
Acara utama empat bulanan Ayesha hari ini berjalan dengan lancar. Satu persatu tamu pun pamit pulang. Tersisa keluarga inti dan para sahabat. Di sana, terlihat para tetua sedang reuni. Rasti bersama Alin dan James. Sedangkan, Kenan dengan ketiga sahabat yang kini menjadi keluarga inti, yaitu Vicky dan Gunawan. Lalu, ada Riza yang juga bersama mereka. Keempat pria itu ditemani oleh istri mereka masing-masing. Mereka saling bercengkerama dan terkadang tertawa.
Di tempat lain, generasi muda pun tak mau kalah. Anak-anak yang orang tuanya sedang berkumpul di pelataran taman itu pun juga ikut berkumpul. Mereka duduk di teras samping dengan suara gemericik air dari dinding air terjun buatan yang menempel di dinding besar itu.
“Berapa lama di Jakarta, Za?” tanya Keanu pada Vinza.
Keanu, Vinza, dan Kinara adalah anak dari hasil kreatifitas kedua orang tua mereka di atas kapal pesiar saat Kenan mengadakan gathering bersama karyawan inti yang sudah mengabdi padanya puluhan tahun.
Anak-anak sultan itu duduk di sebuah sofa berbentuk U yang sengaja diletakkan di teras itu untuk bersantai. Keanu duduk di samping Vinza dan di samping Vinza, ada Ayesha dengan Kevin yang selalu menempel pada istrinya.
Sedangkan Aldy dan Kayla berada di depan Kevin. Sementara, Kinara duduk persis di samping Kayla bersama Sean. Kinara dan Sean tepat berada di depan Vinza yang sedang berbincang dengan Keanu. Namun, Kevin, Aldy, Sean, dan Kayla berbincang hal yang lain. Ayesha dan Kinara lebih fokus dengan obrolan Kevin dan Sean.
“Ngga lama sih, Kean. Aku paling cuma tiga hari di sini,” jawab Vinza.
“What? Sebentar banget.”
Sean menoleh ke arah Keanu. “Kenapa, Kean?”
“Ini, masa Vinza cuma tiga hari di sini. Ga seru banget kan?”
“Ih, Abang. Ayesha masih kangen,” rengek Ayesha.
“Ngapain sih buru-buru pulang, Za?” tanya Kevin.
“Ga bisa ninggalin kerjaan di sana, Mas,” jawab Vinza pada Kevin.
“Bukannya di sana ada anaknya Om Dave?” tanya Keanu.
“Iya, sih.”
“Halah, alasan aja lu, Za. Ga liat apa, ada yang kangen ini.” Sean menepuk bahu Kinara.
“Percuma, dia mah ga peka,” sahut Kinara jujur, membuat yang lain tertawa.
Vinza pun tersenyum tipis dengan arah mata tertuju pada Kinara. Sungguh, sebenarnya ia sangat rindu keceriaan wanita itu.
Setelah masing-masing generasi tadi berkumpul dan bercengkerama di tempat berbeda, namun tetap satu atap itu. Mereka pun berkumpul bersama dalam satu ruangan dan menikmati hidangan utama yang tersuguh di sana.
Kinara ikut mengambil hidangan utama yang tersaji dalam bentuk prasmanan.
“Ups, sorry.”
Tangan Kinara menyentuh tangan Vinza, kerena ingin mengambil makanan yang tadi ia lewati, tapi ternyata Vinza berdiri di belakangnya dan tengah mengambil makanan yang sama. Bahkan tangan Vinza lebih dulu berada di alat pengambil makanan itu.
Tanpa menjawab, Vinza tersenyum dan mengambil makanan itu, lalu menuangkannya ke piring Kinara.
“Segini cukup?” tanya Vinza.
“Cukup.” Kinara mengangguk.
“Kapan pulang?” tanya Vinza dengan arah mata dan tangan yang tetap pada makanan yang tengah ia ambil.
Kinara menoleh ke pria cuek itu. “Memang masih peduli sama aku?”
Vinza tidak menjawab. Ia masih dengan aktifitasnya. Dan, malah mengalihkan pembicaraan dengan menarik ke atas, ujung lengan panjang berbahan kaos casual itu hingga siku.
“Pikiranmu saja yang menyatakan tidak,” jawab Vinza sembari melewati Kinara.
Kinara memonyongkan bibir saat tubuh Vinza melintas. Lalu, ia mengikuti langkah pria itu. “Kamu masih marah karena aku tidak ke Bandara saat kamu pindah?”
“Ngga,” jawab Vinza bohong sambil menggelengkan kepalanya.
Saat Vinza hendak meninggalkan negara ini, ia sudah menyiapkan sesuatu untuk Kinara. Bahkan ia sudah menyiapkan kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya. Namun, Kinara tidak datang dengan alasan menemani Sean di rumah sakit karena kebetulan hari itu, Sean mengalami kecelakaan hingga patah pada lengan kanannya.
