
Kevin dan Sean berada di ruang ganti panitia pertunjukan. Mereka baru saja hendak menggunakan kostum Elsa dan Anna layaknya kartun di frozen two. Ayesha dan Nindi memandangi suami mereka yang sedang membawa pakaian princes itu.
“Ay, aku kok ga tega ya melihat mereka memakai kostum itu,” ucap Nindi.
Ayesha pun sesungguhnya merasakan yang sama. Ia terenyuh dengan sikap Kevin yang selalu menuruti segala permintaannya. Padahal awalnya ia hanya mengerjai sang suami. Nindi pun tahu itu.
“Ya udah yuk, ke sana!” Ayesha mengajak Nindi mendekati suami mereka.
Mereka berdiri tepat di samping suami mereka masing-masing.
“Mas, pulang yuk!” ajak Ayesha pada suaminya.
“Loh, katanya mau lihat Mas menggunakan kostum Elsa,” sahut Kevin.
Ayesha menggeleng. “Ngga jadi, Mas. Aku ingin pulang.”
“Ya salam, Ayesha.” Sean menepuk jidatnya. “Kalau bukan istri Kevin dan adik Vinza, udah aku sm*ckdown kamu."
Kevin langsung membulatkan matanya. Begitu pun dengan Nindi.
“Sorry.” Sean nyengir. “Lagian ada-ada aja sih permintaannya.”
Sean merangkul Nindi dan mengelus perut rata itu. “Kamu kalau hamil, jangan seperti Ayesha ya!”
“Ck. Lagian gimana mau hamil, orang pecah telor juga belum,” ledek Kevin.
“Coming soon, Kev. Coming Soon.”
Sontak Kevin tertawa, begitu pun Ayesha. Sementara Nindi hanya tersenyum malu.
Akhirnya, Kevin dan Sean tidak jadi menggunakan kostum itu. Mereka pulang dengan kendaraan masing-masing.
Ayesha memeluk suaminya sesaat sebelum, Kevin mulai menjalankan kendaraan itu. “Adek makin cinta sama Mas Kevin.”
“Udah tahu,” jawabnya cuek.
“Ish, Mas tuh cuek banget sih.” Ayesha memukul pelan lengan kekar yang semula ia peluk. Lalu, Ayesha kembali ke duduk dikursinya dengan baik.
Kevin menoleh ke wajah yang tengah memandang lurus ke jalan sembari tersenyum. Ia mencolek dagu istrinya. “Awas ya, ngerjain Mas. Nanti malam Mas kerjain kamu juga.”
Ayesha kembali menggeser tubuhnya dan menghadap ke arah sang suami. “Ih, aku tuh ga ngerjain kamu, Mas. Ini memang permintaan twins.”
“Masa? Ga percaya.”
“Beneran. I swear.” Ayesha mengangkat kedua tangannya ke atas. Lalu, dengan cepat Kevin menurunkan tangan itu.
“Kalau bohong ga boleh sumpah. Dosa!”
Ayesha kembali meluruskan duduknya dan pandangannya. Sebenarnya ia takut dengan ancaman sang suami yang mengetahui bahwa permintaannya tadi bukanlah ngidam.
“Padahal tadi Mas beneran mau pakai kostum Elsa loh, supaya kamu seneng,” kata Kevin lagi.
“Iya, iya. Adek ngaku. Tadi itu adek pengen ngerjain Mas,” jawab Ayesha cemberut.
Sontak, Kevin pun tertawa. “Oke. Ngga apa-apa.”
“Mas, tapi jangan bales ngerjain aku lagi. Please,” kata Ayesha memohon.
“Kerjain ga ya? Kerjain, engga ... kerjain, engga.” Kevin menggerakkan kelima jarinya. “kerjain.”
“Mas,” rengek Ayesha. “Maaf.”
“Mas tuh kalau ngerjain kamu ngga susah kok. Cukup berbaring manis saja di atas ranjang. Selebihnya, biar Mas yang bekerja.”
“Mas,” teriak Ayesha sembari memukul lagi lengan suaminya yang mesum itu.
Sementara Kevin tergelak. Ia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa keram.
****
“Mas, kenapa sih kamu diam aja?” tanya Nindi pada suaminya saat masih di dalam mobil.
“Ngga apa-apa.”
“Ish, kamu aneh,” ucap Nindi sembari mengalihkan pandangannya ke jendela.
Lalu, Nindi kembali menoleh ke arah suaminya. “Tadi itu yang ngerjain kamu dan Pak kevin Ayesha. Kenapa jadi aku yang didiemin.”
“Samanya. Kamu juga mendukung Ayesha kan?” ucap Sean dengan pandangan yang tetap lurus ke jalan.
“Kok tahu?” tanya Nindi keceplosan. “ups.” Lalu ia menutup mulutnya.
Sontak Sean menoleh ke arah istrinya yang polos sembari tersenyum.
“Ah, ini mulut ga bisa banget di ajak bohong sih.” Nindi memukul mulutnya pelan.
Sean semakin tersenyum lebar melihat aksi itu sembari menggelengkan kepala.
Setelah hampir empat puluh menit, mereka pun tiba di apartemen Sean. Pria itu langsung memarkirkan mobilnya di tempat biasanya. Lalu, ia mengajak menggandeng tangan Nindi untuk menaiki lantai flat itu.
