan?” tanya Nindi lagi ketika di sana Sean hanya terdiam dan hanya memandangnya saja.


“Kalau begitu, besok pagi aku bisa pulang,” kata Nindi lagi.


“Siapa yang memberi izin? Kamu tidak boleh balik ke kost karena masih sakit,” jawab Sean.


“Aku udah sehat, Mas.”


“Belum,” ucap Sean.


“Udah, Mas.”


“Belum, Nin.”


“Ish, tau ah.” Nindi cemberut.


“Ya sudah, Mas akan pulang cepat nanti,” kata Sean.


Nindi pun mengangguk. Walau dihatinya tertawa. Ia sudah seperti istri yang menunggu suami pulang dari kantor.


Kemudian, Sean menutup panggilan telepon itu.


Hari berjalan begitu cepat. Baru Sabtu kemarin Nindi sakit dan tidak bisa datang ke apartemen Sean untuk menjalankan kesepakatan mereka. Kini, hari sudah akan Sabtu kembali. Di akhir hari kerja menjelang weekend, biasanya Sean akan pulang malam. Kalau pun tidak pulang malam dan pekerjaan tidak banyak, sepulang dari kantor ia akan mampir ke klub langganannya. Di tempat itu terkadang ia ditemani Aldy, atau terkadang hanya sendiri. Sebelum Kevin menikah, biasanya mereka bertiga akan berada di tempat itu untuk menghilangkan penat. Tapi sejak menikah, Kevin praktis tidak lagi ke tempat itu kalau tidak karena dirinya yang memaksa Kevin untuk ikut.


****


Waktu menunjukkan pukul lima sore. Sean segera merapikan meja kerjanya dan keluar dari ruangan. Ia bergegas pulang.


“Hei, Al. udah sehat?” tanya Sean ketika keluar dari ruangannya dan melihat Aldy di meja Kayla.


Sean menghampiri sahabatnya dan memeluknya.


“Oh, Syukurlah. Seneng gue dengernya,” ucap Sean sembari menepuk bahu Aldy.


“Nah, lu sendiri mau kemana?” tanya Aldy yang bingung melihat Sean sudah ingin pulang tepat waktu.


“Balik lah.”


“Tumben,” ucap Aldy.


“Di apartemennya udah ada yang nunggu dia, Yank.” Kayla bersuara.


Aldy tertawa. “Cewek itu masih di apartemen lu?”


“Masih lah,” jawab Sean.


“Awas anak orang jangan di apa-apain! Nikahin dulu,” kata Aldy.


“Iya, bawel,” jawab Sean ketus sembari menjauh pergi.


Malam ini, di kediaman Adhitama memang sedang ada acara, khusus keluarga saja. Rencananya Kayla mengajak calon suaminya untuk makan malam di rumah besar Rasti. Kenan beserta istri, juga Gunawan dan keluarga ada di sana. Mengingat, sebentar lagi Aldy juga akan menjadi bagian dari keluarga Adhitama. Tanggal pernikahan untuk Aldy dan Kayla sudah ditentukan. Bahkan event organizer sudah di booking dan undangan baru saja naik cetak.


Sedangkan, Kevin dan Ayesha sudah pulang sejak siang. Mereka menjemput kedua orang tua Ayesha yang datang dari Australia. Vicky ingin memenuhi janjinya untuk membantu Kenan dalam pemilihan. Ia juga mendelegasikan bisnisnya di sana pada sang putra dan pada orang-orang kepercayaannya.


Sean hanya kebagian lelahnya. Kepergian Kevin sejak siang meninggalkan banyak pekerjaan yang belum terselesaikan dan harus dilanjutkan olehnya. Mendapat pesan dari Nindi seolah amunisi agar ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Alhasil, semua berjalan sesuai rencana. Ia dapat berdiri di depan pintu apartemennya tepat pukul 17.30.


Sean menekan passcode dan membuka pintu itu. Aroma masakan yang lezat dari dalam sana sudah bisa Sean rasakan saat membuka pintu. Ia tahu di mana keberadaan Nindi. Sean melangkahkan kakinya menuju dapur.


Di sana, Sean berdiri sejenak sembari memperhatikan gerak gerik Nindi yang lincah ketika memasak. Untungnya, Sean berdiri di belakang tubuh Nindi, sehingga wanita itu tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan gerakannya.


“Astaghfirulloh.” Nindi memegang dadanya ketika berbalik dan melihat Sean berdiri di sana.


“Kamu kira aku hantu?” tanya Sean sambil berjalan mendekati Nindi.


"Tapi tidak seperti donat gula," ledek Nindi membuat Sean tersenyum.


Untuk ke sekian kalinya, mereka bersenda gurau di tempat ini.


“Lagian kalau pulang tuh ucap salam. Atau apa kek. Malah berdiri di sana, bikin orang kaget aja,” kata Nindi lagi sembari membalikkan tubuhnya.


Nindi menghadapkan tubuhnya pada tungku modern itu dan melanjutkan aktifitas. Sementara Sean, terus mendekati Nindi yang sedang berdiri.


Sean berdiri tepat di belakang tubuh Nindi.


“Kamu masak apa?” tanyanya lirih, tepat di belakang telinga Nindi, membuat tengkuk Nindi meremang karena hempasan nafas Sean.


Sean menempelkan tubuhnya di belakang Nindi. Bahkan ia meletakkan kepalanya di bahu wanita itu sembari menghirup aroma makanan yang Nindi buat. Namun, bukan Sean namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Harum,” ucap Sean.


Ucapan Sean bukan hanya tertuju pada aroma masakan Nindi yang lezat, tapi aroma tubuh Nindi yang ia sukai.


Nindi menegang. Ia mematung sejenak merasakan kedekatan itu. Perlahan tapi pasti, lama kelamaan kedua tangan Sean pun melingkar di perut Nindi.


“Kamu tidak capek membuatkan ini untukku?” tanya Sean.


Nindi sama sekali tidak berontak dan hal itu membuat Sean semakin berani.


Nindi menggelengkan kepalanya. Tenggorokannya serasa tercekat. Ia tak bisa berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang.


“Terima kasih,” ucap Sean yang kemudian mengecup bahu Nindi.


Lagi-lagi, Nindi hanya diam dan menerima sentuhan itu.


Melihat reaksi tubuh Nindi, Sean pun semakin mengeratkan lilitan kedua tangannya di perut itu. Sean memeluk tubuh Nindi yang hangat. Bukan karena suhu tubuh Nindi yang hangat, tapi perasaan Sean yang menghangat ketika memeluk tubuh itu. Rasanya kepenatan yang ia rasakan di kantor tadi, tiba-tiba hilang karena pelukan ini.


"Aku menyukaimu, Nin."


lirih suara Sean ditelinga Nindi, semakin membuatnya mematung.