
Kevin masih kelimpungan mencari istrinya. Sudah hampir setengah jam ia kesana kemari. Bahkan saat ini Kevin sudah berada di lobby. Ia bertanya pada petugas keamanan yang berjaga dan mereka memang melihat Ayesha keluar.
Baru saja, Kevin melangkahkan kakinya untuk keluar, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat Ayesha yang sedang berjalan menuju lobby dengan jalan yang pelan sembari sesekali menunduk dan lurus ke depan.
Kevin berdiri sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana. Ia memandang istrinya yang belum menyadari kehadirannya di sana. Semakin lama langkah Ayesha semakin mendekat hingga Kevin menghalau langkah Ayesha yang sedang berjalan menunduk.
Ayesha terkejut dan mengangkat kepalanya ketika langkah kakinya terhalang.
“Dari mana?” tanya suara bariton itu.
Ayesha mengangkat barang belanjaan yang ia beli di mnimarket. “Ini.”
Kevin mengarahkan matanya ke arah kantong belanjaan Ayesha yang tertera nama minimarket yang tak jauh dari apartemen ini.
“Mengapa tidak bilang?” tanya Kevin lagi dengan raut wajah yang kesal.
“Aku lapar dan ingin makan ini.” Ayesha menunjukkan salah satu yang ada di kantong belanjaan itu.
Walau ia sudah memakan mie instant itu di sana tapi ia juga membelinya untuk dibawa pulang dan dimakan sewaktu-waktu jika ia menginginkan.
Kevin meraih kantong belanjaan Ayesha dan membawanya. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk menggenggam tangan Ayesha.
Ayesha menurut dan melangkah bersama suaminya menuju flat mereka.
“Masih saja memakan makanan seperti ini.”
“Habis enak.”
Kevin melirik ke arah istrinya sembari berjalan. “Tapi tidak boleh sering.”
Ayesha mengangguk.
“Ini untuk satu bulan,” kata Kevin lagi melihat Ayesha membeli mie instan itu sebanyak tiga buah.
Ayesha menurut dan mengangguk. Mereka berjalan beriringan hingga sampai di flat mewah milik Kevin. Setiap kali berjalan beriringan, Kevin tidak pernah absen menggenggam tangan istrinya.
Hari semakin malam, komunikasi keduanya tampak belum normal. Ayesha masih dengan mode pasif. Sementara Kevin pun tidak bisa merayu. Namun, perhatian yang diberikan Kevin tidak hilang.
“Mas masih marah?” tanya Ayesha ketika Kevin hendak naik ke tempat tidur. Sedangkan, Ayesha sudah berada di sana.
“Bukannya kamu yang masih marah sama Mas?” Kevin balik bertanya.
Kevin memposisikan dirinya untuk merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri. Lalu, mengarahkan dirinya menghadap ke arah Ayesha yang sedang berbaring miring ke hadapannya.
“Tian mantan kekasihmu. Masih sangat mencintaimu. Dan, kami berseteru karena ini. Wajarkah jika Mas marah melihat kamu memeluknya?” tanya Kevin lagi.
Ayesha diam dengan mata yang mulai menggenang. “Aku memang salah, tapi tidak seharusnya Mas sebut aku bodoh.”
Kini, Kevin yang terdiam. Kedua berbaring miring dan saling berhadapan. Kevin melihat sudut mana istrinya yang mulai menggenang. Dan benar saja. Tiba-tiba air mata itu pun tumpah.
“Aku juga tidak senang dipeluk Tian. Aku hanya membantu menenangkan dia yang sepertinya frustrasi,” kata Ayesha sambil menangis.
“Loh kok malah nangis?” Kevin bangkit dan memeluk tubuh istrinya.
“Aku melakukan itu hanya sebagai teman yang memberi dukungan. Itu saja. Mas tahu kalau adek dari dulu sukanya sama Mas. Tidak akan ada pria lain dihati aku kalau bukan Mas Kevin.” Ayesha semakin menangis kencang.
Senyum Kevin pun mengembang. “Iya, Mas percaya. Tapi tetap saja Mas cemburu, Sayang. Apalagi kalian pernah ada kisah masa lalu.”
Ayesha masih terisak, tapi kini sedikit lebih redam.
“Mas juga pernah pelukan dengan wanita lain di depanku,” kata Ayesha di dalam pelukan Kevin.
“Masa? Emang iya?”
Ayesha mengangkat kepalanya. “Iya. Mas pura-pura lupa.”
Kevin tertawa.
“Ya, Mas ga ingat. Karena yang Mas ingat banget itu kalau kamu sedang liar melayani Mas di sini.” Kevin menepuk tmpat tidur king size yang super empuk itu, karena memang benda inilah saksi dari aktifitas panas yang mereka lakukan dalam meluapkan cinta.
“Hmm … Mas, aku serius,” rengek Ayesha sembari memukul pelan dada yang sedang mendekapnya.
Kevin pun tertawa. Sebenarnya, ia memang ingat bahwa beberapa kali pernah dipeluk teman wanitanya saat ia bersama Ayesha. Ketika itu di sebuah mall mereka bertemu dengan teman Aldy yang seorang model dan pernah dikenalkan pada Kevin. Wanita itu tiba-tiba memeluk Kevin setelah mengucapkan selamat atas pernikahan Kevin dan Ayesha. Dan, wanita itu sengaja memeluk Kevin dengan erat di depan Ayesha, membuat Ayesha cukup kesal pada saat itu. Namun, ia tetap cuek dan berhati baja.
