XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Berharap mengatakan cinta



“Aaay ....” Nindi langsung memeluk Ayesha yang sudah duduk di meja kerjanya.


Ayesha tersenyum lebar dan mengeratkan pelukan itu.


“Tumben pagi-pagi udah dateng?” tanya Nindi pada Ayesha setelah melonggarkan pelukan itu.


Ayesha nyengir. Ia memang sering datang terlambat, tapi hari ini Kevin sangat pengertian. Pria itu dengan sigap mengantarnya untuk berangkat pagi-pagi, karena tahu jika sang istri sedang sibuk untuk mempersentasikan program divisinya besok.


“Ya, kan memang kita lagi banyak pekerjaan. Apalagi Pak Edward mendelegasikan presentasi besok sama aku,” jawab Ayesha.


Edward memang sudah tidak lagi datang ke kantor, setelah kemarin Kevin sudah meresmikan peralihan dia dengan penggantinya.


Nindi mengangguk. Dan kembali melangkah ke mejanya.


“Eh iya, Ay. Kamu belum lihat pimpinan kita yang baru ya?” tanya Nindi sembari mendudukkan diri di kursinya.


Ayesha menggeleng. “Belum.”


“Ay, orangnya ganteng banget,” kata Nindi lagi dengan wajah sumringah.


Ayesha melirik ke arah sahabatnya. Ia tertawa melihat ekspresi Nindi yang memuja pimpinan baru mereka.


“Emang iya, ganteng banget? Gantengan mana sama CEO kita?” tanya Ayesha iseng.


“Ya, CEO kita sih,” jawab Nindi jujur dan Ayesha pun tersenyum bangga.


“Hmm ... tapi kalau sikap, aku lebih suka pimpinan kita. Awal perkenalan dengan kami kemarin itu sangat berkesan, Ay. Sepertinya dia tidak jauh berbeda dengan Pak Edward. Orang ramah, tutur katanya sopan, dan pembawaannya yang tenang. Mirip banget deh sama Pak Edward, hanya saja dia versi muda,” ujar Nindi lagi sembari membayangkan sosok Henry.


“Hmm ... sepertinya ada yang kesemsem nih sama,” ledek Ayesha.


“Beuh, kamu juga kalau ketemu orangnya pasti kesemsem, Ay.”


“Oh, ya? Sepertinya ngga. Karena aku udah kesemsem sama orang lain,” jawab Ayesha sembari menopang dagu dan membayangkan interaksi manis antara dirinya dan Kevin.


Memang beberapa hari terakhir, interaksi mereka semakin mesra. Sikap Kevin pun semakin manis. Dan, hal itu membuat Ayesha semakin menyukai suaminya.


“Iya, deh. Yang udah punya pacar,” ledek Nindi.


Ayesha tersenyum ke arah Nindi.


“Dasar, bucin.” Kesal Nindi melihat ekspresi Ayesha.


Ayesha tertawa. “Kamu kalau udah jatuh cinta juga pasti bucin.”


“Ngga lah. Ngapain,” jawab Nindi yang juga memang belum pernah berpacaran.


Ayesha kembali tertawa. Lalu, mereka kembali bekerja.


****


Tok ... Tok ... Tok ...


Seseorang mengetuk pintu ruangan yang berisi dua orang wanita di sana.


“Nin, kalau bisa yang ini diselesaikan sekarang,” pria itu langsung menuju ke meja Nindi tanpa menoleh ke meja Ayesha setelah mengetuk pintu dan masuk.


“Oh, iya Pak. Saya kerjakan,” jawab Nindi dengan senyum yang lebar sembari menatap Henry dengan tatapan memuja.


“Kalau sudah selesai, langsung ke ruangan saya ya,” kata Henry lagi.


“Siap, Pak.”


Di seberang sana, Ayesha menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah Nindi yang sedang berinteraksi dengan seorang pria. Ketika pintu itu diketuk, Ayesha memang tidak langsung merespon keberadaan orang itu di sana, karena ia terlalu fokus dengan pekerjaannya.


Seketika, pria itu pun menoleh ke meja Ayesha.


“Ayesha,” ucap pria itu terkejut ketika melihat teman semasa kuliah, duduk di sana.


“Henry.” Ayesha pun terkejut sembari jari telunjuknya mengarah pada pria itu.


“Ay, Pak Henry ini pimpinan kita,” celetuk Nindi.


Henry pun menghampiri meja Ayesha.


“Jadi, kamu keponakannya Pak Edwar?” tanya Ayesha senang.


Henry menganggu dan mengulurkan tangannya. “Apa kabar?”


Ayesha menerima uluran tangan itu. “Baik.”


“Oh, jadi asisten Om Edward itu kamu?” tanyanya.


Ayesha mengangguk.


“Pantas kenapa?” tanya Ayesha.


“Pantas kalau Om Edward sering menyanjungmu. Aku juga tahu kredibilitasmu, Ay.”


Ayesha tersenyum. “Ah, Pak Edward tuh berlebihan.”


Ayesha dan Henry bercengkerama berdua, sementara Nindi hanya menjadi pendengar dan meilhat interaksi itu.


Hnery duduk di depan meja Ayesha dan mereka kembali berbincang.


“Nin, Pak Henry ini teman kuliahku di Ausy,” kata Ayesha dengan menatap teman baiknya.


