XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Memakai cincin pernikahan



Hari ini, Kevin dan Ayesha hendak berangkat ke kantor. Sudah dua malam, mereka bermalam di kediaman megah milik orang tuan Kevin. Sepulang Kevin bertemu dengan Tian, Rasti menelepon dan memintanya makan malam di rumah Kenan.


Ayesha tersenyum melihat cincin pernikahan mereka yang tak lepas dari jari manis suaminya sejak weekend kemarin. Ia sesekali melirik ke jari yang tengah berada di setir kemudi. Namun, ekspresi Ayesha berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang di tampilkan suaminya.


“Kamu kenapa, Mas? Kayanya lemes banget.” Ayesha menatap wajah suaminya yang lesu dan kurang tidur. “Semalam kamu ga bisa tidur?”


Kevin menoleh ke arah sang istri dengan bibir mangatup. Ia ingin menjawab kalau memang semalam dirinya sama sekali tidak bisa tidur. Selama bermalam di rumah sang ayah, Ayesha hampir sembilan puluh sembilan persen disabotase oleh Rasti. Apalagi, pijitan Ayesha yang Rasti bilang sangat enak. Hampir setiap malam Rasti ingin tidur dengan istrinya. Karena katanya pijitan Ayesha membuat sang Oma nyenyak tidur.


“Mas, maaf. Aku ga bisa nolak keinginan Oma,” ucap Ayesha yang merasa bersalah karena meninggalkan suaminya tidur sendiri di kamar.


Tapi tunggu. Apa Kevin benar-benar tidak bisa tidur karena tidak ada dirinya di kamar itu? Ah, Ayesha tidak ingin kege-eran. Ia masih takut untuk percaya diri kalau dirinya dicintai begitu besar oleh Kevin.


“Iya, Mas ga bisa tidur karena ga ada temennya. Ga ada guling yang biasa Mas peluk,” jawab Kevin santai dengan pandangan tetap lurus ke jalan.


Ayesha tersenyum lebar mendengar pernyataan itu. Ia langsung menoleh ke arah suaminya yang terfokus ke depan. Lalu, beberapa detik kemudian, Kevin pun menoleh ke arah Ayesha yang sengaja tidak lagi tersenyum lebar dan memfokuskan pandangannya ke depan.


“Kok diam?” tanya Kevin yang ingin Ayesha membalas pernyataannya tadi.


“Ah.” Ayesha pura-pura menganggap pernyataan Kevin itu biasa saja, padahal ia serasa berjalan di tengah taburan bunga. “Apa?”


“Ck, ga tau!” Kevin mengerdikkan bahunya. Ia tidak suka mengulang perkataannya.


“Guling? Jadi aku seperti guling?” tanya Ayesha.


Kevin tertawa. “Telat!”


“Mas. aku sekarang udah ga seperti guling ya,” rengek Ayesha.


Kevin tertawa lagi. “Tapi buat Mas, akan tetap seperti itu.”


“Mas,” rengek Ayesha lagi. “Mas, bisa ga sih ga nyebelin.”


Ayesha merengut dan Kevin melirik untuk melihat ekspresi yang ia sukai itu. Pria itu kembali tertawa. Lalu, Ayesha pun ikut tersenyum. Ia lagi-lagi melirik ke arah jari manis Kevin.


“Sejak kapan cincin itu, Mas pakai?” tanya Ayesha dengan arah mata yang masih tertuju pada jari itu.


Kevin pun melihat ke arah jari manisnya. “Ini!” Ia menunjukkan cincin pernikahan mereka. “Aku memang sering pakai cincin ini.”


“Masa? Aku ga pernah lihat. Baru beberapa hari terkahir ini aku lihat Mas pakai cincin itu,” sanggah Ayesha.


“Mas sering pakai kok. Kamu aja ga merhatiin,” sindir Kevin.


“Ngga. Aku baru lihat beberapa hari terakhir ini.” Ayesha pun bersikeras dengan pendiriannya.


