XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Tidak sulit menyukai pria seperti Sean



Di apartemen, Sean gelisah menunggu Nindi yang tak kunjung datang pagi ini. Seharusnya sahabat Ayesha itu datang ke apartemen ini sesuai kesepakatan, mengingat ini adalah hari sabtu.


Lagi-lagi, Sean mengangkat kepalanya untuk melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, padahal seharusnya Nindi sudah harus sampi di tempat ini pukul sembilan.


“Ck, kemana wanita itu?” tanya Sean dalam gumamannya.


Jujur, sejak dua kali sabtu merasakan Nindi berada di tempat tinggalnya dan memberi warna pada rumahnya yang sunyi, membuat pria yang dikenal playboy itu tak sabar menunggu datangnya hari sabtu. Ia pun menghindari pertemuan atau janji dengan waktu di hari sabtu pukul sembilan sampai tiga sore. Sean ingin menikmati kebersamaan bersama Nindi di sini.


Kemudian, Sean mengambil ponselnya. Ia memberi pesan pada Nindi.


“Masih ingatkah kesepakatan kita? Ini sudah lebih di satu jam, tapi kamu belum datang.”


Sean menatap layar ponselnya. Status pesan melalui whatsapp itu sudah centang dua, artinya pesan terkirim, hanya saja si penerima belum membacanya karena centang dua itu belum berubah warna.


Cukup lama, Sean menatap layar ponselnya yang belum mendapat balasan. Untuk menghilangkan kebosanan, Sean beranjak ke dapur dan beralih ke lemari es. Ia menuangkan jus jeruk segar ke dalam gelasnya.


Tring


Ponsel Sean berbunyi. Dengan segera, ia berlari menghampiri ponselnya yang tergeletak di meja ruang televisi.


“Maaf, sepertinya sabtu ini aku tidak bisa datang ke sana. Aku sedang tidak enak badan.”


Sean membaca pesan itu dan langsung khawatir. Ia langsung mendial nomor telepon Nindi.


Tut … Tut … Tut …


Beberapa kali melakukan panggilan, tapi Nindi belum mengangkatnya. Hingga pada panggilan ketiga, akhirnya terdengar suara di sana.


“Halo,” suara Nindi terdengar parau.


“Kamu sakit?” tanya Sean yang benar-benar khawatir.


“Hmm … Maaf aku tidak bisa ke sana.”


“Kalau begitu aku yang ke sana,” jawab Sean cepat.


“Tapi …”


Tut … Tut .. Tut …


Baru saja Nindi ingin mencegah Sean, tapi pria itu sudah lebih dulu menutup teleponnya.


Entah mengapa Sean begitu khawatir. Ia tak tahu apa yang sedang ia rasakan ini, tapi yang jelas ia merasa peduli terhadap wania itu. Ia pun nyaman ketika Nindi bersamanya.


Sean bergegas mengganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Ia turun ke basement menuju mobilnya dan langsung melesat ke tempat kost Nindi.


Jarak antara apartemen Sean dengan kost Nindi memang tidak jauh, karena mereka masih berada di sekitaran gedung Adhitama. Sesampainya di daerah itu, Sean memarkirkan mobilnya di jalanan, jalan yang tepat berada di depan kost itu.


Kebetulan, Nindi tinggal di kos khusus wanita, sehingga tidak boleh sembarang pria masuk ke dalam sana.


“Mau ketemu siapa, Pak?” tanya penjaga kos yang merupakan seorang waniat paruh baya dengan postur tubuh yang sangat gemuk. Wanita itu adalah ibu pemilik kost.


“Saya mau ketemu Nindi,” jawab Sean.


“Oh, Nindi yang karyawati Adhitama grup?” wanita bertubuh gempal itu balik bertanya.


Sean mengangguk. “Boleh saya menemuinya.”


“Maaf, Pak. Tidak bisa. Di sini kost khusus wanita, jadi tamu pria dilarang masuk,” ucap ibu kost itu. “Sebentar, saya ke kamar Nindi. Bapak tunggu di sini saja.”


Sean mengangguk. Tempat kost Nindi memang cukup besar, rapi, dan bersih. Di sana juga disediakan sofa yang cukup bagus untuk menunggu.


Tak lama kemudian, ibu itu datang menghampiri Sean yang menunggu sembari menggerakkan kakinya untuk mengusir kebosanan.


“Maaf, Pak. Mbak Nindi nya lagi sakit. Jadi ga bisa temuin bapak, katanya dia ga bisa bangun karena pusing.”


“Kalau begitu saya masuk. Di mana kamar Nindi?” tanya Sean yang sudah menyerobot masuk ke dalam.


“Eh, jangan, Pak! Bapak tidak boleh masuk ke dalam sini sembarangan. Ini khusus wanita.”


“Pacar saya sakit. Kalau dia kenapa-kenapa dan tidak segera dibawa ke dokter, apa ibu mau tanggung jawab?” tanya Sean dengan suara menggelegar. “Cepat katakan di mana kamar Nindi atau saya akan tuntut tempat ini.”


