XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Aku akan temani Mas hingga tua



Kevin menunggu di depan lift khusus CEO. Ia melihat sang istri yang sedikit berlari ke arahnya dengan senyum sumringah. Entah mengapa semakin hari Ayesha semakin cantik menurutnya, apalagi rambut Ayesha yang kian memanjang dan bergerak ketika ia berjalan.


Kevin ikut tersenyum menyambut sang istri yang kian mendekat. “Jangan lari, Sayang!” ucapnya memperingatkan dengan lembut.


Ayesha tersenyum. “Maaf, aku takut kamu lama menunggu.”


Kevin menggeleng sembari mengaitkan lengannya pada pinggang sang istri. “Justru Mas yang takut kalau kamu berjalan cepat seperti itu. Ada anak-anak kita di sini.”


“Anak-anak kita?” tanya Ayesha mengernyitkan dahi. Sementara Kevin menggiring sang istri untuk masuk ke dalam lift saat lift itu terbuka.


“Berarti, di dalm perutku ada lebih dari satu calon bayi?” tanya Ayesha lagi.


Kevin mengangguk sambil menekan tombol tutup dan menekan P1 menuju tempat kendaraan mewahnya terparkir. “Feeling Mas aja. Mengingat Papa Vicky punya saudara kembar. Siapa tahu bayi kita juga kembar.”


Ayesha tersenyum sambil membayangkan yang dikatakan sang suami. Pasti akan seru memiliki bayi kembar, tapi sesaat ia menggeleng saat satu bayi besar lagi yang nantinya akan merepotkan.


“Kenapa?” tanya Kevin yang kini merangkul bahu istrinya dari samping.


Ayesha tersenyum. “Lagi membayangkan seumpama perkataan Mas benar. Kita memiliki bayi kembar ditambah bayi besar yang manja. Aku ga bisa bayangkan repotnya nanti.”


Sontak, Kevin tertawa. Ia ikut membayangkan betapa repotnya Ayesha. Bisa-bisa, sang istri kembali kurus.


“Anak-anak akan punya Nanny sendiri dan kamu hanya bertugas melayani Mas saja.”


Ayesha tertawa. “Dasar! Beruang kutub, ga mau kalah banget sama anaknya.”


Kevin ikut tertawa sembari menarik kepala Ayesha dan mencium kening itu. Kevin sengaja memasukkan kepala Ayesha ke dalam dekapannya dan tangan Ayesha pun melingkar di pinggang sang suami, hingga lift berhenti di tempat yang Kevin tuju dan berbunyi, lalu terbuka.


Sepanjang jalan menuju basement, Kevin dan Ayesha masih dengan posisi seperti di dalam lift tadi. Kevin masih memeluk bahu istrinya dan Ayesha melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Langkah mereka sedikit demi sedikit mendekat ke arah Aryo yang saat ini sedang menjaga lobby basement.


Beberapa minggu, Ayesha tidak melihat Aryo, persisnya setelah pengumuman itu terjadi. Namun, hari ini ia melihatnya lagi.


Dari kejauhan Ayesha melihat Aryo yang tampak menunduk.


“Sore, Pak Aryo,” sapa Ayesha ramah.


“Sore, Bu Ayesha,” jawab Aryo dengan wajah yang masih menunduk dan tak berani menunjukkan wajahnya pada Ayesha. Apalagi saat ini ada Kevin dengan mata elangnya mengintai.


“Ramah banget sih,” keluh Kevin pada sang istri setelah melewati Aryo.


Ayesha tertawa. “Cemburu?”


“Ga level,” jawab Kevin ketus sembari tetap membuka pintu mobil untuk istrinya.


****


“Sayang, minum dulu!” Kevin memperlihatkan segelas lemon tea pada sang istri saat Ayesha duduk di ruang tunggu dokter kandungan.


Kevin sengaja membeli minuman di kafe yang ada di dalam rumah sakit itu dan Ayesha memesan minuman itu. Dengan telaten, Kevin membuka plastik sedotan dan menancapkan di mug plastik itu, lalu mendekatkannya pada bibir Ayesha.


“Hanya beli satu?” tanya Ayesha melihat gelas yang kevin pegang memang hanya ada satu. “Untuk Mas mana?”


Kevin menggeleng. “Mas tidak haus.”


“Ya ampun. Jadi Mas ke kafe cuma beliin aku doang? Aku kira Mas menawarkan adek minum karena Mas juga haus.”


Kevin tersenyum dan menggeleng. “Mas menawarkan memang karena khawatir kamu haus.”


“Hmm … beruang kutub, so sweet banget sih.”


Dahi Kevin mengernyit. “Apaan sih, beruang kutub.” Sebenarnya ia tidak suka ketika orang memanggilnya dengan sebutan itu.


Lalu, Ayesha tertawa ke arah Kevin dan Kevin pun melihatnya. Tawa manis itu, membuat Kevin mau tak mau ikut menyungging senyum, walau tipis.


Kebersamaan dan keromantisan sederhana itu, membuat iri ibu muda yang menunggu bersama mereka di ruang tunggu itu. Padahal di samping ibu muda yang menunggu dan tengah hamil itu pun ada suami di sampingnya, tetapi tatapan mereka tertuju pada Ayesha dan Kevin. Entah karena Kevin yang tampan sehingga menjadi pusat perhatian, atau karena canda tawa mereka yang mengundang perhatian.