Berulang kali, Kinara menjelaskan keadaannya saat itu, tapi Vinza menutup telinganya. Hingga akhirnya, komunikasi mereka pun terputus. Namun, tanpa sepengetahuan Kinara, diam-diam Vinza sering menstalker media sosial Kinara, hanya untuk mencari tahu keadaan wanita itu. Dan hal itu berhasil, karena Kinara memang pengguna media sosial aktif dan sering membagikan apa yang ia alami di tempat itu.
“Terus kalau ngga marah, kenapa menghilang dan ga pernah memberi kabar?” tanya Kinara lagi.
“Kamu juga tidak pernah memberi kabar,” ucap Vinza sambil memasukkan makanannya ke mulut tanpa melihat ke arah Kinara.
“Ish, nyebelin.” Kinara memalingkan wajahnya, melihat sikap Vinza yang menyebalkan.
Selama ini, tidak ada pria yang mengacuhkan dirinya. Di sekolah, atau pun di rumah sakit tempatnya magang, Kinara selalu menjadi pusat perhatian apalagi dari kaum Adam. Gayanya yang ceriwis, supel, dan humoris, membuat setiap orang nyaman berada di dekatnya. Dan, hanya Vinza, pria yang sering mengacuhkan Kinara. Ia menyesal mengikuti langkah Vinza tadi dan duduk bersamanya di sini. Lebih baik ia duduk bersama keluarganya yang lain dibanding bersama manusia kaku seperti ini.
Namun, tiba-tiba Vinza menahan pergelangan tangan Kinara, saat wanita itu akan pergi. “Mau kemana?”
“Kemana aja. Yang jelas ga disini sama kamu.”
Vinza menarik lengan itu dan memaksa Kinara untuk kembali duduk. Mau tidak mau, Kinara pun mendudukkan kembali tubuhnya di kursi itu. Ia melirik ke arah Vinza dan tersenyum. Vinza memang tidak banyak bicara. Sejak dulu, memang seperti itu. Namun, Kinara menyukainya karena vinza selalu bisa menjadi pendengar yang baik dan memberi solusi tepat atas setiap curhatannya.
Vinza melirik Kinara yang terus menatapnya. “Kenapa?”
Kinara menggeleng. “Ngga apa-apa, pengen ngeliatin aja. Ternyata kamu semakin ganteng.”
Vinza tersenyum tipis. “Masih suka gombalin cowok.”
“Hanya orang tertentu,” jawab Kinara santai. Ia pun menyendokkan makanan itu ke mulutnya.
Kini, Vinza yang memperhatikan Kinara. Wanita itu pun terlihat semakin cantik dan dewasa. “Udah berapa sekarang koleksi pacarmu?”
Kinara megernyitkan dahi. “Maksudnya?”
Vinza mengangkat bahunya. “Tidak ada maksud apa-apa. Hanya sekedar bertanya.”
“Tapi pertanyaanmu ga jelas. Seolah-olah aku seorang playgirl,” kata Kinara yang mulai emosi.
VInza tertawa. “Loh bukannya memang seperti itu.”
Di sosial media yang Kinara unggah, memang sering membagi kebersamaannya dengan teman-teman pria.
“Sepertinya, memang seharusnya aku ga duduk di sini. Bikin emosi.” Kinara pun berdiri dan mengangkat piringnya untuk menjauh dari Vinza.
Kali ini Vinza tidak menghalangi kepergian Kinara. Ia hanya tersenyum tipis. Kinara memang terlalu sempurna. Wajar, jika banyak pria yang mengejarnya, termasuk Sean. Dan Vinza, pria posesif yang kuat dengan asumsinya sendiri. Hal itu, membuat kedua insan yang saling cinta itu pun tak kunjung bersatu.
Di sisi lain, Sean duduk sendiri. Tangannya bergerak di atas tuts keyboard ponselnya. Ia sedang bertukar pesan dengan Nindi yang masih berada di kampung. Nindi menanyakan acara Ayesha yang tidak bisa ia hadiri. Dan, Sean rindu dengan kekasihnya.
“Mau aku jemput?” tanya Sean dalam pesan itu pada Nindi.
“Tidak perlu. Aku nanti pulang barenga keluarga kakak iparku. Mereka kebetulan juga datang menjenguk ibu.”
“Oh, syukurlah. Paling tidak, kamu tidak pulang sendirian,” jawab Sean di dalam pesan itu.
“Mungkin, nanti malam aku akan merepotkanmu. Mau kan?”
“Tentu saja,” jawab Sean.
“Tolong jemput aku di rumah kakak iparku di daerah Tangerang.”
“Siap, Tuan putri,” balas Sean sembari mengembang senyum.