“Kamu tuh yang ga pernah pakai cincin kita,” ucap Kevin.


“Pakai,” jawab Ayesha yang menunjukkan jari manisnya.


“Iya, karena di depan Mama, Papa, dan Oma. Sampe kantor juga dilepas.”


Ayesha nyengir. “Ya, kan dikantor, orang taunya aku masih lajang.”


Tiba-tiba, aura Kevin berubah. Ia terdiam. Ingin rasanya ia mengumumkan kepada seluruh karyawan yang bekerja di gedung Adhitama bahwa Ayesha adalah istrinya, tapi ia ingat kesepatakatannya dengan Tian. Ia ingin membuktikan pada temannya itu bahwa Ayesha juga mencintainya, sehingga Tian bisa menerima takdirnya.


Seketika, suasana di dalam mobil itu hening.


Tiga puluh menit kemudian, mobil Kevin sampai di basement, tepat di parkiran khusus tempat biasa ia memarkirkan sedan mewah berwarna hitam itu di sana.


Kevin keluar lebih dulu. Lalu, menunggu Ayesha keluar dan mengambil tangan itu untuk digenggam. Mereka berjalan beriringan.


“Mas, nanti ada yang lihat,” kata Ayesha sembari melirik ke kanan dan kiri.


Ayesha hendak melepaskan genggaman tangan itu. Namun, Kevin tak melepaskan genggamannya.


“Biarkan seperti ini,” ucap Kevin dengan pandangan lurus.


Mereka hendak memasuki lobby dan seperti biasa, Aryo memergoki kebersamaan itu.


“Mas, nanti Pak Aryo nyangka yang engga-engga. Nanti aku jadi bahan gosip kalau Mas seperti ini,” kata Ayesha lagi yang memang sering melihat tatapan Aryo yang tidak lagi bersahabat.


“Siapa yang berani gosipin kamu? Nanti berhadapan sama aku,” ucap Kevin tegas dengan suara yang cukup terdengar orang lain.


Kevin sengaja melakukan itu tepat di saat kakinya melangkah masuk lobby basement dan di situ Aryo tengah berdiri sembari tersenyum membungkukkan sedikit tubuhnya.


Aryo pun tersenyum kecut. Sayangnya, gosip ini sudah beredar di kalangan Aryo dan kawan-kawan, atau diantara teman-teman seprofesinya. Karena, saat itu yang melihat kebersamaan Ayesha dan Kevin bukan hanya Aryo tapi ada satu teman Aryo yang menjadi saksi.


“Kamu naik lift ini aja!” Kevin menarik tangan Ayesha untuk menaiki lift CEO.


Bukan karena sebab, Kevin melakukan itu. Selain memang karena ia masih ingin bersama istrinya karena dua hari Ayesha disabotase Rasti. Ternyat di depan lift karyawan juga terdapat Tian yang tengah berdiri menunggu.


Tian dan Kevin salng melirik tajam dengan ekspresi yang siap berperang. Namun, perlengkapan perang Tian tidak sebanyak Kevin. Sedari awal, sebenarnya Tian sudah merasa kalah, ketika Kevin menyatakan bahwa dirinya adalah suami Ayesha, tapi ia menepis itu. Ia tidak ingin kalah dari Kevin, karena sejak SMA pria itu selalu mengambil wanita yang Tian suka. Walau pun Kevin tidak menyukai wanita-wanita yang Tian sukai itu.


Arah mata seluruh karyawan tertuju pada Ayesha yang hendak menaiki lift khusus. Apalagi tangan Kevin yang tidak lepas dari tangan Ayesha.


“Mas, pasti setelah ini semua orang ngomongin aku,” rengek Ayesha kesal saat mereka berada di dalam lift.


“Oh, jadi kamu ga mau hubungan kita terpublish?” tanya Kevin.


“Bukan begitu. Tapi kata Mas, lebih baik begini supaya orang melihat kinerjaku memang karena aku bukan karena Mas.”


