XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sean dan Nindi mulai dekat



“Ciye … dapet bunga nih ye,” ledek Ayesha pada Nindi ketika baru memasuki ruangan mereka.


Saat membuka pintu arah mata Ayesha langsung menagkap Nindi yang sudah duduk di mejanya dengan menghirup wangi sepuket bunga yang ada di depannya.


Sontak, Nindi pun langsung mebernarkan posisi duduknya dan menjauhkan menggeser bung aitu ke sudut meja.


“Bunga dari Kak Sean, ya?” tanya Ayesha dengan senyum jahil.


Nindi mengangguk dengan wajah cuek seolah ia tidak menginginkan bunga itu, padahal dalam hatinya ia senang bukan kepalang. Pasalnya ini juga kali pertama ia mendapat perhatian dari lawan jenis, kali pertama pula ia diberi sepuket bunga dari seorang laki-laki.


Pagi tadi, sebelum sampai dikantor, Sean mampir ke sebuah toko bunga. Setelah mendapat bunga yang bagus memnurutnya, ia pun langsung memfoto dan membagikan foto itu pada Kevin juga Aldy. Kedua sahaabatnya itu pun langsung meminta Sean untuk membeli bunga juga dengan varian berbeda tapi tetap elegan. Kevin dan Aldy juga akan memberikan bungan itu pada pasangan mereka masing-masing disertai alamat ke tempat kerja mereka. Sedangkan bunga yang Sean beli, langsung ia ambil dan ia berikan langsung pada Nindi tepat saat wanita itu hendak memasuki ruangannya.


Sean sengaja menunggu Nindi di depan ruangannya itu dan ketika Nindi datang, Ia menyerahkan sepuket bunga itu. So sweet bukan? Binar senang di wajah Nindi pun tak mampu disembunyikan saat itu terjadi dan Sean tahu bagaimana membuat wanita bahagia dengan cara-cara sederhana.


Tok … Tok … Tok ...


Seorang office boy membuka pintu ruangan Nindi dan Ayesha.


“Bu Ayesha, ada kiriman bunga,” ucap OB itu.


Kini si office boy yang biasa memanggil Ayesha dengan panggilan ‘Mbak’ berubah menjadi ‘Ibu’ sejak Kevin mengumumkan status Ayesha.


“Oh, iya. Terima kasih.”


Pria muda itu pun tersenyum dan mengangguk, lalu pamit dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


Nindi menggeleng saat melihat office boy itu keluar.


“Kenapa geleng-geleng?” tanya Ayesha melihat ekspresi Nindi. “Kamu ga lagi ngincer Aji kan?”


Aji adalah nama office boy muda tadi.


“Ih, apaan sih.” Nindi melemparkan buntalan kertas ke arah Ayesha.


Ayesha pun tertawa.


“Aku tuh lagi inget. Kok aku bodoh banget ya sampe ga tahu kalau kamu itu istri Pak Kevin. Padahal semua sinyal itu udah ada, bahkan si Aji aja manggil kamu udah bukan Mbak lagi tapi Ibu.” Nindi tertawa.


Ayesha pun kembali tertawa. “Berarti kamu polos, Nin.”


Nindi melirik ke arah Ayesha. “Kaya yang ngomong ga polos aja. Gimana rasanya dimodusin beruang kutub?”


Ayesa langsung tertawa. Pertanyaan Nindi dijawab dengan tawa renyah dari Ayesha. “Nanti kamu juga akan ngerasaian. Dimodusin, Kak Sean.”


Sontak, Nindi merubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut. “Ish, apa sih. Aku dan Pak Sean itu hanya pacar pura-pura. Katanya dia bosan ditanya siapa pacarnya sama Oma dan Opanya, jadilah aku sebagai tumbal gara-gara insiden itu.”


Ayesha tertawa. “Nah, itu dia modusnya.”


Nindi pun mengernyitkan dahi, mencerna perkataan Ayesha. Namun, ia menggelengkan kepala karena tidak mungkin seorang Sean memodusinya.


****


“Daah, Nin. Aku duluan ya.”


“Mau kemana sih buru-buru?” tanya Nindi pada Ayesha.


“Mau cek calon ponakan kamu,” jawab Ayesha.


