
Hampir satu minggu berlalu. Lusa, usia Kai dan Kal akan genap dua puluh satu hari. Dan, rencananya pada hari itu akan ada lagi hajatan besar di kediaman Kenan. Kali ini hajatan itu berupa tasyakuran atas kelahiran anak kembar sekaligus cucu pertama keluarga Adhitama. Tasyakuran itu juga sebagai mengawali status Kenan yang baru saja dilantik hari ini.
Tasyakuran itu akan digelar tepat di hari minggu. Seperti biasa, Hanin dan Rea yang membuat acara itu. Mereka juga dibantu oleh Kiara dan Rasti, walau Rasti hanya bertugas memerintah saja.
Kevin baru saja tiba di apartemennya. setiap kali di kantor, ia ingin sekali cepat cepat pulang, bukan hanya rindu pada Ayesha sang istri tercinta tapi sekarang ada dua malaikat kecil yang sangat ia rindukan.
Kevin memasuki kamar. Ia melihat Ayesha yang sedang berdiri tepat di depan box Kai dan Kal. Tubuh Ayesha membelakangi Kevin. Wanita itu fokus menggendong Kal, sementara Kai sudah tertidur. Ayesha tidak menyadari kehadiran suaminya di kamar ini.
“Hei,” suara itu tepat berada di belakang telinga Ayesha, membuat wanita itu terkejut dan langsung menoleh.
“Ya ampun,Mas. Ngagetin aja.” Ayesha memukul lengan suaminya. “Kenapa sih kalau datang selalu ngagetin dan ga beri salam?”
Kevin tertawa. “Biarin, suka ngeliat wajah kamu yang kesal gini.”
“Ish.” Ayesha kembali memukul pelan lengan suaminya. “Dari dulu sampe sekarang, selalu aja nyebelin."
Kevin kembali tertawa.”"Lagian serius banget sih.”
Lalu, Kevin melingkarkan kedua tangannya paa pinggang Ayesha dan memeluk tubuh itu dari belakang. Kepala Kevin melongok untuk melihat putrinya yang sedang dalam gendongan sang istri dari atas bahu sang istri.
“Kal belum tidur?” tanyanya.
“Hmm …” kata Ayesha sambil menggeleng. “Kemarin Kai yang susah tidur, sekarang adiknya.”
“Sini gantian sama, Mas.”
Ayesha membalikkan tubuhnya dan menatap wajah lelah sang suami yang baru saja pulang mencari nafkah.
“Tidak usah. Kamu capek, Mas. Mandi aja gih sana! Lagian kamu abis dari luar, banyak kuman. Ga boleh gendong bayi apalagi dicium.”
Ayesha memperingatkan suaminya karena sedari tadi, Kevin menunduk dan ingin mencium Kal, sedangkan Ayesha menghindar.
“Tapi kalau cium ibunya boleh dong?”
Ayesha memonyongkan bibir, membuat Kevin tertawa.
“Boleh lah. Sedikit aja.” Kevin memajukan wajahnya dan hendak mencium sang istri.
Namun, Ayesha menghindar. “Mas, mandi dulu.”
“Mandiin,” rengek Kevin.
“Anaknya belum tidur, Mas.”
“Ya udah, Mas tunggu sampai Kal tidur.” Kevin memilih duduk di sofa dan Ayesha menatap tajam suaminya.
“Kamu tuh.” Ayesha kesal dengan bayi besar yang satu ini. Kevin tidak mau kalah pada Kai dan Kal. Ia juga selalu mencari perhatian Ayesha.
“Aku juga mau diurusin, Sayang. Bukan Kal dan Kai aja,” jawab Kevin santai.
“Ish.” Ayesha melengos, sedangkan Kevin tersenyum senang.
Ayesha melirik ke arah Kalila yang sepertinya sudah terlepa, lalu ia meletakkan bayi mungil itu dengan hati-hati agar tidak terbangun. Dan, benar saja Kalila bisa diajak kompromi. Bayi perempuan itu seolah tahu bahwa ada bayi besar di sana yang ingin dimanja ibunya.
“Ayo!” ajak Ayesha pada suaminya yang masih duduk di sofa.
Namun, sepersekian detik, Kevin langsung bangun dan menyeringai mendengar ajakan itu. “Asyik.”
Pria bertubuh tegap dan berparas tampan itu pun mengekori sang istri sambil kedua tangannya memegang pinggang Ayesha dari belakang.
“Aku belum bisa diapa-apain ya, Mas,” ucap Ayesha sembari menyalakan air panas dan air dingin di bathup itu.
