
“Mas pulang duluan aja. Aku ada urusan sama Nindi”
Pesan Ayesha untuk Kevin, karena biasanya pria itu akan menunggu di basement untuk pulang bersama.
Kevin langsung membalas pesan itu. Ia tahu bahwa keputusan yang ia ambil akan membuat Ayesha kecewa. Tapi, ia adalah pemimpin dan ia harus bersikap profesional. Hanya saja cara pandang seorang laki-laki dengan wanita pasti berbeda. Ayesha menerima keputusan itu dengan perasaan. Sedangkan Kevin murni dengan logika.
“Ngga. Mas akan tunggu kamu.”
Kevin langsung menjawab pesan itu. Biasanya ia akan lama menjawab pesan Ayesha, tapi kali ini pesan itu sangat cepat di balas.
“Aku nanti pulang malam, Mas. Jadi Mas pulang duluan saja.”
Ayesha menjawab lagi pesan yang Kevin balas dan Kevin langsung kembali membalas pesan itu. Namun sayang, pesan yang Kevin balas hanya contreng satu. Sepertinya Ayesha sengaja menonaktifkan internet di ponselnya.
Kevin mengusap wajahnya kasar. Lalu, ia menekan nomor Ayesha untuk meneleponnya, tapi gagal karena ternyata ponsel Ayesha tidak aktif.
“Si*l,” umpat Kevin sembari melempar ponsel itu ke meja.
Lalu, Kevin melihat jam di tangannya. Waktu jam pulang kerja sudah lebih dari lima belas menit.
Tak lama kemudian, Kayla membuka pintu ruangan Kevin untuk pamit.
“Kev, aku pulang ya,” ujarnya.
Kevin pun mengangguk. Namun, beberapa detik kemudian ia memanggil Kayla kembali.
“Kay.”
Kayla menoleh. “Ya.”
“Boleh minta tolong sekalian panggil Ayesha ke sini,” kata Kevin.
“Hmm ... Bukannya Ayesha udah pulang ya?” Kayla balik bertanya. “Tadi aku lihat dia di depan lift sama Nindi.”
“Oh ya? Bukannya dia lembur? Tadi dia bilang di chat kalau dia mau pulang malam,” jawab Kevin.
“Pulang malam kan ga harus lembur, Kev. Mungkin dia mau jalan-jalan sama Nindi.”
“Hah ... jalan-jalan?”
Kayla mengangguk. “Ya, refresh mungkin, karena hari ini hari yang berat buat dia.”
Kevin pun terdiam. Melihat hal itu, Kayla kembali pamit.
“Apa aku keterlaluan?” tanya Kevin dalam gumamannya. “Ah, tidak.”
Kevin menggelengkan kepala. Ia berencana akan meminta maaf atas keputusan yang ia ambil ini pada Ayesha ketika mereka berada di rumah.
Walau bagaimana pun Ayesha memang salah. Lepas dari Ayesah adalah istrinya. Tapi, memang harus ada konsekuensi dari sebuah kesalahan di dalam dunia kerja. Dan, untuk hal ini Kevin tidak pandang bulu. Itu juga yang diajarkan Kenan padanya.
Kevin pun pernah mendapat hukuman yang sama dari Kenan ketika ia mengambil keputusan yang salah saat masih menjabat sebagai manager operasional hingga merugi ratusan milyar bahkan hampir mencapai trilyun. Akhirnya Kenan menurunkan jabatan Kevin menjadi staf marketing biasa hingga Kevin kembali menuangkan prestasi dan mengembalikan kerugian itu dengan mendapat projek besar dari tempat berbeda yang belum pernah bekerja sama dengan perusahannya. Dan, hingga kini akhirnya kerjasama itu tetap berlangsung.
Kevin bergegas melangkahkan kakinya menuju ruangan Ayesha. Sesampainya di sana, ternyata ruangan itu sudah kosong dan gelap.
“Kev, belum pulang?” tanya Sean yang baru saja akan pamit.
“Gue nunggu Ayesha.”
“Lah, di luar udah kosong, Kev. Udah ga ada orang.” Sean melihat bos nya tengah duduk lesu di sana sembari memegang ponselnya.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Sean lagi.
Kevin mengangguk. “Sepertinya Ayesha marah dengan keputusan gue tadi.”
Sean menghampiri Kevin dan duduk di sebelahnya, karena saat ini Kevin sedang duduk di sofa panjang yang berada di depan meja kerjanya.
“Wanita itu berpikir tidak dengan logika Kev. Tapi dengan perasaan. Gue yakin Ayesha saat ini lagi kecewa sama lu,” jawabb Sean.
“Tapi sebagai pimpinan, gue harus profesional Sean.”
Sean mengangguk. “Ya ... Ya ... Ya ... gue ngerti. Tapi Ayesha belum tentu ngerti, Kev.”
“Ya gue juga berniat akan minta maaf sama dia di rumah. Gue akan jelasin ke dia kenapa gue ngambil keputusan ini,” ucap Kevin.
“Keputusan lu, langsung di buat HRD dan sepertinya surat mutasi itu sudah sampai ke tangan Ayeshan sore ini.”
Kevin pun terdiam. Mereka masih berbincang di ruangan itu.
Sementara wanita yang sedang dicari Kevin, tengah berada di kosan Nindi.
“Huft, rasanya enak banget rebahan,” kata Ayesha yang merebahkan diri di tempat tidur Nindi ketika mereka tiba di kamar kos itu.
Kos tempat Nindi kebetulan adalah Kos khusus wanita dan sebagian besar yang menjadi penghuni di kosan ini adalah karaywati yang bekerja di sekitaran gedung-gedung Adhitama dan yang lainnya.
“Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Aku mandi ya,” kata Nindi yang langsung mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar masing-masing.
Ayesha mengangguk. “Ya, aku mau tidur sebentar, Nin. Rasanya dari tadi kepala aku mau pecah.”
Nindi iba melihat teman baiknya yang sedang terpuruk itu. Ia tidak bisa bayangkan jika posisinya berada di posisi Ayesha, mungkin saat itu juga ia akan mengundurkan diri. Namun, Ayesha tidak bisa melakukan itu karena ia sudah menandatangani kontrak selama dua tahun.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Ayesha tetap tidak mengaktifkan ponselnya. Sedangkan Kevin, masih menunggu sang istri di kantor. Ia bingung mencari Ayesha di mana, menurut informasi Ayesha pergi bersama Nindi ke kosan teman se ruangannya itu. Kosan Nindi yang tak jauh dari kantor pun membuat Kevin beranggapan bahwa wanita itu akan kembali lagi ke tempat ini dan akan pulang bersama.
“Kev, udah pulang sana,” ujar Sean yang masih menemani Kevin di sini.
“Ayesha masih belum bisa dihubungi, Sean.”
“Gue rasa malah dia udah sampe apartemen sekarang. Doi ga akan ke sini lagi, Kev.” Sean meyakinkan sahabatnya untuk tenang.
“Tapi, di chat terakhir, gue bilang akan tunggu dia di sini,” jawab Kevin.
“Ini udah malem, Kev. Ayesha pasti udah pulang,” jawab Sean meyakinkan lagi.
Kevin melihat lagi jam di tangan kanannya. Ya, hari semakin malam. Ia pun mengangguk, benar apa yang dikatakan Sean, Ayesha pasti sudah sampai apartemen sekarang. Ia hanya berkunjung ke tempat Nindi sebentar untuk merefresh.