Selang beberapa menit kemudian, Ayesha pun di panggil. Kevin mengekori istrinya dari belakang sembari memegang pinggang Ayesha.


“Hai, Kev. Apa kabar?” tanya dokter Amalia, wanita yang seusia Ibu Kevin.


“Baik. Tante apa kabar?” Kevin balik bertanya sambil bersalaman.


“Seperti yang kamu lihat. Tante harus tetap fit untuk pasien-pasien tante.”


Kevin tersenyum dan mengangguk. Amalia masih terbilang keluarga Adhitama. Hanya saja, ia bukan langsung dari kerabat Kean, kakek Kevin yang memang gelar nama Adhitama berasal dari keturunannya. Namun, Amalia merupakan kerabat Rasti, atau anak dari sepupunya.


“Ini Ayesha?” tanya Amalia yang baru melihat istri Kevin lagi setelah hanya melihatnya saat pesta pernikahan yang sederhana dan tertutup itu digelar.


“Istrimu cantik, Kev,” kata Amalia.


“Iya, dong,” sahut Kevin.


Amalia hanya tersenyum dan menggeleng melihat Kevin yang dikenal kaku menjadi sedikit narsis.


“Ayo, Ayesha! Naik ke tempat tidur. Biar, Tante periksa kandunganmu,” kata Amalia lagi sambil memakai kedua sarung tangan yang terbuat dari karet plastik elastis.


Kevin membantu istrinya berbaring di tempat tidur itu. Lalu, ia ikut duduk di samping sang istri, sementara Amalia duduk di sisi Ayesha yang lain. Ketiganya menghadap sebuah layar LED sebesar 36 inch.


“Apa ada keluhan?” tanya Amalia saat Ayesha sudah berbaring dan hendak memegang alat yang akan memeriksanya.


Ayesha menggeleng. “Tidak ada, Tante.”


“Mual? Morning sickness?” tanya Amalia lagi.


“Tidak ada. Justru malah Mas Kevin yang sering mengalami itu akhir-akhir ini,” jawab Ayesha tertawa.


Amalia pun tertawa. “Oh ya?” Ia melirik ke arah Kevin yang hanya tersenyum simpul. “Itu berarti, Kevin sangat mencintaimu, Yesha.”


Ayesha mengangguk. “Sepertinya begitu.”


“Bukan sepertinya, Sayang,” sahut Kevin.


“Iya, Mas.” Ayesha tertawa. Sepasang pasangan suami istri ini malah berdebat membuat, Amalia tersenyum lebar.


“Baiklah. Relaks ya, Yesha.” Amalia mulai memasukkan alat itu pada mulut rahim Ayesha. Pemeriksaan seperti ini disebut transv*ginal.


Kevin dan Ayesha melihat ke layar televisi itu dengan seksama, sama seperti Amalia.


“Wah kantungnya dua,” ucap Amalia antusias.


Ayesh dan Kevin menganga melihat janin yang ditunjukkan Amalia melalui alat itu.


“Jadi, istri Kevin mengandung anak kembar, Tan?” tanya Kevin.


Amalia mengangguk. “Ya.”


Kevin langsung tersenyum lebar dan mencium kening Ayesha beberapa kali.


“Ternyata feeling kamu benar Mas,” ucap Ayesha sembari menerima hujaman ciuman di kening itu. Ingin rasanya Ayesha menangis, tapi bukan menangis sedih melainkan bahagia.


“Mama, Papa kamu pasti senang mendengar berita ini. Apalagi Oma Rasti, dia akan memiliki cicit kembar,” kata Amalia lagi.


Kevin mengangguk. “Ya, tapi mereka belum tahu kabar ini.”


“Loh, kok bisa?” tanya Amalia tak percaya.


“Belum ada waktu yang tepat untuk memberitahu, Tan. Karena kemarin Om Gun sempat mendapat musibah,” jawab Ayesha yang juga diangguki Kevin.


Amalia pun menangguk. “Ya, Tante juga dengar berita itu. Berita itu sampai masuk televisi.”


“Mungkin setelah ini, kami akan memberitahu Mama, Papa, dan Oma. Dengan bukti foto ini tentunya,” kata Kevin sembari meminta print hasil pemeriksaan tadi.


Kevin terus memeluk kepala Ayesha. Ia sungguh bahagia karena akan menjadi seorang ayah.


“Terima kasih, Sayang.”


Kevin kembali mencium kening Ayesha ketika mereka sudah sampi di mobil dan hendak menuju kediaman Kenan untuk memberitahu kabar bahagia ini.


“Mas udah mengucap itu berkali-kali,” jawab Ayesha yang sering mendengar ucapan terima kasih dari mulut suaminya.


“Kalau ingat sikap Mas dulu sama kamu. Mas benar-benar menyesal. Untung saja, kamu kuat menghadapi sikap Mas yang seperti itu. Dan, mau berada di samping Mas hingga saat ini,” kata Kevin lagi dengan suara lirih.


“Aku akan temani Mas hingga tua.”


“Janji?” Kevin mengangkat jari kelingkingnya.


Ayesha mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Kevin.


“Janji.”


Keduanya pun tertawa.