“Wkatu kita jalan ke mall, ada wanita cantik memelukmu, aku diam saja. Terus saat di kantor, aku pernah lihat Mas juga berpelukan dengan salah satu rekan kerja wanita Mas,” ucap Ayesha sedih.
“Miss Liu? Itu karena dia sedang ulang tahun dan minta dipeluk sebagai ucapannya,” elak Kevin.
“Tapi Mas juga ga bisa menolak kan? Walau sebenarnya Mas tidak memiliki rasa apapun padanya.”
“Mas ga tahu kamu lihat itu,” sahut Kevin yang memang tidak tahu saat itu ada Ayesha, karena kejadian itu ada di dalam ruangannya.
“Maaf,” ujar Kevin sembari mengeratkan pelukannya.
“Aku juga ga bilang Mas bodoh karena aku kesal.”
Tiba-tiba hati Kevin terenyuh mendengar penuturan Ayesha yang begitu menyayat hati. “Maaf, Sayang. Kamu tahu, emosi Mas memang meledak-ledak.”
Ayesha kembali menangis, tangisan itu terdengar sedih dan kembali membuat hati Kevin tersayat.
“Cup … cup … Mas minta maaf, Sayang.” Kevin memeluk tubuh itu sembari mengelus lembut kepalanya.
Namun, Ayesha justru semakin menangis kencang.
“Jangan nangis seperti ini, Sayang. Mas tidak tega,” kata Kevin.
“Tapi Mas tega mengeluarkan kata pedas itu padaku,” jawab Ayesha.
“Baiklah, sekarang katakan bodoh pada Mas.”
Kevin meminta Ayesha untuk menatap wajahnya, Ayesha enggan dan menggelengkan kepala.
“Katakan Mas bodoh. Katakan seperti itu, agar kita impas dan setelah ini tidak akan terjadi seperti ini lagi.”
Ayesha masih menggelengkan kepalanya. “Ngga bisa.”
Kevin menghapus air mata yang membasahi pipi mulus itu.
“Sudahlah, mungkin aku yang terlalu sensitif,” kata Ayesha.
“Mas bodoh, Mas memang tidak bisa mengontrol emosi dan perkataan yang keluar. Mas minta maaf,” ucap Kevin membuat Ayesha menatapnya.
Seumur hidup, Kevin tidak pernah merendahkan dirinya seperti ini dan hanya di hadapan Ayesha, ia bisa melakukan ini.
“Apa? Aku ga denger,” kata Ayesha pura-pura. Padahal ia mendengar dengan jelas apa yang Kevin ucapkan tadi, tapi ia ingin mendengarnya lagi.
“Mas memang bodoh, tidak bisa mengontrol emosi dan perkataan. Sungguh, Mas minta maaf.”
Ayesha pun tersenyum dan ikut menghapus jejak air matanya yang tak lagi mengalir.
“Aku juga minta maaf. Maaf karena menerima pelukan dari pria lain. Seharusnya aku bisa menolak, apalagi aku sudah berstatus istri. Maaf, kalau adek belum bisa menjadi istri yang baik dan belum bisa menjaga kehormatan.”
“Ssstt ….” Kevin menutup bibir Ayesha dengan telunjuknya. “Mas tahu itu bukan mau mu.”
Ayesha langsung memeluk suaminya. “Adek ga akan melakukan itu lagi. Janji!”
“Mas, juga tidak akan melakukan itu lagi. Janji!”
Pelukan itu pun sedikit melonggar untuk saling bertatapan dengan senyum yang manis.
“Mas cinta kamu, Sayang.”
Ayesha mengangguk. “Adek apalagi. Cinta banget sama Mas Kevin.”
Kevin pun tersenyum dan mendekatkan bibirnya. Ia memagut bibir itu dengan lembut. Ayesha pun menerimanya. Bahkan ketika pagutan itu berubah menjadi sedikit liar pun Ayesha tetap mengimbangi.
Cukup lama mereka larut dalam ciuman panas yang meningkatkan gelora lain pada diri masing-masing.
“Mas menagih janjimu,” kata Kevin setelah pagutan itu terlepas.
“Janji apa?” tanya Ayesha lupa.
“Janji waktu Mas mau bertemu klien sore tadi.”
Ayesha ingat dan menepuk keningnya. “Ya ampun, Mas. Masih ingat aja sih.”
Kevin nyengir. "Boleh dimulai?”
Ayesha tersenyum dengan mengangguk kepalanmya.
“Boleh sebanyak yang Mas mau?” tanya Kevin lagi.
Ayesha menganggukkan lagi kepalanya. Namun, saat Kevin mulai melakukan aksinya, Ayesha menahan dada itu. “Jangan berkata pedas lagi padaku! Tidak berdarah memang tapi menyakitkan.”
Kevin tersenyum sedih dan menganggukkan kepalanya. “Mas akan berubah untukmu.”
Ayesha pun tersenyum lebar.
Akhirnya, perang dingin itu pun berakhir indah, berganti dengan perang yang lain. Perang yang dilakukan karena cinta dan saling memberi kenikmatan.
Ayesha menunjukkan sisi liarnya lagi. Sisi yang tidak pernah ada yang tahu selain Kevin. Hal itu yang membuat Kevin semakin candu dan semakin cinta, karena Ayesha bisa menjadi apa pun yang ia inginkan, yang ia butuhkan. Kevin sangat nyaman hidup bersama Ayesha, walau hingga saat ini Ayesha tak mahir memasak, tapi wanita itu mahir membuatnya bahagia.