Nindi mengangguk. Ya, ia memang tahu bahwa Henry lulusan yang sama seperti Edward dan ia juga tahu bahwa Edward dan Ayesha juga lulus di Universitas yang sama.


“Oh, kalian satu angkatan?” tanya Nindi.


Ayesha mengangguk.


“Aku kira Pak Henry jauh di atas Ayesha,” kata Nindi lagi.


“Jadi, kamu bilang wajah saya tua gitu?” tanya Henry kepada Nindi.


Nindi nyengir dan Ayesha tertawa. Lalu, Henry pun ikut tertawa. Pria itu melirik ke arah Nindi, wanita unik menurutnya.


Sejak menjadi teman di kampus yang sama dengan Ayesha, pria itu memang tidak memiliki perasaan lebih terhadap Ayesha. Ia hanya prihatin karena Ayesha sering mendapat perundungan. Di tambah lagi, di sana Henry juga tidak memiliki banyak teman.


Ayesha, Nindi, dan teman-teman tim lainnya semakin semangat karena memiliki pimpinan yang muda dan kreatif.


Kevin pun sibuk dengan pekerjaannya. Ia yang merupakan sosok penggila kerja, melupakan sejenak Ayesha yang juga tengah sibuk. Namun, sebagai seorang wanita, Ayesha ingat akan suaminya. Ia pun mengetikkan sebuah pesan untuk Kevin.


“Mas, jangan lupa makan siang.”


Tring


Pesan itu langsung sampai ke ponsel Kevin. Tetapi, pria itu tidak langsung melihat ponselnya karena saat ini ia dan Sean tengah berada di sebuah tempat berbeda untuk menghadiri pertemuan dengan beberapa klien.


Berulang kali, Ayesha meraih ponselnya dan membuka isi ponsel itu. Ia berharap Kevin membalas pesannya tadi. Namun, hingga dua jam berlalu, pesan itu belum juga dibalas.


“Kenapa, Ay? Lesu banget,” sapa Nindi yang melihat teman di sampingnya itu tidak bergairah.


“Hmm ... ga apa-apa.” Ayesha menggeleng.


Kevin memang tidak pernah memberi kabar, jika sedang bekerja. Di kantor, mereka memang benar-benar seperti orang lain, tetapi sosok Kevin ketika di rumah sangat jauh berbeda. Terkadang sikap Kevin yang seperti itu, membuat Ayesha bingung untuk meneguhkan hatinya pada sang suami. Di tambah hingga detik ini, Kevin tak juga mengatakan cinta padanya, walau mereka sudah sangat dekat.


****


Malam pun tiba, Ayesha dan Kevin sama-sama sudah berada di apartemen. Ayesha kembali membuka laptopnya dan kembali mengerjakan pekerjaan kantor. Besok adalah kali pertama ia persentasi di depan orang banyak. Apalagi besok akan ada klien terbesar Adhitama Grup yang berasal dari Amerika. Ia harus benar-benar mempersiapkan diri dan bahan untuk besok.


“Hei, jangan bekerja terlalu keras,” ujar Kevin yang membawakan cokelat hangat untuk istrinya.


Hingga detik ini, Kevin tidak membahas tentang pesan Ayesha yang lupa ia balas. Kevin membuka pesan itu ketika ia dan Ayesha sudah berada di dalam mobil dan hendak pulang bersama, sehingga menurutnya tidak perlu lagi untuk dibalas karena mereka sudah bertemu. Padahal jika itu terjadi pada Kevin, pria itu akan marah.


Ayesah tersenyum dan menerima gelas yang Kevin berikan. “Terima kasih.”


Untungnya, Ayesha bukanlah wanita yang mudah marah atau mudah tersinggung. Ketika, Kevin tidak membalas pesannya tadi, ia mencoba berpikir positif. Ia tahu memang bahwa suaminya bukan orang biasa yang memiliki segudang aktivitas. Walau di lubuk hati terdalam ia pun kesal, tapi ia pikir ini adalah masalah kecil. Dan, Semua kekesalan itu pun mudah lenyap setelah Kevin kembali bersikap manis seperti saat ini.


Kevin berdiri di depan istrinya sembari melihat apa yang sedang Ayesha kerjakan. Ia mengusap kepala Ayesha seraya berkata, “Jangan tidur terlalu malam ya! Kamu juga harus istirahat cukup.”


Ayesha mengangguk. Ia tersenyum sembari menengadahkan kepalanya ke arah Kevin. “Iya, setengah jam lagi aku tidur.”


“Janji!” ucap Kevin.


Ayesha kembali mengangguk dan tersenyum. “Janji.”


“Baiklah, kalau begitu aku tidur duluan ya,” kata Kevin lagi dan ia menarik kepala Ayesha untuk mengecup keningnya, sebelum ia meninggalkan Ayesha yang masih duduk di sofa.


Ayesha kembali tersenyum melihat suaminya yang kian menjauh dan mendekati ranjang. Padahal tadi ia berharap Kevin mengatakan cinta setelah ia mendapat kecupan mesra di keningnya, tapi ternyata harapan itu tidak terwujud.


“Ay,” panggil Kevin lagi sesaat sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.


Ayesha langsung menatap wajah suaminya dan berharap Kevin mengatakan cinta.


“Good night,” ucap Kevin tersenyum dan mulai merebahkan diri.


“Night,” jawab Ayesha lesu.