Ia dan Kevin memang sudah temu janji pada dokter keluarga Kevin yang kebetulan bertugas di sore hari.


“Ah, iya. Dari kemarin aku ingin tanya itu. Calon ponakan aku apa kabar?” tanya Nindi.


“Ya, ini mau periksa. Doakan sehat ya.”


“Selalu, Ay. Semoga lancar sampai persalinan,” kata Nindi.


“Aamiin,” Jawab Ayesha sembai menempelkan pipi kanan dan kirinya pada Nindi, lalu pergi.


Nindi menghelakan nafasnya. Ayesha yang ia lihat sekarang memang jauh berbeda dari Ayesha yang ia lihat saat pertama kali bertemu. Rambut Ayesha sudah terlihat semakin panjang, aura wajahnya pun bertambah cantik, mungkin karena saat ini ia sedang hamil. Kata orang, wanita hamil itu memang terlihat lebih cantik dan memancarkan aura positif.


Nindi keluar dari ruangan itu bersamaan dengan Sean yang juga keluar dari ruangannya. Mereka memang berada di satu lantai. Sudah lebih dari tiga tahun, Sean dan Nindi sering berpapasan di lantai ini, tapi baru sekarang Sean melihat Nindi adalah wanita cantik. Walau semula ia pun menilai Nindi cantik, tapi setelah melihat isi dari tubuh Nindi yang tak berbalut kain menambah keyakinan Sean bahwa Nindi memang benar-benar cantik. Di tambah semakin mengenal wanita itu, Sean semakin menyukai kepribadiannya yang menarik.


“Hai pacar,” sapa Sean yang diam-diam berjalan cepat demi bersejajar dengan Nindi yang hendak menuju lift.


Nindi mencibir dan memasang wajah cuek.


“Mau Mas anter?” tanya Sean yang membuat Nindi ingin rasanya tertawa tapi ia tahan.


Rasanya telinga Nindi geli saat Sean menyebut dirinya sendiri dengan panggilan ‘Mas’.


“Kok ketawa?” tanya Sean yang melihat sedikit senyum di bibir itu.


Nindi menoleh ke arah Sean. “Siapa yang ketawa”” jawabnya dengan mood wajah yang kembali cuek.


“Selagi ketawa masih gratis. Ketawa aja lagi. Mas suka kok lihatnya.”


Nindi semakin geli mendengar itu, tapi di sisi lain ada kupu-kupu kecil yang berterbangan diperutnya.


Sean menahan tombol buka, agar Nindi masuk ke dalam lift itu. Setelah Sean dan Nindi berada di dalam lift, tak lama kemudian beberapa orang pun ikut masuk ke dalam lift itu. Tadinya, jika tidak adaorang di dalam lift ini, Sean juga ingin mempraktekkan berciuman di dalam lift bersama Nindi sama seperti adegan Kevin dan Ayesha beberapa waktu lalu. Ah, membayangkannya saja, Sean sudah bergairah, mungkin karena sudah lama hasratnya tak tersalurkan, atau aura gairah Nindi begitu besar pada dirinya. Entahlah!


Mereka berjalan beriringan. Sean mengikuti langkah Nindi. Namun, Nindi berusaha menjaga jarak, selain malu dan takut digosipkan, Nindi juga melakukan itu untuk hatinya sendiri. Tapi, Sean yang tahu bagaimana meluluhkan wanita, tidak mau kalah. Ia tetap mengikuti Nindi.


“Loh, Bapak ngikutin saya?” tanya Nindi yang melihat Sean ikut berjalan kaki, padahal Nindi tahu persis bahwa mobil Sean terparkir di basement.


“Aku mau anter pacarku pulang,” jawab Sean santai.


Sean berjalan sembari memasukkan kedua tangannya ke kantong celana bahan yang senada dengan jasnya. Namun, kali ini ia tidak memakai jas, hanya kemeja panjang yang kini ia gulung sampai siku.


Nindi melirik ke arah Sean yang tampak tampan dengan wajah bule yang ia miliki dari sang kakek.


Kosan Nindi memang tidak jauh dan tidak dekat. Tapi tidak ada kendaraan menuju kos itu, sehingga Nindi selalu berjalan kaki dan letaknya berada di pemukiman persis di belakang gedung Adhitama.