Ibu kost itu pun menciut dengan kata-kata tuntut yang diucapkan Sean. Wanita paruh baya bertubuh gempal itu langsung takut, mengingat gaya dan tampang Sean memang bukan orang sembarangan. Apalagi mobil yang Sean gunakan dan terparkir di depan sana pun bukan mobil biasa.


“Di … di sana!” Ibu kos itu pun mau tidak mau menunjukkan kamar Nindi. Ia juga mengantarkan Sean menuju kamar itu.


Sontak, penghuni kost yang lain keluar karena keributan ini, ditambah suara Sean yang tidak kecil. Mereka berbisik saat melihat Sean yang berjalan dengan gagah dan wajah kesal menuju kamar Nindi.


“Pak Sean,” panggil Nindi ketika melihat Sean membuka pintu kamar kost-nya.


Sean langsung mendekati Nindi yang terbaring di tempat tidurnya. “Hei kamu sakit?” tanyanya panik sembari menempelkan punggung tangannya ke dahi Nindi.


Nindi menggeleng. “Tidak apa-apa. Ini hanya demam biasa. Mungkin karena kecapean,” ujarnya.


“Badanmu cukup panas, Nin. Berapa suhunya?” tanya Sean.


Nindi tetap meyakinkan Sean bahwa dirinya baik-baik saja.


“Aku sudah minum obat. Sekarang memang masih panas, tapi nanti juga panasnya akan turun.”


Sean menggeleng. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari thermometer. “Ah, ini dia. Ayo cek dulu suhu tubuhmu!”


Nindi ternenyuh melihat Sean yang begitu peduli. Sean duduk di tepi tempat tidur tepat di kepala Nindi yang terbaring di sana. Arah matanya terus tertuju pada benda pengukur suhu tubuh itu, sementara arah mata Nindi tertuju pada kedua mata Sean yang cokelat.


“Matanya bagus,” gumam Nindi dalam hati.


“Ya ampun, Nin. Suhu tubuhmu 39,8. Tubuhmu kalau di taroh telur bisa mateng tau ga,” ujar Sean memecahkan lamunan Nindi yang sedang mengagumi bola mata Sean.


“Ayo, aku antar ke dokter!” ucap Sean lagi.


Nindi menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak suka bau rumah sakit.”


“Tapi kamu harus ke dokter, Nin. Ini panas sekali.”


Nindi lagi-lagi menggeleng. “Ngga. Nanti juga sembuh kok. Aku udah minum obat penurun panas. Hanya saja obatnya belum bereaksi sekarang.”


Sean tak mendengarkan perkataan Nindi. Ia bangkit dan langsung membopong tubuh Nindi.


“Pak Sean, turunin!”


“No, kamu harus ke dokter.”


“Tidak perlu, Pak. Ngga mau,” rengek Nindi.


“Harus mau. Kamu tahu, aku khawatir melihatmu seperti ini,” ucap Sean dengan nada yang sedikit meninggi membuat Nindi terdiam.


Sean pamit pada ibu kost itu untuk membawa Nindi ke rumah sakit. Ia pun membopong tubuh Nindi hingga ke mobil. Semua penghuni kos itu melihat aksi heroik Sean.


“Gila, pacarnya Nindi ganteng banget,” ujar salah satu penghuni kost itu.


“Iya, perhatian banget lagi. Jadi baper gue,” kata salah satu teman Nindi yang menempati kamar di sebelah Nindi persis.


Ibu kost itu membantu Sean. Ia membuka pintu kursi penumpang untuk Nindi. Lalu, Sean mendudukkan kekasih palsunya di kursi itu.


“Terima kasih, Bu. Saya bawa Nindi ke rumah sakit,” ucap Sean pada si ibu kost.


“Ya, Pak. Sama-sama. Bapak benar-benar pacar yang baik,” jawab ibu kost itu dengan menepuk bahu Sean semabri tersenyum.


Lalu, Sean berlari mengitari kap mobil dan duduk di kursi kemudi.


“Maaf tadi aku bicaar dengan sedikit bernada tinggi,” kata Sean yang sadar telah membentak Nindi saat wanita itu tak mau dibawa ke rumah sakit. “Aku benar-benar khawatir.”


Nindi mengangguk lemah. Ia memang diam ketika Sean berkata dengan nada yang sedikit meninggi tadi, tapi diamnya Nindi bukan marah karena Sean membentaknya melainkan karena ia terharu melihat Sean yang begitu khawatir padanya, mengingat ia bukanlah siapa-siapa, hanya kekasih palsunya saja. namun, sikap Sean menunjukkan seolah Nindi benar-benar kekasihnya. Wajarkah jika hati Nindi mulai bermain? Wajarkah jika Nindi menyukai pria itu, karena memang tidak sulit untuk menyukai pria seperti Sean.


Nindi merasakan sesuatu yang sulit diartikan, mengingat ini adalah kali pertama ia diperlakukan istimewa oleh lawan jenis.