Nindi langusng merebahkan tubuhnya ketika ia sampai di flat Sean dan memasuki kamar itu.
“Huft, rasanya pegal sekali,” ucapnya sembari meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur king size itu.
Nindi pun langsung terbangun. “Maksud, Mas?”
Sean mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Lalu menempelkan bibirnya tepat di telinga Nindi.
“Mas akan memenuhi kewajiban Mas sebagai suami mulai malam ini,” kata Sean lirih, namun tetap bersuara berat.
“Mas, aku tuh belum.”
“Ssstt …” Sean menutup bibir istrinya. “Jangan bohongi Mas lagi.”
Nindi menatap suaminya. “Aku ga bohongin, Mas. Tapi memang aku belum …” Nindi menggantung perkataannya.
“Belum selesai?” tanya Sean.
Nindi menggelengkan kepalanya. “Sudah, Mas memang ga lihat aku sudah sholat subuh tadi pagi.”
Sean mengingat lagi pagi itu.
“Bukannya belum selesai masa periodeku, Mas. Tapi aku belum siap. Takut!” nindi memang benar-benar menampilkan wajah takutnya.
Sontak, Sean pun tertawa. Lalu, ia mengangkat tangannya untuk mengelus wajah mulus itu. “Kenapa takut?”
“Pasti ukuran Mas, tidak seperti ukuran pria pada umumnya. Kata Ayesha kalau orang bule, rudalnya lebih besar.”
“Rudal?” Sontak Sean kembali tertawa. Kali ini tertawanya lebih kencang.
“Neng … Neng … kamu ada-ada aja. Memang ukuran apa?” tanyanya.
“Ukuran itu.” Nindi menunjuk ke area terlarang yang sedang sedikit membumbung itu.
“Ini!” Sean menantang dengan memegang sendiri rudal itu. “Ini namanya Rudal Amerika yang siap tempur. Mau lihat?”
Nindi langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Ngga. Ngga. Serem!”
Sean kembali tertawa. Sungguh ia gemas melihat ekspresi istrinya yang kelewat polos.
“Kalau mahu tahu ukurannya, harus dilihat. Atau ngga disentuh.” Sean menarik tangan Nindi untuk menyentuh pusaka itu.
Namun, Nindi dengan cepat menarik lagi lengannya. “Mas, ih.”
“Memang kamu belum pernah lihat ini?” tanya Sean lagi dengan menunjuk rudal itu.
Nindi menggeleng. “Belum.”
“Memang kamu belum pernah sekali pun nonton video atau film p*rn*?” tanya Sean lagi.
“Ish, amit-amit. Ya ngga lah. Ngapain juga,” jawab Nindi tegas.
“Ya, Tuhan. Ternyata istriku benar-benar original.” Sean kembali tertawa.
“Original?” tanya Nindi tak mengerti.
“Udah ga usah dipikiran,” ucap Sean sembari menarik lengan Nindi. “Mandi bareng yuk!” pria itu sudah berdiri dan mengajak istrinya menuju kamar mandi.
“Mas duluan aja. Setelah itu baru aku.”
Sean menggeleng. “Tapi Mas ingin dimandiin kamu.”
“Mas.” Nindi menggeleng dengan lengan yang masih ditarik oleh suaminya.
“Ayolah, Neng!” Sean memasang wajah memelas agar istrinya iba. Padahal di otaknya sudah banyak hal yang ingin dilakukan pada tubuh itu.
“Tapi, jangan macem-macem ya Mas! Hanya mandiin aja,” kata Nindi memberi peringatan.
Pasalnya setelah mereka menikah, memang ini bukan yang pertama kali Sean minta dimandikan. Setelah menikah, Sean memang semakin manja. Namun, berhubung saat itu Nindi sedang tidak bisa bercinta, maka Sean hanya memintanya untuk menggosokkan tubuhnya dengan sabun.
“Iya,” jawab Sean bohong.
Nindi pun merasa ada yang ganjil. Tetapi, kakinya tetap mengikuti langkah sang suami yang hendak memasuki kamar mandi. Sesaat ia manahan kaki itu tepat di ambang pintu. “Beneran ya, cuma mandiin kamu aja.”
“Iya, sayang,” jawab Sean dengan penuh penekanan.
Akhirnya, Nindi pun menurut. Ia memasuki kamar mandi itu. Sean berdiri dibelakang Nindi dan membantu melepaskan pakaian itu satu persatu.
“Loh, yang ingin mandi itu kamu, Mas. Kenapa pakaian aku yang dilepas?” tanya Nindi sembari mengikuti gerakan Sean yang tengah membuka pakaiannya.
“Nanti baju kamu basah.”
Nindi menurut, hingga hanya pakaian d*l*mnya saja yang tersisa.
Cetek …
Sean juga membuka kaitan bra itu.
“Mas.” Nindi berusaha menahan kain yang menutupi kedua gunung kembarnya.
“Tidak apa, Sayang. Mas ingin melihat tubuh indahmu tanpa sehelai benang. Seperti yang pernah Mas lihat saat kamu mabuk dulu.”
“Maaaas,” teriak Nindi melengking sembari mennutup gunung kembar itu dengan kedua tangannya yang menyilang.
Perlahan tapi pasti, Sean mendapatkan apa yang ia inginkan.