Kevin terdiam. Padahal dulu, itu hanya alasan. Ia tidak ingin disusahkan oleh Ayesha, karena menurutnya wanita adalah makhluk paling ribet sedunia. Tapi kali ini justru ia yang bersikeras ingin segera mempublish status itu. Apalagi, Ayesha bukanlah wanita yang mandiri dan tidak banyak menuntut. Ternyata pandangannya tentang sosok wanita salah besar. Sekarang, ia sangat ingin semua orang tahu kalau Ayesha adalah istrinya.


“Baiklah, jika itu yang kamu mau.” Kevin melepas genggaman tangan itu.


kebetulan lift juga sudah berhenti tepat di lantai dua.


“Mas,” panggil Ayesha lembut dengan menatap suaminya.


Kevin terdiam. Entah mengapa hatinya tiba-tiba sedikit sesak mendengar penolakan itu. sesak rasanya mendengar Ayesha yang tidak ingin statusnya terpublish. Mungkin rasa ini yang dirasakan Ayesha dulu, saat ia mengajukan perjanjian konyol itu.


“Keluarlah! Ini sudah lantai dua,” ucap Kevin tanpa ekspresi.


Ayesha hendak melangkahkan kakinya keluar, tetapi ia terus menatap sendu suaminya. Ia tahu mungkin saat ini Kevin marah atau kesal. Walau marahnya si beruang kutub ini tidak lagi disertai dengan kata-katanya yang pedas, tapi diamnya Kevin cukup membuat Ayesha mengerti.


Ayesha pun tidak jadi keluar dari lift itu, ia malah menekan tombol tutup agar lift itu kembali tertutup.


“Loh, kamu ga jadi keluar? Tadi itu udah di lantai dua.”


Ayesha menggeleng dan mendekatkan tubuhnya pada sang suami. Lalu, dengan gerakan cepat ia mencium bibir itu. Kevin dengan senang hati membalasnya. Bahkan kedua tangan Kevin langsung melingkar di pinggang Ayesha.


Dengan semangat, Kevin ******* bibir ranum itu. Ayesha yang juga merindukan ciuman sang suami pun melakukan hal yang sama, hingga akhirnya terdengar suara kecapan yang cukup menggema di ruangan yang tidak lebih dari satu setengah kali satu meter itu dalam beberapa menit.


“Mmpphh ...” lenguh Ayesha hingga tak lama kemudian, pagutan itu pun terlepas.


Kevin senang bukan kepalang mendapat perlakuan itu dari istrinya.


“Jangan marah ya!” kata Ayesha manja.


“Jadi begini caramu, kalau Mas marah?” tanya Kevin menggoda.


Ayesha nyengir. Bibir Kevin pun tersenyum lebar.


“Kalau begitu, Mas akan sering-sering ngambek.”


“Ish, jangan!” rengek Ayesha yang masih dalam pelukan suaminya.


Tring


Lift itu berhenti tepat di lantai enam.


“Gih, sana! Kamu keluar,” ucap Ayesha, meminta suaminya melepaskan pelukan itu dan keluar dari lift.


Namun, Kevin tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia masih asyik menikmati moment ini. Kevin berdiri bersandar pada dinding lift tepat di samping tombol lift itu, sementara Ayesha berdiri di depannya tanpa jarak hingga tubuh mereka pun saling menempel.


Kevin menekan tombol tutup ketika lift itu selesai terbuka. Lalu, ia menekan angka dua.


“Loh, kok turun lagi?” tanya Ayesha.


“Laki-laki yang seharusnya mengantar wanitanya.”


Ayesha pun tersenyum malu.


Sementara, di depan lift yang sempat terbuka tadi, Nindi melihat Ayesha yang berpelukan dengan CEO dingin itu.


“Itu Ayesha kan?” tanya Nindi pada dirinya sendiri. “Iya, bener. Aku ga salah liat. Ayesha sama Pak Kevin?”