“Memang kamu mau Mas apain?” tanya Kevin meledek.
Ayesha melirik. “Nyebelin.”
Kevin tertawa. Padahal ia tahu maksud sang istri. Kevin pun sadar bahwa Ayesha belum genap empat puluh hari. Ia masih berada dalam masa nifas.
“Kalau bagian atasnya aja ngga apa-apa kan?” tanya Kevin ambigu.
“Maaas,” rengek Ayesha yang gemas dengan kemesuman itu.
“Maaas …” Ayesha kembali merengek, tapi Kevin malah tertawa.
****
Sean melihat Nindi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nindi tampak menggunakan baju tidur yang membungkus tubuhnya lengkap tanpa ada bagian kesukaan Sean yang tampak. Sudah dua minggu ini, di dalam rumah Nindi hanya mengenakan pakaian d*l*m saja atau lingeri yang hanya menutup bagian inti.
Sean dan Nindi sampai di apartemen tepat pukul delapan malam. Nindi menunggu suaminya yang lembur. Keduanya tampak kompak. Mereka berangkat dan pulang kerja bersama. Mereka juga saling menunggu jika salah satunya sedang lembur.
“Loh kok kamu pakai baju seperti ini?” tanya Sean yang melihat istrinya memakai piyama lenagn pendek dan celana panjang bermotif hello kitty.
“Ini tuh baju kebangsaan aku dikosan kalau malam.”
Sean menepuk jidatnya. “Ya salam, Nin. Itu kan dulu sekarang jangan seperti ini! Pakai lagi yang seperti kemarin.”
Nindi menaiki tempat tidur, menghampiri Sean yang sudah lebih dulu duduk di sana. “Masa hukuman aku sudah habis. Jadi sekarang aku bebas berpakaian yang aku suka.”
“Kata siapa?” tanya Sean.
“Ini udah dua minggu, Mas. Jangan pura-pura lupa!” jawab Nindi kesal.
Sean tertawa.istrinya mudah sekali dikibuli. “Memangnya dua minggu? Bukannya hukuman kamu satu bulan ya?”
“Ish, ngarang.”
Sean tertawa lagi melihat ekspresi itu. “Kamu tuh lucu banget.”
“Emangnya badut.”
Sean kembnali tertawa. “Ada yang kamu ngga tahu.”
“Apa? Kamu seorang cassanova yang udah menjelajah banyak wanita? itu aku udah tahu.”
Sean menggeleng. “Bukan. Ada lagi yang belum kamu tahu.”
“Apa?” tanya Nindi.
“Sini mendekat,” ucap Sean sambil menaikurunkan jari telinjuknya.
Nindi pun mendekat. Lalu, Sean mengambil tubuh itu dan membiarkan Nindi masuk ke dalam pelukannya.
“Sebenarnya, waktu itu motormu menabrak mobilku. Mobilku tidak apa-apa.”
Sontak, Nindi bangkit dan menatap serius suaminya. “Terus?”
“Terus, karena aku ingin dekat denganmu jadi aku buat billing rekayasa dari bengkel langgananku dengan nominal sebesar itu.”
“Sean,” teriak Nindi tak percaya. Darahnya mendidih mengetahui fakta ini.
Sean yang melihat ekspresi itu pun menahan tawa dan melanjutkan perkataannya, “ternyata kamu mudah banget dikibulin. Hingga jatuh ke pelukanku sekarang.”
“Sean, jahat.” Nindi memukul dada Sean dengan brutal.
Namun, pria itu malah tertawa geli.bSean menahan lengan Nindi yang bergerak brutal memukul dadanya. Walau sebenarnya pukulan itu tak terasa sama sekali untuk sean.
“Hahahahaha …” Sean tertawa geli.
“Kamu jahat. Kamu jahat. Sebel … sebel … sebel …”
Nindi melepaskan pukulan itu dengan dada naik turun. “Kenapa kamu melakukan itu?”
“Pengen ngerasain tubuh kamu dan bermain-main sama wanita polos sepertimu,” jawab Sean jujur.
“Sean,” teriak Nindi lagi dan hendak memukul lagi dada itu.
Namun, Sean menahan tangan Nindi dan memeluknya. “tapi ternyata aku yang terjebak. Hingga jatuh cinta setengah mati.”
“Hmm …” Nindi kembali mengerucutkan bibir antara senang dan kesal jadi satu.
Nindi melingkarkan tangannya pada pinggang Sean dan merebahkan kepalanya pada dada bidang itu. Sungguh, ia sangat mencintai pria menyebalkan ini. Pria mantan cassanova yang mesumnya tiada lawan.